Langit sore itu berwarna kelabu ketika Aluna menerima panggilan telepon dari nomor tak dikenal. Ia sedang duduk di sudut kamarnya yang sempit, ditemani secangkir cokelat hangat dan laptop yang menampilkan halaman kosong, halaman yang sudah berjam-jam ia tatap tanpa tahu harus menulis apa.
“Halo, apa benar ini Aluna, putri Bu Ratih?” terdengar suara perempuan paruh baya memanggil namanya.
Suara itu terdengar familiar, tapi juga tak benar-benar dia ingat. “Benar, Bu. Maaf, ini dengan Ibu siapa, ya?”
“Ya Allah, Nduk Luna. Ini Bu Siti, tetanggamu. Ibumu meninggal. Pulanglah, Nduk.”
Aluna mematung. Tatapannya kosong seolah menolak percaya kabar yang baru saja ia dengar. Terdengar isakan kecil di balik telepon yang masih menyala. Dengan sedikit terbata, Bu Siti melanjutkan, “Bu Ratih selalu menunggumu, Luna. Pulanglah dan lihat ibumu untuk terakhir kalinya.”
Dunia Aluna seolah terhenti. Hubungannya dengan sang ibu tak terlalu baik, tapi … mengapa rasanya sesakit ini saat mendengar kabar itu?
Sudah tiga tahun sejak terakhir kali Aluna berbicara dengan ibunya tanpa meninggikan suara. Sudah tiga tahun pula sejak ia memilih pergi meninggalkan rumah kecil mereka di pinggiran kota, membawa serta luka yang belum benar-benar sembuh. Dia pergi dengan amarah yang menggunung, dengan keyakinan bahwa dunia di luar sana akan lebih ramah daripada rumah yang terasa sempit dan penuh tuntutan.
Akan tetapi, Aluna lupa. Dunia tak pernah sesederhana itu. Di kota besar, dia hidup serba pas-pasan. Bekerja sebagai penulis lepas yang penghasilannya tak menentu. Pagi hingga malam ia habiskan untuk menulis artikel, cerpen, puisi, novel, dan terkadang juga mengedit naskah orang lain.
Dulu ia merasa keputusannya sudah tepat. Menjauh sejenak demi menyembuhkan mentalnya yang terlalu lama mendengar kata-kata toxic dan berbagai tuntutan untuk menjadi anak yang lebih dari saudara-saudaranya. Itu pulalah yang akhirnya membuatnya berani mengambil keputusan besar untuk pertama kali dalam hidupnya. Pergi. Hidup di antara orang asing yang tidak mengenal dirinya, hanya tahu bahwa ia gadis yang berusaha bertahan hidup dan mencari peruntungan di kota lain.
Namun, ketika kabar itu datang, Aluna tahu ia tak bisa lagi bersembunyi di balik kesibukan atau gengsi. Beruntungnya, tiket kereta menuju kampung halamannya masih tersisa. Cepat-cepat Aluna berkemas sekadarnya, hanya membawa barang-barang yang sekiranya penting saja. Toh, setelah ini, ia tidak berniat menetap di rumah lama yang menyimpan terlalu banyak kenangan pahit itu.
Kurang dari setengah jam kemudian, Aluna sudah berada di kereta. Perjalanan pulang untuk pertama kalinya terasa begitu panjang. Perempuan dua puluh lima tahun itu menyandarkan tubuhnya. Matanya awas menatap setiap lampu-lampu jalan yang terlewati dengan cepat. Tatap sayu itu semakin berkaca-kaca. Jendela kereta yang memantulkan cahaya lampu jalan seolah turut pula membawa serta puing-puing kenangan tentang ibunya.
Seorang wanita yang dengan tubuh kurusnya selalu bangun paling pagi untuk menyiapkan sarapan, meletakkan seragam sekolahnya di barisan paling atas agar mudah diambil, menggenggam jemari mungilnya saat mengantar ke sekolah dasar dengan jalan kaki, menggendongnya saat sakit dan berjalan puluhan kilometer demi kesembuhan putri kecilnya.
Air mata Aluna turun semakin deras. Ibunya yang keras kepala dan seringkali melontarkan kalimat-kalimat tajam itu … adalah sosok yang selalu memastikan ada makanan di dapur. Tak pernah membiarkan anak-anaknya kelaparan, meski keadaannya sendiri sangat kesusahan.
Di tengah isaknya, ia merasakan seseorang memegang sisi bahunya yang bergetar. Tangis Aluna semakin menjadi saat melihat seorang wanita paruh baya di kursi sebelah mengusap bahunya lembut sembari menyodorkan sekotak tissue tanpa bertanya apapun. Perlahan, wanita itu mendekati Aluna. Memberikan pelukan hangat layaknya seorang ibu hingga tangisnya mereda.
