Bimo Aria Fundrika | Hafsah H.
Ilustrasi Profesor (Gemini AI)
Hafsah H.

Aldi mengusap peluh di keningnya, hari sudah beranjak siang. Namun tempat persinggahan yang ia tuju masih jauh dari jangkauan.

Ia meneruskan perjalanannya sambil menjaga sekotak cairan berisi Hervosa, virus yang berada di bagian depan motornya.

Hervosa adalah salah satu cairan paling dicari dalam 10 tahun terakhir sebagai objek penelitian. Keberadaan virus ini sangat langka sekaligus mematikan.

Shurazka, daratan yang dihuni oleh manusia dengan peradaban tercanggih di bumi, menarik banyak distrik di sekitarnya untuk menaklukkan wilayah ini.

Agus—salah satu orang yang ingin merebut kekuasaan di wilayah Shurazka secara licik, memerintah Aldi yang notabene adalah muridnya yang kini berporfesi sebagai profesor untuk menyebarkan virus ini di Shurazka.

Agus telah lama mengincar teknologi di Shurazka, sehingga ia mencalonkan diri sebagai salah satu anggota dewan di sana.

Namun, keberuntungan belum memihak padanya. Ia kalah 14% suara dari Saiful, saingannya dalam pemilihan legislatif. Agus yang tidak terima akan kekalahannya ini pun nekat mengambil jalan pintas, menghancurkan kehidupan di Shurazka dengan Hervosa.

10 km lagi, Aldi hampir sampai di tujuannya, laboratorium pusat Shurazka. Lelaki itu telah menempuh bermil-mil untuk mengisolasi virus ini. Aldi ragu dengan semua tindakan yang tengah ia lakukan. Pasalnya, hati nuraninya menentang semua perbuatan gila Agus.

Namun, ia tidak sanggup untuk kehilangan pekerjaan jika menolak perintah gurunya itu. Aldi menepis semua bayangan buruk yang berkeliaran di kepala. Ia memilih menambah kecepatan guna mempersingkat waktu menuju laboratorum. Aldi sudah sangat lelah, tentu ia ingin untuk cepat sampai di tujuan.

“Akhirnya kau sampai juga, Aldi.” Suara lelaki 50 tahunan menyambut indra pendengaran Aldi begitu ia sampai.

“Aku tidak mengira Shurazka akan sejauh ini. Aku benar-benar lelah, Prof.”

Aldi menyerahkan kotak yang sedari tadi ia jaga baik-baik dalam genggamannya.

"Hervosa?” Senyum licik terbit di wajah lelaki itu.

“Seperti pesananmu, Prof.”

Setelah itu, Aldi pun pamit untuk segera beristirahat. Tugasnya untuk mengantarkan virus mematikan itu telah selesai. Kini asam laktat yang menumpuk di ototnya tidak mengijinkannya untuk berlama-lama di hadapan lelaki tua itu. Ia harus segera istirahat.

5 jam terasa begitu singkat bagi tubuh Aldi yang sangat kelelahan. Cahaya senja menyusup melalui tirai kamarnya, menghangatkan tubuhnya yang kian berpeluh.

Aldi sedang bermimpi buruk. Mimpi yang sama dalam beberapa minggu terakhir. Sebuah penyakit mematikan yang menghancurkan 80 persen kehidupan di Shurazka.

Mimpi itu terasa begitu nyata. Mayat-mayat memenuhi rongga jalan. Bau busuk nan anyir menguar memenuhi udara, sangat memabukkan, memicu isi perut siapa pun untuk keluar.

Rumah sakit tidak mampu lagi menangani pasien-pasien mereka. Seluruh kamar pasien selalu penuh, selalu ada pasien meninggal di setiap menitnya.

Seluruh kamar rumah sakit di Shurazka tidak pernah sepi pengunjung. Semua lorong dan halaman rumah sakit menjadi tempat tinggal mereka sejak wabah itu menyerang.

Aldi bangun dengan napas memburu. Jantungnya berdentam hebat. Ia begitu ketakutan. Apa benar mimpi buruknya segera menjadi nyata setelah ia membantu Profesor Agus?

Ia menghapus peluh di keningnya, lalu memijat pangkal hidungnya. Ia belum pernah setakut ini sebelumnya. Membayangkan begitu banyak mayat akibat Hervosa, sungguh di luar ekpektasi.

Ini benar-benar mengerikan. Apakah ini adalah akhir dari peradaban manusia? Aldi mengambil segelas air di atas nakasnya, berusaha menenangkan diri. Sepertinya ia harus menghentikan aksi dendam profesor sinting itu. Ia tidak ingin Agus terlambat menyesali perbuatannya.

