Februari tahun ini ganjil. Ia membawa napas yang tertahan. Di jalan-jalan, aroma kue keranjang berbaur dengan wangi dupa, lalu tertutup aroma parfum orang-orang yang bergegas ke masjid. Sementara itu, di sudut gereja, abu disiapkan. Imlek, Ramadan, dan Prapaskah memutuskan untuk bertemu, seolah-olah mereka sadar bahwa manusia sedang lelah bertengkar dan butuh jeda untuk berperang, terutama melawan diri sendiri.
Malam merambat pelan di atas atap seng indekos. Suara dengung orang-orang mengaji terdengar seperti radio rusak yang disetel pelan, bersahutan dari tiga musala berbeda. Ini bulan puasa, bulan yang menurut orang-orang adalah bulan baik. Bulan ketika semua orang berpura-pura menjadi malaikat, atau setidaknya, berusaha keras membuang ekor setan dari balik punggung mereka. Bulan ketika semua orang berpura-pura menjadi suci, atau setidaknya, berusaha keras untuk suci.
Di minggu pertama Ramadan, suara knalpot dan klakson sedikit meredam. Orang-orang berbondong-bondong merapat ke masjid. Sarung dilemparkan ke bahu, peci bertengger miring, dan langkah kaki bergegas, seolah-olah jika terlambat sedikit saja, surga akan menutup pintunya. Tarawih, kata mereka.
Aku duduk di teras, memandangi lampu-lampu lampion yang meredup, berganti suara azan magrib dari pengeras suara masjid. Segera kuteguk segelas air putih sebagai obat dahaga. Ramadan di kota ini bukan sekadar menahan lapar, pikirku. Ramadan adalah medan laga. Perang yang sesungguhnya. Senjatanya bukan parang atau senapan serbu, melainkan kehendak. Medan laganya? Di dalam diri sendiri.
Jalanan kampung dipenuhi orang yang melangkah menuju masjid. Sarung bermotif kotak-kotak dan wangi parfum beradu dengan aroma masakan berbuka yang masih tersisa di kerongkongan. Aku melihat Pak RT memimpin jalan dengan wajah yang teduh; mungkin teduh karena lapar, atau mungkin benar-benar teduh.
Di belakang Pak RT, berbondong-bondong orang berbagi makanan: kue-kue tradisional, kolak, dan kurma, yang katanya adalah bentuk perbuatan baik. Seseorang juga membagikan takjil dalam bungkusan plastik bening berisi es sirup merah jambu. Orang-orang bersorak, “Bulan baik! Bulan baik!”
Kemarin, di jalanan, aku melihat perkelahian diam-diam. Seorang pengendara motor nyaris bersenggolan, matanya melotot, dan mulutnya sudah komat-kamit ingin merapalkan mantra "kebun binatang", tetapi kemudian ia berhenti. Ia menghela napas. Medan laga. Hawa nafsu amarah sedang ditikam.
Di gang sempit, seseorang, sebut saja namanya Roni, melewatkan kesempatan judi bola. Ia menatap layar HP-nya; ada taruhan besar yang bisa membuat cicilan motornya lunas. Ia gemetar. Itu adalah perang.
"Cuma sekali ini, kan bulan baik," bisik iblis.
Roni menutup aplikasinya. Ia membuang jauh-jauh perbuatan bohong itu. Ia memenangkan perang, setidaknya untuk malam ini.
"Kenapa tidak ke masjid, Dul?" tanya Iwan, tetanggaku, yang lewat dengan peci miring.
"Sedang beres-beres," jawabku pendek. Beres-beres apa? Beres-beres hati.
Iwan tersenyum lalu berlalu. Aku tahu dia sedang berusaha keras tidak berbohong bulan ini. Bulan kemarin, aku mendengar dia berbohong kepada istrinya tentang uang belanja yang ternyata habis dipakai judi taruhan bola. Namun, sekarang? Dia membawa bungkusan nasi kotak, mungkin sedekah dari kantornya.