Setelah perjalanan panjang yang terasa begitu lambat, Aluna akhirnya tiba di stasiun tujuan. Ia berpamitan pada wanita yang sempat memeluknya sembari mengucapkan terimakasih. Lima belas menit kemudian, Aluna sudah berdiri di depan rumah yang bentuknya masih melekat erat dalam ingatan.
Rumah itu tak banyak berubah. Cat temboknya semakin pudar, pagar besinya berderit saat didorong. Aroma tanah basah bercampur bau kayu tua menyambutnya seperti masa lalu yang menolak dilupakan.
Tetangga sebelah menyambutnya dengan pelukan canggung.
“Ibumu sempat menyebut namamu beberapa kali, Nduk.” ujar Bu Siti pelan. “Tapi …, mungkin sudah takdir.”
Aluna hanya mengangguk. Di dalam rumah, suasana terasa hening dengan cara yang menyakitkan. Di ruang tamu, foto ayahnya yang telah lama meninggal masih tergantung rapi. Beberapa orang berlalu lalang menyiapkan acara pengajian malam nanti. Ada saudara-saudaranya juga adik-adik ibunya yang datang membantu.
Ia berjalan masuk kamar lamanya. Di meja kecil dekat jendela, ada benda yang membuat langkah Aluna terhenti. Sebuah tape recorder lama. Aluna mengenal benda itu. Itu milik ayahnya. Dulu ayahnya sering merekam suara Aluna kecil yang sedang membaca puisi atau bernyanyi sumbang. Setelah ayah meninggal, benda itu tak pernah lagi disentuh sampai sekarang. Di sampingnya, ada secarik kertas dengan tulisan tangan ibunya.
Untuk Putri Kecilku, Aluna. Jika suatu hari kamu pulang.
Tangan Aluna gemetar saat mengambil tape recorder itu. Ia duduk di kursi kayu, menarik napas panjang, lalu menekan tombol play. Suara berdesis memenuhi ruangan sebelum akhirnya terdengar suara yang sangat ia kenal.
“Aluna …,”
Suara ibunya. “Kalau kamu mendengar ini, mungkin Ibu sudah tak sempat berbicara langsung padamu.” Aluna menutup mulutnya, menahan isak yang nyaris pecah.
“Maaf, Ibu memang tidak pernah pandai mengungkapkan perasaan. Sejak ayahmu pergi, Ibu hanya tahu satu cara mencintai: memastikan kamu kuat. Mungkin cara Ibu salah dan terlalu keras untukmu. Tapi …, Ibu selalu ingin yang terbaik untuk anak-anak Ibu.”
Rekaman itu terhenti sejenak, seolah ibunya sedang menarik napas.
“Ibu sering melihatmu menangis diam-diam di kamar. Ibu tahu kamu lelah. Kamu kecewa dan kesal dengan perlakuan Ibu yang terkesan buruk padamu.”
Air mata Aluna jatuh tanpa bisa dicegah.
“Ibu minta maaf kalau selama ini kamu merasa tidak pernah cukup. Padahal bagi Ibu, kamu selalu lebih dari cukup.”
Kata-kata itu menghantamnya lebih keras daripada teriakan mana pun yang pernah mereka lontarkan satu sama lain.
“Ibu bangga padamu. Meski kamu memilih jalan yang berbeda dari yang Ibu bayangkan. Ibu bangga karena kamu berani pergi mengejar mimpimu.”
Aluna teringat hari ketika ia mengemasi barang-barangnya. Ibunya berdiri di ambang pintu, wajahnya datar, hanya berkata, “Kalau itu maumu, lakukan.”
Tak ada pelukan. Tak ada restu yang terdengar jelas. Tapi mungkin, dalam diam, restu itu selalu ada.
“Kalau suatu hari kamu merasa dunia terlalu berat, ingatlah bahwa rumah ini selalu tempatmu kembali. Ibu mungkin tak lagi ada, tapi doa Ibu akan selalu mengikutimu.”
Rekaman kembali berdesis, lalu suara ibunya terdengar lebih pelan. “Ibu mencintaimu, Aluna. Maaf karena tidak pernah bisa mengatakannya secara langsung.”
Klik.
Rekaman berhenti. Ruangan kembali sunyi, tapi kali ini kesunyian itu terasa penuh. Aluna memeluk tape recorder itu seperti memeluk ibunya untuk pertama dan terakhir kalinya.
Malam itu, Aluna tidur di kamar lamanya. Dindingnya masih dipenuhi tempelan kertas berisi kutipan dan puisi yang pernah ia tulis saat remaja. Ia membaca satu per satu, tersenyum getir melihat betapa lugu dan rapuhnya ia dulu.
Ia sadar, selama ini ia terlalu sibuk mengingat semua kata-kata ibunya yang menyakitkan, sampai lupa pada semua hal kecil yang menunjukkan cinta.
