M. Reza Sulaiman | Hafsah H.
Penonton konser K-POP. [Suara.com/Alfian Winanto]
Hafsah H.

Siapa yang tidak tahu K-pop? Salah satu genre musik asal Korea Selatan ini begitu dicintai dan digilai berbagai lapisan usia di seluruh dunia. Bahkan, baik perempuan maupun laki-laki, saat ini semuanya juga terpapar Korean Wave.

Melalui musik, semua orang seolah bersatu untuk bernyanyi dan menari bersama walau terhalang kendala bahasa. Kisah yang relevan maupun konsep yang artistik biasanya menjadi daya tarik tersendiri. Apalagi, K-pop juga biasanya dipadukan dengan visual yang memanjakan mata.

Namun, di balik segala keindahannya, saat ini banyak orang yang menggunakan K-pop untuk merundung (bully) seseorang. Awalnya, sekelompok orang dengan minat yang sama akan bergabung dalam fandom tertentu, menikmati musik, dan mendukung idola secara bersama-sama.

Namun, tanpa disadari, sebagian orang lupa akan kesenangan ini dan mulai merundung orang lain. Bahkan, war antarfandom juga sering terjadi karena satu sama lain merasa lebih keren atau lebih baik secara peringkat.

Tidak ada yang salah dengan K-pop-nya. Namun, perbedaan selera biasanya menjadi salah satu bahan olok-olok. Padahal, walau sama-sama K-pop, masing-masing sudah memiliki pasarnya sendiri. Ada yang lebih suka musik easy listening, ada yang lebih suka performance, tetapi ada juga yang suka dengan gaya swag.

Tidak ada yang salah dengan selera. Yang salah adalah merundung selera orang lain dan merasa lebih tinggi. Padahal, musik sengaja diciptakan beragam untuk menjangkau berbagai pasar.

Personel NCT Dream beraksi dalam acara Allo Bank Festival di Istora Senayan, Jakarta, Jumat (20/5/2022). [ANTARA FOTO/Asprilla Dwi Adha/foc]

Begitu pun dengan prestasi. Masing-masing artis tentu memiliki prestasinya sendiri, baik dalam segi fisik maupun digital, baik grup maupun solois. Semuanya memiliki penilaian sendiri. Terlebih, selain di Korea Selatan sebagai negara asalnya, musik mereka juga bersaing secara global melalui berbagai platform sehingga penilaiannya menjadi lebih beragam lagi.

Mirisnya, ternyata tidak hanya remaja yang suka saling merundung di media sosial perkara K-pop, orang dewasa pun melakukannya. Hal ini tentu merusak citra para K-poper yang murni hanya menikmati musik. Bahkan, sebagian orang sampai menyembunyikan jati dirinya sebagai penggemar karena takut dirundung. Selain antarpenggemar, saling ejek secara verbal ini juga terjadi antara pencinta K-pop dan orang yang tidak menyukainya.

Sekilas mungkin tampak remeh, tetapi sama seperti jenis perundungan yang lain, perundungan berkedok musik ini juga bisa mengganggu orang lain. Seseorang bisa merasa rendah diri, trauma, hingga depresi karena serangan cyberbullying.

Musik yang seharusnya menyatukan banyak orang itu pun terkadang tidak lagi menyenangkan. Bahkan bisa dibilang melelahkan karena banyak akun bodong yang sibuk bertengkar atau mengadu domba.

Oleh karenanya, kita perlu tahu batasan dan menjaga diri agar tetap bisa menikmati musik dan hobi secara sehat. Sebab, perundungan bisa terjadi pada siapa saja, baik anak-anak maupun orang dewasa, laki-laki maupun perempuan.