Sore itu, Agus menyuntikkan vaksin ke tubuhnya. Pukul 9 malam, dengan mengenakan alat pelindung diri yang lengkap, perlahan ia mengeluarkan hervosa dari kotak kedap udara, membiarkan virus itu menguar bersama sapuan angin malam di depan gedung anggota dewan.

Sesuai perkiraan Aldi, Agus memang sudah gila. Kini tinggal menunggu waktu, hervosa akan menjangkit siapa pun yang menghirup udara beracun ini. Agus benar-benar ingin memusnahkan kehidupan di Shurazka, bahkan mungkin saja ia menjadi salah satu korban dari aksi gilanya sendiri. Setelah menjalankan aksinya, ia pun kembali menuju laboratoriumnya.

“Profesor Agus!” Dengan terburu-buru Aldi masuk ke laboratorium Profesornya itu.

“Aldi! Ada apa tengah malam kau terburu-buru datang ke sini?” tanyanya.

“Akhir-akhir ini aku selalu dihantui mimpi buruk, Prof. Akhir dari kehidupan Shurazka, mayat memenuhi jalan-jalan. Tidak bisakah kita berhenti, Prof? dendam tidak akan—”

“Aldi! Umurmu bahkan belum genap 26 tahun. Tau apa kau soal ini?” tantang Profesor Agus. “Aku tau kau sangat cerdas. Bahkan kau satu-satunya muridku yang memiliki kemampuan dapat mensintesis senyawa monster, ingat? Alasan kau mendapatkan gelar profesor di usimu yang sangat muda tapi, bukan berarti kau bisa mengatur gurumu, Aldi!”

Hatchi!

Satu suara bersin Agus yang tiba-tiba membuat Aldi cukup terkejut.

“Ma-maaf, Prof. Sa-saya tidak bermaksud mengatur, Prof. Hanya saja hati saya tidak tenang. Saya tidak pernah setakut ini sebelumnya, Prof. Apakah saya tega melihat kehancuran Shurazka, terlebih jika itu akibat perbuatan tangan saya, Prof.”

Nada bicara Aldi bergetar. Ia belum pernah sekalipun membatah Agus, sosok yang paling ia segani. Bahkan ketika Agus memutuskan untuk terjun ke dunia politik dengan mencalonkan diri sebagai anggota dewan, Aldi tidak berani melarangnya.

Meskipun pemuda itu tahu, kesempatan untuk menduduki jabatan pemerintahan itu berpeluang sangat kecil, Aldi tetap mendukung gurunya itu.

Agus kembali bersin. “Sudahlah. Sebaiknya kau pulang saja. Mimpi burukmu itu hanya efek dari kelelahan, Aldi.”

Agus menggosok hidungnya dengan tangan, bersin itu membuat hidungnya sedikit berair.

2 hari setelah pertemuannya dengan Agus, pagi ini Aldi terbangun dalam keadaan pusing yang luar biasa. Pandangannya berkunang, seluruh benda di hadapannya seolah berputar.

Tidak hanya itu, dadanya benar-benar sesak. Ia meraba nakas untuk meraih segelas air. Namun gelas itu justru pecah, tangannya tremor, tidak bisa menyentuh dengan benar. Aldi semakin tersiksa dengan nyeri hebat di kepalanya hingga ia jatuh pingsan.

Aldi tidak ingat kapan terakhir kali ia melihat cahaya matahari menerobos masuk tanpa permisi melalui tirai kamarnya. Hingga pagi itu, ia melihat Agus dalam balutan cahaya matahari pagi. Aldi tidak sedang bermimpi. Gurunya itu benar-benar tengah duduk di hadapannya.

“Aldi. Ah, syukurlah kau sudah sadar. Kau pingsan selama 2 hari!” Profesor Agus memekik senang melihat Aldi siuman.

“Du-dua hari? Benarkah selama itu, Prof?” tanya Aldi. Agus hanya mengangguk sebagai jawaban.

“Sepertinya kau mulai terserang virus itu, Aldi. A-aku tidak tahu bagaimana cara menghentikannya. Wabah ini sudah mulai menyerang beberapa orang di pusat distrik.”

Aldi membelalakkan mata akibat terkejut.

"Hervosa sudah menyebar, Prof?” Profesornya itu bersin beberapa kali sebelum menjawab pertanyaan Aldi.

“4 hari yang lalu, tepat setelah kau pulang malam itu.”

