Butuh kesabaran ekstra untuk menuntaskan sebuah narasi yang melintasi bentangan tiga generasi. Novel Para Priyayi karya Umar Kayam bukanlah bacaan yang bisa dilahap dalam sekali duduk. Membacanya serupa menelusuri lorong waktu yang bergerak lambat, mulai dari masa penjajahan Belanda, pendudukan Jepang, hingga pergolakan Orde Lama dan Orde Baru.
Namun, di balik tempo yang tenang dan diksi bahasa Jawa yang pekat, tersimpan sebuah mahakarya tentang perjuangan kaum bawah dalam memperbaiki nasib dan martabat.
Sinopsis: Sastrodarsono dan Dinasti di Jalan Setenan
Kisah ini berfokus pada Wanagalih, sebuah daerah di Jawa Timur yang menjadi saksi lahirnya "dinasti" baru di kalangan priyayi. Tokoh utamanya, Soedarsono (kemudian bergelar Sastrodarsono), adalah anak tunggal seorang petani yang berhasil mengubah garis hidupnya dengan menjadi guru bantu. Pada masa itu, profesi guru adalah capaian prestisius, sebuah pintu emas untuk meningkatkan status menjadi priyayi. Sastrodarsono dikenal sebagai "Sang Pemula", sosok yang membuka jalan bagi keturunannya untuk meraih kehormatan dan kenyamanan kelas menengah.
Namun, keberhasilan ini tidak datang tanpa ujian. Sastrodarsono mendirikan rumah besar di Jalan Setenan yang menjadi tumpuan bagi anak dan kerabatnya untuk mengenyam pendidikan. Konflik mulai meruncing ketika keponakannya, Soenandar, berperilaku menyimpang dan menghamili seorang gadis desa bernama Ngadiyem. Pelarian Soenandar ke dunia hitam hingga kematiannya yang tragis sebagai perampok meninggalkan luka sekaligus rahasia besar: seorang anak bernama Wage alias Lantip.
Lantip tumbuh dengan memikul stigma sebagai anak seorang kriminal. Namun, melalui karakter inilah Umar Kayam menyampaikan filosofi yang dalam. Saat anak-cucu sah Sastrodarsono mulai terjerat perselingkuhan, intrik politik PKI, dan kemunduran moral, Lantip justru muncul sebagai "pahlawan" sunyi yang mempertahankan kehormatan keluarga besar Setenan.
Reinterpretasi Makna Kepriyayian
Membaca Para Priyayi memberikan perspektif baru mengenai tatanan sosial di Jawa. Umar Kayam sangat piawai menggunakan teknik penceritaan yang berpindah-pindah sudut pandang orang pertama di setiap babnya. Hal ini membuat pembaca terus terjaga rasa penasarannya hingga menemukan konklusi yang mengejutkan.
Aspek paling memukau dari novel ini adalah dekonstruksi makna "priyayi". Jika di awal kita mengira kepriyayian berkaitan erat dengan kedudukan dan gaya hidup, di akhir cerita kita disadarkan bahwa kepriyayian yang sejati terletak pada pengabdian. Lantip, yang secara biologis bukanlah "anak resmi" dan hanya putra seorang penjual tempe, ternyata memiliki jiwa priyayi yang jauh lebih tulus dibanding keturunan sah Sastrodarsono. Ia menjadi tumpuan saat pilar-pilar keluarga besar itu mulai runtuh.
Novel ini juga menyuguhkan potret sejarah yang autentik. Kita diajak melihat bagaimana pergantian kekuasaan memaksa setiap individu untuk terus beradaptasi. Ada harga mahal yang harus dibayar, termasuk hilangnya nyawa dan integritas di tengah ketegangan politik yang mencekam, seperti peristiwa Madiun 1948 dan G30S/PKI.
Kekurangan dan Kesimpulan
Meskipun seratus halaman pertama terasa berat karena diksi yang tidak lazim bagi pembaca awam, kesabaran Anda akan terbayar lunas. Para Priyayi mengingatkan saya pada karya Sidney Sheldon atau Pearl S. Buck tentang dinasti keluarga, namun dalam balutan lokalitas yang sangat kental. Sebagai karya anak bangsa, novel ini sangat layak menyandang status legenda sastra Indonesia.
Pohon nangka di Jalan Setenan mungkin telah tua dan tumbang, menandai berakhirnya era Sastrodarsono, namun nilai-nilai tentang ketulusan pengabdian yang ditinggalkan akan terus relevan. Sebuah karya yang sangat layak diadaptasi ke layar lebar agar generasi masa depan dapat menghayati liku-liku keluarga ini dalam dimensi visual. Jika menyenangkan, sebarkan; jika tidak, beri tahu!
Identitas Buku:
- Judul: Para Priyayi: Sebuah Novel
- Penulis: Umar Kayam
- Penerbit: Pustaka Utama Grafiti
- Tahun Terbit: 1991 (pertama kali)
- Tebal Buku: vi, 337 hlm.
- Dimensi: 21 cm
- ISBN: 978-979-444-186-2
- Genre: Fiksi, Novel Sosial-Budaya Jawa
Baca Juga
-
Analisis Karakter Animal Farm: Saat Babi Berkuasa dan Relevansinya dengan Politik Modern
-
Yang Terlupakan dan Dilupakan, Upaya Melawan Sunyi dalam Sejarah Perempuan
-
Review Buku Kumpulan Budak Setan: Horor Klasik Ala Penulis Kontemporer
-
Ketika Menjadi Manusia Terasa Begitu Melelahkan, Review Novel 'Ningen Shikkaku' Osamu Dazai
-
Kerumunan Terakhir: Ketika Harga Diri Runtuh di Hadapan Penghakiman Netizen
Artikel Terkait
-
Analisis Karakter Animal Farm: Saat Babi Berkuasa dan Relevansinya dengan Politik Modern
-
Review Novel Perfect Illusion: Saat Cinta Menjadi Bayangan Semu
-
Yang Terlupakan dan Dilupakan, Upaya Melawan Sunyi dalam Sejarah Perempuan
-
Bulan Bolong dan Awal Mula Saya Jatuh Cinta pada Fiksi
-
Novel Hardem Rhapsody, Dilema Kelas dan Warna Kulit dalam Dinamika Sosial
Ulasan
-
Analisis Karakter Animal Farm: Saat Babi Berkuasa dan Relevansinya dengan Politik Modern
-
Review Novel Perfect Illusion: Saat Cinta Menjadi Bayangan Semu
-
Refleksi Prapaskah: Menyelami Arti Kekudusan dari The Hole in Our Holiness
-
Film Papa Zola The Movie: Tawa Absurd dengan Sentuhan Realita
-
Duet Calming Barsena dan Nyoman Paul di Lagu 'Ruang Baru', Vibesnya Mahal!
Terkini
-
Sejarah dan Asal-usul Nama Salat Tarawih dalam Islam
-
The Power of Gardening: Cara Ampuh Menghilangkan Stres dengan Berkebun
-
YouTube Lumpuh Tiba-Tiba: Sejenak Merasa Dunia Tanpa Algoritma
-
4 Serum Korea Hyaluronic Acid dan Panthenol, Andalan Skin Barrier Sehat
-
Angpao Imlek Bingung Buat Apa? Ini 3 Rekomendasi Jam Tangan Casio di Bawah Rp500 Ribu