Matahari pagi itu bersinar lembut, seolah ikut merayakan angka tujuh yang tersemat pada usia pernikahannya. Bagi Sasha, hari ini sangatlah spesial.
Sejak suami dan anak semata wayang mereka berangkat menuju kesibukan masing-masing, Sasha tidak membiarkan satu detik pun terbuang sia-sia.
Setelah beberapa jam berkutat di dapur, aroma rempah rendang yang kuat pun mulai memenuhi setiap sudut ruanhan, sebuah hidangan yang selalu menjadi permintaan khusus Rio setiap kali mereka merayakan sesuatu. Di sisi lain meja, ada sebuah kue tart berhias krim strawberry merah muda.
Dengan tangan sedikit gemetar karena antusias, Sasha menuliskan kalimat di atasnya: “Seven Years and Forever to Go.” Sebuah janji yang ia yakini akan terjaga hingga rambut mereka memutih.
Menjelang siang, semua persiapannya tuntas. Sasha membersihkan diri dan memilih dress terbaiknya—sepotong gaun berwarna biru langit.
Warna itu adalah favorit Rio, warna yang menurut suaminya selalu membuat Sasha tampak setenang cakrawala. Setelah memastikan penampilannya sempurna di depan cermin, Sasha bergegas menuju toko furnitur keluarga mereka.
Ia membawa sebuah kotak hantaran besar yang beratnya tak sebanding dengan debar bahagia di dadanya. Ia ingin memberikan kejutan bagi suaminya. Biasanya, ia selalu mengabari jika akan datang. Tapi kali ini tidak.
Toko furnitur milik keluarga mereka tampak ramai saat Sasha tiba. Beberapa staf sibuk melayani pelanggan di lantai satu, ia pun langsung masuk tanpa melapor ke resepsionis. Benar-benar sebuah kejutan.
Ia ingin langsung menuju lantai dua, ke ruang kantor pribadi Rio. Bayangan wajah terkejut sekaligus bahagia suaminya sudah menari-nari di benaknya.
Namun, tepat saat ia mencapai bordes tangga terakhir, langkahnya terhenti. Sebuah suara memecah keheningan koridor lantai dua yang biasanya kaku.
Itu suara tawa. Bukan tawa berat Rio yang selama ini menenangkannya, melainkan tawa genit seorang wanita yang sangat ia kenal.
Pintu ruang kerja Rio tidak tertutup rapat, menyisakan celah kecil yang menjadi gerbang menuju neraka bagi Sasha. Dengan napas tertahan, ia mengintip ke dalam.
Di sana, di atas meja kerja yang dulu mereka pilih bersama sebagai simbol kemapanan keluarga mereka, sebuah pengkhianatan sedang dipertontonkan. Rio tengah memadu kasih dengan Lina, karyawan kepercayaan yang selama ini sudah Sasha anggap seperti adik sendiri.
Dunia seolah berhenti berputar. Oksigen di sekitar Sasha mendadak hilang, menyisakan ruang hampa yang menghimpit paru-parunya. Cairan bening lolos begitu saja dari pelupuk matanya, terasa panas dan menyakitkan saat membasahi pipi. Genggaman tangannya pada kotak hantaran melemah drastis.
Prang!
Kotak berisi kue strawberry dan rendang itu menghantam lantai, hancur berantakan. Krim putih dan merah muda berbaur dengan lantai yang dingin, sehancur harga diri dan hati Sasha saat itu juga. Rio dan Lina pun sontak menoleh.
“Sha, aku bisa jelasin! Ini... ini nggak seperti yang kamu lihat!” teriak Rio gagap.
Wajahnya berubah pucat pasi, seketika kehilangan rona saat melihat sosok istrinya berdiri gemetar dengan air mata yang membanjir.
Sasha tidak sanggup mengeluarkan satu patah kata pun. Lidahnya kelu, tenggorokannya terasa seperti disumpal duri.
Ia melihat suaminya panik merapikan pakaian. Tanpa sepatah kata, Sasha berbalik. Ia berlari menuruni tangga, mengabaikan teriakan Rio yang memanggil namanya dengan nada penuh ketakutan.
Setiap langkah Sasha terasa berat, seolah bumi sedang menariknya jatuh. Ia berlari keluar dari toko, menembus teriknya matahari dan keramaian jalan raya tanpa arah tujuan.
Pikirannya kosong, hanya ada gema tawa Lina dan wajah Rio yang mengkhianatinya. Pengkhianatan itu terasa lebih tajam dan dingin daripada sembilu mana pun yang pernah ia rasakan.
“Sasha, berhenti! Dengerin aku dulu!” Rio terus mengejar di belakangnya, berusaha meraih tangan istrinya yang sudah kehilangan kendali atas dirinya sendiri.
Sasha tidak mendengar. Yang ia dengar hanyalah detak jantungnya yang patah menjadi kepingan-kepingan tajam. Ia menyeberang jalan tanpa menoleh, matanya kabur oleh air mata yang tak kunjung berhenti.
Hingga tiba-tiba, bunyi decit ban yang beradu dengan aspal membelah udara dengan kasar. Suara benturan keras menyusul, memekakkan telinga siapa pun yang berada di sana. Tubuh mungil berbalut dress biru langit itu terpental ke udara sebelum akhirnya terhempas ke aspal yang panas.
“SHA!!!”
Rio berteriak histeris, menyibak kerumunan orang yang mulai berkumpul. Langkahnya goyah, kakinya terasa seperti jeli saat melihat sosok yang tadi pagi masih mencium tangannya kini tergeletak tak berdaya. Darah segar mengalir dari kepala Sasha, mengotori aspal dan membasahi gaun biru favoritnya.
Rio jatuh bersimpuh, merengkuh tubuh Sasha yang mulai mendingin ke dalam pelukannya.
“Sha, maafin aku... Tolong bangun, Sha! Liat aku!” isaknya pecah, meraung di tengah kebisingan kota yang mendadak terasa senyap baginya.
Namun, mata yang biasanya menatapnya penuh pemujaan dan cinta selama tujuh tahun itu kini terpejam rapat, membawa pergi seluruh warna dari hidup Rio.
Di hari jadi mereka yang ketujuh, kejutan yang disiapkan Sasha memang sampai ke tangan Rio. Namun bukan dalam bentuk hidangan lezat atau kasih sayang, melainkan dalam bentuk penyesalan abadi yang akan menghantui setiap napas Rio hingga akhir hayatnya.
Baca Juga
Artikel Terkait
Cerita-fiksi
Terkini
-
ATEEZ Bakar 'Adrenaline' Lewat Penampilan Penuh Energi di Lagu Terbaru
-
Oppo Find X9s Usung Chipset Dimensity 9500s dan Kamera 200 MP, Segera Rilis dalam Waktu Dekat
-
5 Drama Korea Genre Misteri Tayang Februari 2026, Ada Bloody Flower
-
Eksodus Pemain Naturalisasi ke Liga Indonesia: Konspirasi di Balik Target Juara Piala AFF 2026?
-
Gara-Gara Telat Ngopi, Aku Terjebak Caffeine Withdrawal Syndrome