"Ibu, apakah kurma punya tulang? Kenapa perutku rasanya seperti ditusuk tulang?"
Suara si bungsu, Aris, memecah keheningan rumah kontrakan kami yang atapnya mulai menangis karena hujan Februari. Aku terdiam, jemariku yang pecah-pecah karena mencuci baju tetangga sejak subuh hanya mampu mengusap rambutnya yang kusam. Di meja kayu yang goyang, empat buah gelas plastik berisi air putih adalah satu-satunya hidangan berbuka untuk keempat anakku di hari pertama Ramadan 2026 ini.
Aku, Rahma, seorang janda dengan empat nyawa yang bergantung pada punggungku yang kian membungkuk. Tahun ini adalah tahun yang kejam. Harga beras melonjak karena bertepatan dengan libur panjang Imlek dan Valentine. Bagi dunia, ini pesta. Bagiku, ini bencana ekonomi.
"Ibu, di sekolah tadi, teman-temanku bicara soal cokelat Valentine yang manis. Apakah cokelat itu bisa membuat kenyang sampai sahur?" tanya si sulung, Maya, yang matanya tampak cekung menahan lapar.
Aku tersenyum pahit. "Cokelat itu manis di lidah, Maya. Tapi sabar itu manis di hadapan Allah. Minumlah airmu, Nak. Itu air dari sumur kejujuran."
Pukul 18.15, tepat saat azan Magrib baru saja usai dan kami baru mereguk air putih, pintu rumah kami digedor kasar.
"Rahma! Keluar! Bayar kontrakan atau angkat kaki malam ini juga!" suara Pak Haji menderu di depan pintu.
Aku gemetar. Uang tabunganku baru saja habis untuk membeli obat asma anak keduaku, Fajar. Aku membuka pintu, bersimpuh di kaki pria yang baru saja pulang dari masjid itu.
"Tolong, Pak Haji. Ini malam pertama puasa. Beri kami waktu tiga hari..."
"Tiga hari?! Di luar sana orang merayakan Imlek dengan mewah, orang beli bunga mawar mahal-mahal, dan kamu mau tinggal gratis di sini? Keluar!"
Di tengah teriakan itu, Fajar tiba-tiba sesak napas. Tubuhnya membiru di atas lantai semen. Suasana berubah menjadi neraka. Pak Haji tertegun, amarahnya sedikit surut berganti bingung. Namun, sebelum ia sempat bereaksi, seorang pria berpakaian merah naga khas Imlek berhenti di depan rumah kami. Ia adalah Koh Alun, pemilik toko kelontong di ujung gang yang sering aku cuci bajunya.
"Ada apa ini? Ribut-ribut di jam berbuka?" tanya Koh Alun.
Pak Haji mendengus, "Biasa, Koh. Urusan sewa."
Koh Alun melihat Fajar yang megap-megap dan melihat meja makan kami yang hanya berisi gelas-gelas kosong. Tanpa sepatah kata, ia memberikan sebuah bungkusan besar kepada Maya.
"Ini ada sisa kue keranjang, cokelat, dan... ini ada beras lima kilo. Tadi ada yang batal beli di toko saya," kata Koh Alun berbohong. Aku tahu itu bukan sisa. Itu stok dagangannya.
"Tapi Koh, kami tidak bisa bayar," bisikku lirih.
Koh Alun menatap Pak Haji, lalu menatapku. "Tuhan saya bilang, kalau tetangga lapar, itu penghinaan bagi ibadah saya. Pak Haji, berapa sewa rumah ini sebulan? Saya yang bayar malam ini. Anggap saja ini angpao untuk anak-anak."
Duniaku serasa berhenti berputar. Pak Haji yang tadinya garang mendadak bungkam, wajahnya berubah merah padam—entah karena malu atau malu hati.
Namun, drama belum usai. Saat Koh Alun hendak pergi, Fajar yang mulai pulih setelah menghirup obat dari puskesmas, menarik baju Koh Alun.
"Paman, kenapa Paman baik sekali? Padahal Ibu bilang kita beda doa?"