Aldi mengurut pelipisnya akibat pening. Ia sama sekali tidak menyangka malapetaka yang selama ini ia takutkan akan meluas secepat air mengalir.

Agus telah menyuntikkan vaksin ke dalam tubuh Aldi. Vaksin itu meringankan gejala akibat hervosa dalam 3 hari, Aldi berangsur membaik.

Kini pemuda itu tengah berada di laboratorium milik Agus. Meskipun ia belum sembuh total, ia tidak bisa hanya diam saja.

Aldi mengambil botol cokelat gelap yang bertuliskan “kloroasetofenon” dan “etanol”. Ia mencampurkan kedua cairan kimia itu dalam sebuah labu leher tiga dengan takaran yang sudah ia hapal.

Magnetic stirrer pun berputar kala labu leher tiga itu berada di atas hot plate, menghomogenkan larutan yang berada di dalamnya. Larutan bening itu perlahan berubah warna menjadi kuning saat sejumlah benzaldehida ditambahkan di dalamnya. Gas menguar dari sela-sela labu leher tiga disertai dengan kenaikan suhu.

Aldi menjaga agar suhu larutan ini tetap dibawah 5 derajat C—dengan penangas es, hingga seluruh basa yang dibutuhkan telah homogen dengan larutan dalam gelas piala itu.

Aldi berharap ramuan dewa ini dapat mengatasi hervosa. Aldi pun mulai menguji ramuannya pada hervosa dengan nanoskop mikrosfer, sebuah mikroskop yang mampu melihat virus secara visual.

Ramuan dewa yang baru saja ia sintesis mampu membunuh kristal virus di atas kaca preparat. Aldi pun tersenyum lega. Ia harus segera memberitahu Agus akan hal ini.

Suara jangkrik menyusup dalam gendang telinga, menggambarkan betapa sepinya lorong bercat dinding putih ini. Aldi menghentikan langkahnya. Ia merasa de javu dengan pemandangan yang tertangkap netranya.

Rumah sakit penuh dengan pasien. Bau obat-obatan menguar bercampur dengan bau jenazah, begitu menusuk hidung. Mayat-mayat memenuhi rongga-rongga jalan.

Aldi menggelengkan kepalanya. Tidak mungkin senyata ini. Ia baru saja keluar dari laboratoriumnya dan hendak menuju kediaman Agus. Namun mengapa mimpi buruknya seakan tervisualkan di depannya?

Kepala Aldi kembali pening. Napasnya putus-putus. Virus itu kembali menyerangnya. Sebelum tangannya kembali menjadi tremor seperti saat itu, ia mengambil ramuan dewa yang baru ia sintesis, meneguknya cepat.

Pandangannya masih berkunang, tapi perlahan ia mendapat kembali oksigennya. Jantung Aldi juga mulai berdetak teratur. Bayangan buruk itu pun menghilang dari pandangan Aldi, ia tengah berhalusinasi akibat terlalu takut.

Pemuda ini berusaha mempercepat langkahnya menuju kediaman profesornya dengan sisa kekuatan yang ia miliki. Langkah demi langkah terasa berat bagi tubuh kurusnya. Hingga akhirnya Aldi berhasil menjangkau rumah Agus.

Rumah minimalis ini begitu sepi, tidak ada tanda-tanda kehidupan di dalamnya. Setelah mengetuk pintu beberapa kali, tidak ada seorang pun yang membukakan Aldi pintu.

Aldi melirik ke samping, kendaraan Agus terparkir rapi di sana, sudah pasti si pemilik ada di dalam rumah. Ia pun memberanikan diri untuk masuk ke dalam rumah profesornya itu, waktu yang ia miliki sudah tidak banyak.

Setelah berhasil masuk ke dalam rumah, Aldi tertegun melihat profesornya itu terbujur kaku bersama istrinya. Aldi pun segera memeriksa denyut nadi dan detak jantung keduanya, nihil yang ia dapatkan. Ia telah terlambat.

Profesornya sudah lebih dulu berpulang setelah menyelesaikan dendam gilanya. Dengan setengah berlari, Aldi pun menuju rumah sakit terdekat, untuk menolong siapa saja yang mampu ia tolong.

Sayangnya, sesak di dadanya kembali menghujam, terasa begitu menyiksa. Bahkan sampai saat ini ia belum jauh dari kediaman Agus. Dan kini kepalanya berdenyut hebat. Semuanya terjadi begitu cepat hingga akhirnya pandangannya menggelap.

Semuanya telah berakhir.