Masjid Al-Ikhlas berdiri paling megah di sudut jalan utama. Kubahnya besar, lampunya terang, pengeras suaranya jernih. Setiap Ramadan, parkirannya penuh oleh mobil-mobil tua dan motor bebek yang tersusun rapi. Saf depan selalu dipenuhi lelaki berkopiah putih dan baju koko longgar. Suara salam mereka berat dan mantap.
Yang jarang terlihat adalah sepatu sneakers. Panitia masjid sering mengeluh setelah tarawih usai.
“Anak muda sekarang susah diajak ke masjid.”
“Mungkin kalah sama gadget.”
“Kurang iman.”
Kalimat-kalimat itu diucapkan sambil menyeruput teh hangat di serambi, dengan nada prihatin sekaligus menyalahkan.
Padahal, beberapa meter dari masjid itu, di sebuah kafe kecil bernama Titik Temu, belasan anak muda duduk melingkar hampir setiap malam Ramadan. Mereka bukan sedang nongkrong kosong. Di atas meja ada mushaf kecil, catatan, dan gelas kopi yang mulai dingin.
Mereka berdiskusi tentang overthinking, cemas menghadapi masa depan, toxic relationship hingga bagaimana rasanya ingin taat tapi juga takut gagal dan mereka melakukannya tanpa mikrofon.
Ari pertama kali mencoba menjembatani dua dunia itu. Mahasiswa semester akhir, aktif di kampus, dan cukup dikenal di lingkungan remaja sekitar masjid. Ia tumbuh di Al-Ikhlas, belajar iqra di sana, pernah jadi muazin cilik. Suatu sore sebelum Ramadan, ia datang ke rapat panitia.
“Pak, gimana kalau tahun ini kita bikin satu sesi khusus anak muda?” katanya hati-hati. “Bahas soal kesehatan mental dalam Islam. Atau soal karier dan tekanan hidup.”
Beberapa panitia saling pandang.
“Kesehatan mental?” ulang Pak Haji Idris, ketua takmir. “Maksudnya stres?”
“Iya, Pak. Banyak teman-teman yang cemas, burnout, bingung arah hidup. Mungkin bisa dikaitkan dengan sabar, tawakal, tapi dengan bahasa yang mereka pahami.”
Pak Haji tersenyum tipis. “Kalau iman kuat, mental juga kuat, Nak.”
Ari menelan ludah. “Iya, Pak. Tapi kadang orang butuh ruang cerita juga.”
Seorang panitia lain menyela, “Jangan terlalu ikut-ikutan istilah Barat. Nanti jadi liberal.”
Ari terdiam. Kata itu terasa berat, padahal ia hanya ingin masjid terasa seperti rumah.
Ramadan pun tiba. Kajian demi kajian digelar. Tema-temanya tidak jauh dari tahun-tahun sebelumnya keutamaan puasa, dahsyatnya sedekah, ancaman bagi yang meninggalkan salat. Isinya benar. Dalilnya kuat.
Namun setiap kali sesi tanya jawab dibuka, yang bertanya orang-orang yang sama. Anak muda jarang mengangkat tangan. Bukan karena tak punya pertanyaan, tapi karena tak yakin pertanyaannya akan diterima.
Suatu malam, seorang remaja bernama Nisa memberanikan diri.
“Ustadz,” katanya dengan suara pelan, “bagaimana kalau kita merasa capek beribadah karena banyak tekanan hidup? Kadang ingin dekat sama Allah, tapi juga lagi down banget.”
Ruang kajian hening sejenak.
Ustadz menjawab dengan tegas, “Jangan jadikan perasaan sebagai alasan. Ibadah itu kewajiban, bukan menunggu mood.”
Beberapa jamaah mengangguk mantap, Nisa menunduk. Ia tidak bertanya lagi.
Di luar masjid, ia menarik napas panjang. Ari menyusulnya.
“Gapapa?” tanya Ari.
Nisa tersenyum hambar. “Mungkin aku kurang iman.”
Ari ingin membantah, tapi tak tahu bagaimana.
Malam-malam berikutnya, Ari mulai jarang melihat wajah-wajah muda di shaf belakang. Mereka tetap berpuasa, tetap salat, tapi memilih melakukannya di rumah atau tempat lain. Sebagian datang ke Titik Temu setelah tarawih.
Di sana, tak ada ceramah satu arah. Mereka membaca satu ayat, lalu saling bertanya, “Menurutmu ini relate nggak sama hidup kita sekarang?”
Kadang mereka tertawa. Kadang ada yang menangis pelan. Tak ada yang menuduh. Tak ada yang langsung menghakimi.
Ironisnya, diskusi kecil itu terasa lebih hidup daripada aula besar masjid. Sementara itu, di serambi Al-Ikhlas, keluhan makin sering terdengar.
“Remaja sekarang lebih pilih kopi daripada masjid.”
“Zaman sudah rusak.”