Koh Alun berlutut, mensejajarkan wajahnya dengan Fajar. "Nak, Ramadan itu bukan soal apa yang kamu makan, tapi soal bagaimana kamu memperlakukan orang yang tidak bisa makan. Doa kita mungkin beda, tapi Tuhan kita sama-sama benci melihat piring yang kosong."
Malam itu, kami benar-benar makan. Ada nasi, ada sedikit kue keranjang yang sangat manis, dan ada cokelat Valentine yang dibagi rata untuk empat orang. Tapi saat aku hendak mengambil gelas kelima untuk diriku sendiri, aku menemukan sebuah rahasia yang disimpan anak-anakku.
Di bawah meja, ada sebuah celengan plastik yang pecah. Di dalamnya ada beberapa keping uang koin dan secarik kertas lusuh dengan tulisan tangan keempat anakku: "Untuk Ibu. Supaya Ibu bisa beli jilbab baru buat lebaran. Jangan nangis lagi ya, Bu. Kami kuat puasa walau cuma minum air."
Tangisku pecah sehebat-hebatnya di malam itu. Bukan karena lapar, bukan karena diusir, tapi karena menyadari bahwa aku memiliki empat malaikat yang justru lebih dulu "berpuasa" dari segala keinginan duniawi demi kebahagiaanku.
Pukul 03.00, waktu sahur tiba. Tiba-tiba pintu kembali diketuk. Aku takut itu Pak Haji yang berubah pikiran. Tapi saat kubuka, tidak ada siapa-siapa. Hanya ada sebuah kotak kayu besar di depan pintu.
Di atas kotak itu ada tulisan: "Rahasia dari Hamba Allah."
Isinya? Sejumlah uang tunai yang cukup untuk modal usaha, sepaket obat asma untuk satu tahun, dan sebuah surat wasiat pendek yang membuat jantungku copot.
"Rahma, aku adalah pria yang menabrak suamimu sepuluh tahun lalu. Aku melarikan diri karena takut. Tapi melihat ketulusanmu dan anak-anakmu malam ini dari balik jendela, aku sadar: nerakaku sudah dimulai sejak hari itu, dan aku ingin menebusnya sekarang. Jangan cari aku, aku sudah menyerahkan diri ke kantor polisi setelah meletakkan kotak ini."
Aku jatuh terduduk. Ramadhan 2026 ini bukan hanya membawa pertemuan, tapi membawa pengakuan yang selama ini terpendam dalam gelapnya rahasia.
Siapa pria itu? Kenapa ia baru muncul sekarang? Dan yang paling menyesakkan, kenapa uang di dalam kotak itu jumlahnya sama persis dengan total seluruh cucian baju yang pernah kulakukan selama sepuluh tahun ini?
Baca Juga
-
Kursi Kosong dan Rekonsiliasi
-
Mie Ayam, Bukti Cinta Ibu untuk Anak di Perantauan: Jangan Lupa Makan, Nak!
-
Ramadan Tanpa Distraksi, Waktunya Puasa dari Gadget!
-
Menyaring Konten, Menanamkan Nilai: Panduan Mendidik Anak di Era Digital
-
Kupas Film Bagheera: Perjuangan Sang Penegak Keadilan Melawan Korupsi
Artikel Terkait
-
5 Rekomendasi Takjil Buka Puasa Selain Gorengan, Perut Tak Gampang Begah
-
Keajaiban Ramadan dan Kasih Allah
-
Kawan Lama Ayahmu: Wajah Suram Australia di Era Kolonial
-
9 Rekomendasi Minuman Takjil Buka Puasa yang Segarkan Tenggorokan, Bisa Bikin di Rumah
-
7 Ide Jualan Minuman Buka Puasa yang Kekinian, Modal Kecil tapi Laris Manis
Cerita-fiksi
Terkini
-
Stoikisme di Bulan Puasa: Mengatur Hasrat, Menjaga Akal Sehat
-
Gula: Dari Simbol Kebahagiaan Menuju Penanda Kelas Sosial di Era Modern
-
Kawan Lama Ayahmu: Wajah Suram Australia di Era Kolonial
-
Mengelola Euforia Ramadan: Antara Tradisi Bising Petasan dan Keselamatan Anak
-
4 Serum Korea Diperkaya Galactomyces Atasi Kulit Bertekstur dan Kusam