Bulan puasa bagiku bukan sekadar menahan lapar dari subuh hingga magrib. Itu terlalu mudah. Puasa adalah peperangan, medan laga hawa nafsu diri sendiri. Di dalam tubuh ini ada perang yang lebih dahsyat daripada perang perebutan wilayah. Ada satu sisi hatiku yang ingin menyalakan rokok di siang bolong, dan sisi lain yang berteriak, "Tahan, Bodoh! Bulan ini suci!"
Aku teringat percakapan di warung kopi dua hari lalu. Orang-orang membicarakan taruhan judi daring, berbohong soal utang, dan menyembunyikan selingkuhan. Lalu, saat beduk magrib berbunyi, mereka pura-pura menjadi malaikat.
"Bulan puasa ini bulan baik," kata seseorang. "Berbuatlah yang baik."
"Baik yang bagaimana?" tanyaku saat itu, tetapi tidak ada yang menjawab.
Malam semakin larut. Tarawih selesai. Suara tawa orang-orang yang pulang terdengar riuh. Mereka merasa sudah memenangkan laga. Aku bangkit, lalu masuk ke dalam kamar. Suasananya hening, kontras dengan keriuhan di luar. Di sinilah, di medan laga yang sesungguhnya, aku harus berani membuang perbuatan bohong. Buang! Ambil rasa bohong itu, taruh di pojok hati, lalu kunci. Judi? Taruhan? Itu sampah.
"Aku dan kamu harus dekat," bisikku pada diri sendiri. Aku dan jiwaku yang sering bertengkar.
Ramadan, menurut puisi tua yang kubaca sore tadi, adalah waktu ketika aku dan kamu—siapa pun kamu, pembaca—harus dekat kepada Tuhan. Bukan sekadar tarawih yang meriah, melainkan detak jantung yang berzikir. Mengaji, salat malam, berbagi, dan bertindak baik.
Malam semakin larut. Dari jendela, kulihat lampion di depan rumah tetangga sebelah yang merayakan Imlek berayun pelan tertiup angin. Sebelum menutup jendela, aku melihat ke langit. Tidak ada bintang, hanya polusi kota. Namun, aku tahu di dalam diri Roni, di dalam diri orang-orang yang berdesakan di masjid, ada pertempuran yang lebih dahsyat daripada perang saudara.
Medan laga hawa nafsu tidak pernah tidur, apalagi di bulan puasa. Ia mengintai di antara tumpukan gorengan berbuka, di balik kata bohong yang hampir terucap, dan di dalam taruhan-taruhan kecil yang dianggap remeh.
Kepada Tuhan, aku harus dekat. Aku membuka sajadah. Tidak ada orang di sini. Tidak ada Pak RT, tidak ada pula Iwan. Hanya aku, Tuhan, dan sunyi. Bertindak baik, mengaji, dan salat malam bukan lagi pencitraan. Itu kebutuhan, seperti bernapas, seperti butuh air saat tercekik.
Di bulan puasa ini, aku tidak sedang berlagak menjadi orang baik. Aku sedang bertarung. Perang melawan diriku sendiri yang paling lihai berbohong. Aku menyentuh dahi ke lantai, membiarkan sujud membawa pergi kotoran-kotoran hawa nafsu.
Medan laga hawa nafsu diri sendiri, itulah puasa. Jika aku menang hari ini, aku belum tentu menang besok. Namun, malam ini aku berjanji: tidak ada bohong, tidak ada taruhan. Hanya aku dan Tuhan, bertindak baik, diam-diam, di penghujung Ramadan.
Tag
Baca Juga
Artikel Terkait
Cerita-fiksi
Terkini
-
5 Rekomendasi Ngabuburit, Isi Aktivitas Produktif Jelang Buka Puasa
-
Tayang 14 Maret, Ini Jajaran Pemain Drama Korea Thriller Medis Doctor Shin
-
Kritik Buka Puasa Mewah: Menghapus Sekat Antara Wagyu dan Nasi Bungkus
-
7 Smartphone Mini Paling Gahar di 2026, Pilih Mana?
-
Imbas Polemik Dwi Sasetyaningtyas, LPDP Sebut 600 Awardee Tengah Diselidiki