Ibunya memang tak pernah mengatakan “Aku sayang kamu” setiap hari. Tapi ibunya selalu menyisihkan uang untuk membelikannya buku. Selalu duduk menunggunya pulang saat ia lembur di sekolah. Selalu mematikan lampu kamar setelah memastikan Aluna benar-benar tertidur.
Aluna sadar. Cinta tak selalu hadir dalam bentuk yang lembut. Kadang ia datang sebagai kekhawatiran yang dibungkus kemarahan.
***
Beberapa hari setelah pemakaman, Aluna memutuskan tinggal lebih lama di rumah itu. Ia membersihkan lemari, merapikan dokumen, dan menemukan banyak hal yang tak pernah ia ketahui.
Di dalam sebuah kotak, ia menemukan map berisi kliping tulisan-tulisannya yang pernah dimuat di media online. Semua dicetak rapi, disimpan dengan hati-hati.
Di halaman pertama, ada catatan kecil.
Tulisan Aluna pertama yang dimuat. Ibu baca tiga kali.
Air mata kembali mengaburkan pandangannya.
Ibunya yang selalu ia anggap tak mendukung mimpinya, ternyata diam-diam mengikuti setiap langkahnya.
Malam itu, Aluna kembali memutar rekaman tersebut. Ia mendengarnya berulang-ulang, seolah takut suara itu akan memudar jika tak segera dihafal.
Setiap kali mendengar kalimat, “Ibu bangga padamu,” ada sesuatu dalam dirinya yang perlahan sembuh.
Seminggu kemudian, Aluna duduk di meja makan dengan laptop terbuka. Untuk pertama kalinya setelah sekian lama, halaman kosong di layar itu tak lagi terasa menakutkan. Ia mulai mengetik.
Suara Terakhir Ibu
Ia menulis tentang seorang anak perempuan yang terlalu lama menyimpan amarah. Tentang seorang ibu yang terlalu kaku untuk mengungkapkan cinta. Tentang kata maaf yang datang terlambat, tapi tetap menyembuhkan.
Ia menulis dengan air mata yang sesekali jatuh ke keyboard, tapi kali ini bukan karena putus asa. Ia menulis dengan rasa lega. Setiap kalimat terasa seperti jembatan yang menghubungkan masa lalu dan masa kini. Di tengah penulisan, ia berhenti sejenak dan menatap tape recorder di meja. Benda itu kini tak lagi sekadar alat pemutar suara. Ia menjadi saksi bahwa cinta bisa tersembunyi dalam diam, menunggu waktu yang tepat untuk didengar.
Aluna menyadari satu hal penting: rekaman terakhir itu bukan akhir dari segalanya. Itu adalah awal dari cara pandang yang baru. Ia tak bisa mengubah masa lalu. Tak bisa kembali dan meminta pelukan yang tak sempat terjadi. Tapi ia bisa memilih untuk memaafkan ibunya, dan juga dirinya sendiri.
Beberapa bulan kemudian, cerpennya dimuat di salah satu media besar. Banyak pembaca yang meninggalkan komentar, mengatakan bahwa mereka menangis, bahwa mereka teringat pada orang tua mereka sendiri, bahwa mereka ingin pulang dan memeluk ibu mereka selagi masih sempat.
Aluna membaca setiap komentar dengan hati bergetar. Ia berdiri di teras rumah sore itu, memandangi langit yang berwarna jingga. Angin membawa aroma tanah dan dedaunan, persis seperti masa kecilnya.
“Ibu,” bisiknya pelan, “aku sudah mendengar rekaman itu. Aku juga menulisnya dalam salah satu karyaku.”
Untuk pertama kalinya, ia mengucapkan sesuatu yang dulu terasa berat. “Aku juga mencintaimu.”
Tak ada jawaban selain hembusan angin. Tapi kali ini, ia tak merasa sendirian. Tape recorder itu kini ia simpan di rak buku, berdampingan dengan naskah-naskahnya. Ia tak lagi memutarnya setiap malam. Ia tak perlu. Suara itu sudah menetap di dalam dirinya.
Rekaman terakhir itu mungkin adalah pesan perpisahan. Namun bagi Aluna, itu adalah pengingat bahwa cinta, betapapun canggung dan terlambatnya, selalu layak untuk didengar. Dan kadang, untuk benar-benar mendengarnya, kita harus berani pulang.
Baca Juga
Artikel Terkait
Cerita-fiksi
Terkini
-
Review Film Sengkolo Malam Satu Suro: Horor Atmosferik Tanpa Jumpscare Berlebih
-
Premier League: Mikel Arteta Ungkap Frustasi Arsenal usai Dijegal Wolves
-
Meski Berakhir Ricuh, Sudah Sepatutnya Persepakbolaan Indonesia Berterima Kasih kepada Persib
-
THR, Gengsi, dan Sunyi yang Terlupakan di Hari Raya
-
Drama China Shine on Me: Berjalan Beriringan Bersama Orang yang Tepat