Bimo Aria Fundrika | Siska Febrianti
Seorang wanita berdiri ditepi pantai sambil melihat senja
Siska Febrianti

Ada hari-hari ketika suara pintu yang dibanting terdengar lebih keras daripada doa yang semestinya mengisi ruangan.

“Ayah lelah,” kata seseorang waktu itu.

“Ibu juga,” sahut yang lain.

“Sudahlah, jangan dibesarkan,” lanjut suara yang sama, seolah semua harus selesai di sana.

Namun kata-kata tak pernah benar-benar selesai.

“Kamu bilang ini bukan masalah besar?” suara ayah meninggi.

“Aku seharian kerja, bukan keluyuran seperti yang kamu pikirkan,” sahut ibu.

“Kerja apa kalau pergi pagi dan pulang larut malam begini? Bukan sekali, tapi berkali-kali.”

“Bahkan mengurus rumah dan anak pun kamu tidak becus.”

Aku mendengar semuanya dari balik diamku. Dadaku penuh, tapi lidahku kelu. Aku belajar bahwa perasaan adalah beban yang harus disimpan sendiri.

Bertahun-tahun kemudian, di ujung senja yang tenang, aku berdiri sendiri. Cahaya terakhir menyentuh wajahku, dan untuk pertama kalinya aku mengerti bahwa aku tidak bisa memilih rumah tempatku tumbuh, tapi aku bisa memilih bagaimana caraku berdamai. Di ujung senja itu, aku menerima. Dan penerimaan itu membuatku tetap berdiri.

Aku berdiri lebih lama di sana, membiarkan senja benar-benar habis. Angin membawa pulang suara-suara lama, tapi kali ini tidak lagi melukai. Aku tahu, luka itu akan selalu ada sebagai bagian dari diriku, namun ia tidak lagi memegang kendali.

Aku berhenti menyalahkan diriku atas pecah yang bukan pilihanku. Aku berhenti berharap masa lalu berubah, dan mulai memberi ruang bagi diriku hari ini.

Di ujung senja itu, aku belajar memeluk anak kecil dalam diriku yang dulu diam karena takut, yang dulu kuat karena terpaksa.

Aku berjanji padanya untuk tidak lagi meninggalkannya sendirian. Saat malam datang, aku melangkah pergi dengan langkah yang lebih tenang. Aku tidak sepenuhnya sembuh, tapi aku utuh. Dan untuk pertama kalinya, itu cukup.

Di ujung senja itu, aku menatap langit yang perlahan memudar. Angin membawa ingatan lama kembali. Aku teringat kata-kata mereka, tapi kali ini aku tidak terguncang. Aku berbicara, meski suara itu hampir seperti bisikan.

“Ayah… aku sudah dewasa sekarang,” kataku, menahan napas.

Ayah menoleh, wajahnya kaget dan sunyi.

“Kau… kau baik-baik saja?” tanyanya, ragu.

“Iya,” jawabku pelan. “Aku belajar menerima. Aku tidak bisa mengubah masa lalu, tapi aku bisa memilih hari ini.”

Ibu muncul di samping kami, matanya basah, tapi senyum tipis muncul.

“Kamu… sudah bisa berdamai?” tanyanya, hampir tak percaya.

“Aku bisa,” kataku. “Dan aku ingin kalian tahu… aku tidak marah lagi. Aku hanya ingin kita semua, setidaknya, saling mengerti.”

Ayah dan ibu terdiam. Tidak ada kata-kata lagi yang perlu diucapkan. Hanya senja yang menenangkan, dan aku berdiri di sana, untuk pertama kalinya merasa utuh.

Aku menunduk sejenak, menatap tangan sendiri yang dulu selalu mengepal menahan rasa takut.

“Dulu aku selalu merasa harus kuat sendiri,” aku bilang pada diri sendiri, suara hampir hilang di angin senja.

Ayah menghela napas panjang.

“Kami… tidak pernah tahu seberapa berat bebanmu,” katanya, lirih.

Aku menatap ibu. Matanya masih menatapku dengan haru, tapi kali ini bukan kemarahan.

“Kamu terlalu cepat dewasa,” katanya pelan.

“Aku tidak memilih cepat dewasa,” jawabku.

“Aku hanya belajar bertahan. Tapi sekarang, aku belajar menerima. Aku bisa berdiri tanpa harus menahan semua sendirian.”

Sunyi sejenak, hanya suara daun bergesek dan cahaya senja yang menipis.
Ayah mengangguk, seolah baru menyadari sesuatu.

“Maafkan kami,” katanya akhirnya.

Aku tersenyum, sederhana. “Aku sudah memaafkan. Bukan karena kalian sempurna,

tapi karena aku ingin berdamai dengan diriku sendiri.”

Di ujung senja itu, aku menutup mata sejenak, membiarkan angin membawa pergi kepedihan yang lama tersimpan. Aku tidak lagi anak yang diam di sudut, aku seorang perempuan yang berdiri, utuh meski retak. Aku tidak bisa mengubah rumah itu, tapi aku bisa memilih bagaimana aku hidup dari sini.

Aku membuka mata. Langit menguning terakhir, dan untuk pertama kalinya, aku benar-benar merasa… aku tidak hanya bertahan. Aku tumbuh.

Aku menunduk, tangan mengepal seperti dulu saat aku takut, saat kata-kata mereka seperti hujan tajam yang menembus dada.

“Dulu aku selalu merasa harus kuat sendiri,” aku bisikkan pada diriku sendiri.

“Kenapa kamu tidak bilang apa yang kamu rasakan?” suara ayah terdengar samar, seperti dari masa lain.

Aku terkejut, tapi hatiku mengerti. “Karena dulu aku takut, Ayah. Aku takut kalau aku lemah, tidak ada yang akan menolongku.”

Ibu menatapku dari sisi lain senja. “Kami tidak pernah tahu seberapa beratmu.”

“Dan sekarang?” tanyaku, nyaris tersenyum.

“Sekarang, aku bisa berdamai,” jawabku.

“Aku tidak lagi anak yang harus diam. Aku seorang perempuan yang bisa menerima bukan menyalahkan, tapi memahami.”

Mereka diam. Aku tahu permintaan maaf mereka tidak sempurna, dan aku tidak butuh itu. Yang kuinginkan hanyalah menerima, menerima masa lalu, menerima mereka, dan terutama menerima diriku sendiri.

Angin senja mengibarkan jilbabku, menyejukkan dada yang lama penuh beban. Aku menutup mata sejenak. Semua suara keras, semua pintu yang dibanting, semua kata yang menusuk mereka menjadi bagian dari diriku, bukan musuhku.

“Terima kasih telah bertahan, Nak,” kata ayah pelan, kali ini bukan menyalahkan.
Aku tersenyum, untuk pertama kalinya utuh.

“Aku bertahan… dan aku tumbuh.”

Cahaya senja terakhir menyentuh wajahku. Di ujung senja itu, aku berdiri. Utuh, meski retak. Tidak lagi takut. Tidak lagi menahan diri sendiri. Aku menerima, dan itu membuatku kuat.