Di tengah gaya hidup konsumtif generasi muda, pilihan antara membeli gawai terbaru atau menyiapkan cadangan finansial semakin relevan. Salah satu opsi yang kembali dilirik adalah investasi emas.
Dulu dianggap kuno, emas kini dipandang sebagai aset safe haven di tengah ketidakpastian ekonomi global karena nilainya relatif stabil dan cenderung naik saat aset lain melemah. Namun, investasi emas tetap membutuhkan strategi agar tidak merugi.
1. Lupakan Perhiasan, Fokus ke Logam Mulia
Banyak orang yang salah kaprah mengira kalau beli kalung atau cincin emas itu sama dengan investasi. Ini salah besar! Kalau kamu beli perhiasan, kamu akan terkena biaya pembuatan yang cukup mahal. Jadi nanti ketika dijual kembali, biaya itu hangus dan harganya dipotong lagi karena ada penyusutan.
Untuk investasi, sebaiknya beli emas Batangan atau logam mulia di official store atau butik emas terpercaya. Dijamin pasti harganya murni mengikuti harga pasar tanpa embel-embel biaya lainnya.
2. Wajib Cek Keaslian!
Pastikan kamu membeli emas yang memiliki sertifikat resmi, seperti ANTAM atau UBS. Jangan mudah tergiur harga murah di toko yang nggak jelas. Sekarang bisa cek lebih gampang kok. Caranya bisa lewat aplikasi scan QR code di kemasannya. Kalau nggak ada sertifikatnya, mending mundur saja daripada uangmu melayang sia-sia.
3. Lebih Besar Gramnya, Lebih “Cuan” Investasinya
Kalau kamu pengin beli emas dan punya dana lebih, mending beli emas dengan gramasi yang lebih besar sekalian (misalnya langsung 5 atau 10 gram) daripada beli 0,5 gram berkali-kali. Ini karena setiap keping emas itu punya biaya cetaknya masing-masing. Semakin kecil gramnya, maka proporsi biaya cetaknya jadi terasa lebih mahal. Kalau gramasinya besar, sama aja kaya kamu dapat harga “grosir” yang lebih efisien.
4. Emas Digital? Pastikan Ada Izin OJK!
Takut hilang kalau simpan emas dalam bentuk fisik? Emas digital bisa jadi solusi buat kamu yang gampang panik. Lewat emas digital, kamu bisa mulai dari Rp 10.000 saja. Tapi jangan lupa tetap pastikan platform atau aplikasi yang kamu pakai itu terpercaya dan diawasi oleh OJK atau Bappebti. Jangan sampai malah jadi investasi bodong dan kehilangan uang berjuta-juta karena mudah percaya.
5. Jangan Buru-Buru Jual Emasmu!
Emas itu punya selisih harga jual dan harga beli. Jadi kalau kamu beli sekarang terus dijual bulan depan, kemungkinan besar kamu malah rugi karena harganya belum naik. Jangan samakan dengan filter Instagram yang sekali klik langsung cantik. Beli emas ibarat kita pakai skincare yang nggak bisa langsung glowing dalam semalam, tapi kalau kamu telaten bertahun-tahun, hasilnya bakal awet muda dan bikin tenang di masa depan.
Jadi, golden rule-nya simpan emas minimal 3 hingga 5 tahun baru dijual jika ingin.
Mumpung pengeluaran belum terlalu banyak, mulailah investasi selagi masih muda. Emas memang nggak bisa bikin “mendadak kaya”, tapi emas bisa jaga kamu biar nggak jatuh kalau perekonomian lagi sulit.
Baca Juga
-
Mengenal Mere-Exposure Effect: Saat Algoritma Diam-Diam Membentuk Selera Musikmu
-
Banjir Air Mata: Kisah Haru di Kolom Komentar Ada Titik-titik di Ujung Doa
-
Social Battery Habis Saat Lebaran? Ini Tips Survive Ala Introvert
-
Gen Z dan Milenial Tinggalkan Gengsi Baju Baru Saat Lebaran, Utamakan Kondisi Dompet
-
Mau Mudik Tapi Takut Boros? Simak Tutorial Mudik Seru Tanpa Bikin Dompet Boncos
Artikel Terkait
News
-
ASN Jawa Timur Resmi WFH Setiap Hari Rabu, Kenapa Pilih di Tengah Pekan Ya?
-
Makna Daun Palma dalam Minggu Palma, Simbol Iman dan Pengorbanan
-
Sarung Tangan Plastik Makan: Higienitas, Efisiensi, atau Limbah Baru?
-
Cara Cepat Berhenti Capek Mental: Setop Beri Ekspektasi Tinggi ke Orang Lain
-
Nostalgia Orde Baru: Mengenang Masa Ketika TVRI Jadi Satu-Satunya Jendela Piala Dunia
Terkini
-
Cerita dari Desa Majona
-
Urban Loneliness: Kesepian yang Mengintai Pekerja di Kota Besar
-
Vibes Lebih Seram dan Gelap, Wednesday Season 2 Bongkar Rahasia Willow Hill & Burung Gagak Pembunuh
-
Drama Sprint Race MotoGP Amerika 2026: Jorge Martin Taklukkan Austin, Marquez dan Diggia Tergelincir
-
Dikatakan Atau Tidak Dikatakan itu Tetap Cinta: Memahami Rasa Lewat Sajak Tere Liye