Suatu malam, listrik masjid sempat padam sesaat sebelum tarawih. Genset menyala terlambat. Jamaah yang sudah sepuh tetap duduk tenang. Tapi beberapa anak muda yang baru datang memilih pulang.
“Lihat kan, mereka saja gak sabaran, pantas saja imannya kurang.” gumam seorang panitia.
Padahal mungkin mereka hanya merasa tak punya alasan cukup kuat untuk bertahan. Puncaknya terjadi pada malam ke-21 Ramadan. Ari dan beberapa teman kembali mengajukan ide. Kali ini lebih konkret.
“Kami siap jadi panitia kecil, Kami bisa undang pembicara yang paham isu anak muda. Bukan untuk mengganti, tapi melengkapi.” Kata Ari
Pak Haji Idris terlihat ragu.
“Materinya apa saja?”
“Relasi yang sehat dalam Islam. Tekanan karier. Cara menghadapi kecemasan tanpa merasa berdosa.”
Salah satu panitia langsung mengernyit. “Jangan sampai jadi ajang curhat nggak jelas. Ini pengajian bukan talkshow hiburan.”
“Justru supaya mereka nggak curhat di tempat yang salah, Pak,” jawab Ari pelan.
Ruang rapat terasa kaku.
Akhirnya keputusan keluar ditunda. “Kita fokus program yang sudah ada dulu.”
Ditunda, yang dalam bahasa takmir sering berarti tidak. Ari pulang malam itu dengan perasaan campur aduk. Ia tidak marah, hanya lelah.
Di depan masjid, ia melihat poster besar bertuliskan “Mari Makmurkan Masjid dengan Generasi Muda.”
Ia tersenyum pahit. Malam ke-27 tiba. Masjid penuh seperti biasa. Doa dipanjatkan panjang, suara imam bergetar. Namun di shaf-shaf belakang, ruang kosong tampak jelas.
Di Titik Temu, lampu masih menyala. Belasan anak muda duduk melingkar. Kali ini mereka membahas satu ayat tentang rahmat.
“Menurutku, rahmat itu juga berarti didengar.” Kata seorang wanita
Ari mengangguk. “Dan dipahami.”
Mereka tak merasa sedang menyaingi masjid. Mereka hanya mencari ruang bernapas. Sementara itu, setelah witir, Pak Haji Idris berdiri di mimbar kecil.
“Kenapa anak muda jarang terlihat?” tanyanya dengan nada sedih. “Padahal masjid ini milik kita bersama.”
Tak ada yang menjawab.
Malam itu, untuk pertama kalinya, Pak Haji memperhatikan betul saf belakang yang kosong. Ia teringat cucunya sendiri yang lebih sering di kamar daripada di masjid. Mungkin bukan karena malas, pikirnya. Mungkin karena tidak merasa dimengerti.
Beberapa hari setelah Idulfitri, sesuatu yang tak biasa terjadi. Di papan pengumuman masjid terpasang selebaran baru, “Forum Remaja Al-Ikhlas Ngobrol Santai Ramadan & Kehidupan. Semua pertanyaan diterima. Tak ada kata “liberal”. Tak ada label aneh-aneh hanya kalimat sederhana.
Pertemuan pertama diadakan sore hari. Tidak di aula utama, tapi di ruang serbaguna kecil. Ari datang dengan perasaan campur aduk. Ia tak yakin siapa yang akan hadir. Ketika masuk, ia tertegun. Di barisan depan duduk Pak Haji Idris.
“Bapak mau ikut, Pak?” tanya Ari canggung.
Pak Haji tersenyum. “Bapak mau belajar bahasa kalian.”
Kalimat itu sederhana, tapi seperti membuka jendela. Diskusi sore itu tidak sempurna. Masih ada perbedaan pendapat.
Masih ada kecanggungan. Namun untuk pertama kalinya, anak muda berbicara tanpa takut dicap, dan orang tua mendengar tanpa langsung menghakimi.
Masjid itu belum sepenuhnya berubah. Tapi ia mulai mendengar dan mungkin, kehilangan terbesar bukanlah ketika anak muda tidak datang. Melainkan ketika mereka datang, lalu tidak merasa pulang.
Ramadan tahun itu mengajarkan satu hal yang tak tertulis di spanduk mana pun, dakwah bukan hanya soal isi, tapi cara menyapa dan agar masjid tetap hidup, ia harus berani belajar bahasa zaman tanpa kehilangan ruhnya.
Baca Juga
Artikel Terkait
Cerita-fiksi
Terkini
-
Film Taneuh Kalaknat: Suguhkan Horor Found-Footage ala YouTuber
-
Cari HP Performa Paling Kencang? Ini 6 Rilisan Smartphone Terbaru 2026
-
Self Healing: Menyembuhkan Luka Masa Kecil dan Belajar Menerima Diri
-
Stop Jadi Polisi Bacaan: Buku Fiksi dan Non-Fiksi Sama-Sama Bikin Kamu Lebih Manusia
-
4 Serum Korea Kojic Acid untuk Kulit Glowing, Bebas Hiperpigmentasi dan PIH