"Sepertinya, Kak Lita naksir aku, Fris.”
Aku nyaris menyemburkan minuman saat mendengar penuturan tak berdosa Adrian. Dengan mata bak lemur dan wajah tegas, bocah ini justru tersenyum-senyum sendiri bak orang gila.
“Kamu makai ya?” sergapku frontal. “Atau overdosis obat?”
Ekspresi Adrian berubah menjadi tidak percaya, sebelum berdecak malas. “Mulutmu!”
Aku tertawa. “Habisnya kamu mirip orang gila. Nggak ada angin nggak ada hujan, tiba-tiba bicara melantur. Mana bawa-bawa Kak Lita lagi!”
Kak Lita sendiri adalah kakak kelas XI A4, yang juga menjadi senior di ekstrakulikuler Palang Merah Remaja dimana aku dan Adrian juga bergabung. Sosoknya manis, dengan gigi gingsul dan suara lantang, terutama saat mencegat anggota PMR yang mencoba mangkir dari jadwal ekskul.
“Aku serius. Kak Lita itu naksir sama aku.”
“Iya, terserah,” kataku masih tidak percaya. “Kalau kamu yang ngomong, aku oke saja.”
Memang kuakui, secara look, Adrian memang menawan. Dengan badan tinggi tegap, tulang wajah tegas, dan karisma yang berbeda dari siswa-siswa lain. Sorot matanya cenderung seperti lemur, walau di beberapa momen malah berubah mirip dengan husky atau serigala. Adrian juga memiliki senyum yang manis, ehem.
Sedangkan menelisik background, dia adalah putra sulung salah satu anggota batalyon, yang disiplin. Dia memiliki nilai yang bagus di akademis, dan catatan terbaik di bidang olahraga. Gaya push up, lari, bahkan renangnya pun sudah mirip tentara.
Oke, satu detil kecil lagi soal Adrian adalah bahwa dia memiliki tulisan tangan paling rapi di antara jajaran siswa laki-laki. Walau kadang dia malas menulis materi sih.
“Kubilangi kok nggak percaya sih! Dua hari yang lalu, Kak Lita itu chat sendiri kalau dia sayang sama aku,” katanya kemudian.
“Terus?” Aku cukup penasaran dengan bagaimana cara Kak Lita menyampaikan perasaannya pada Adrian. “Kamu balas sayang juga?”
“Nggaklah, ngawur aja!” Adrian kemudian celingak-celinguk sebelum mengecilkan volume suaranya. “Lewat chat itu, Kak Lita bilang kalau dia sayang dan mengagumi aku banget. Dia sudah lama menyimpan perasaan itu, tapi ternyata nggak bisa ditahan lagi.”
“Terus kamu terima nggak?”
Entah kenapa sudut hatiku sedikit sakit. Namun, aku terlalu kepo untuk nggak mendengar lanjutan ceritanya.
“Kubalaslah chat itu, kubilang kalau aku mau fokus sekolah dulu. Toh kita masih sama-sama SMA, perjalanan masih jauh.”
“Bijaksana,” komentarku seraya bertepuk tangan sekali. “Eh tapi Kak Lita jadi sakit hati nggak ya kamu tolak begitu?”
“Nggak tahu sih, Fris. Tapi, dia bilang kalau dia memang ingin ngomongin rasanya ke aku, tanpa harapan diterima. Tapi, dia jadi nggak segalak biasanya kalau kita bolos ekskul.”
Kupikir, Adrian menolak Kak Lita bukan semata-mata karena ingin fokus sekolah sih. Mungkin karena sebenarnya dia ada hati yang lain, yakni Bianca.
Jujur saja, aku sebal sendiri saat harus mendengar curhatan berbagai pihak begini. Di satu sisi, Adrian kerap bercerita hal-hal yang seharusnya rahasia, seperti Kak Lita yang mengungkapkan perasaannya. Di sisi lain, Kak Lita mulai mendekat dan berbicara beberapa hal tentang Adrian.
Hingga kenaikan kelas, kulihat Adrian kian lengket dengan Bianca. Baguslah, setidaknya rumor yang mengatakan aku merebutnya sudah agak mereda. Kami kemudian menjadi asing, haha. Sebenarnya demi menghindari rumor yang kian memanas sih. Dan ya, interaksi kami lenyap seakan kedekatan sebelumnya nggak pernah ada.
Lalu, di suatu hari pada saat istirahat kedua, Adrian berlari tergopoh-gopoh mencariku. Dengan mata siaga, dia berlari mendekatiku.
“Fris, Friska!”
“Kenapa?” tanyaku heran. Adrian kelihatan panik. “Ada apa, Dri?”
“Kak Lita!”
Mataku melotot, dan kulebarkan telingaku segera. Sebelum memintanya untuk tenang, dan segera bercerita. “Kenapa sama Kak Lita?”
“Tadi, kami berpapasan di kantin. Dan aku dibelikan jus sama Kak Lita,” ungkap Adrian sambil menunjukkan satu cup jus berwarna cerah. “Ini jus wortel campur tomat.”
“Uhm, terus?” tanyaku lagi. “Kak Lita nggak bilang apa-apa?”
Adrian menggeleng. “Katanya, jus ini untukku.” Dia lantas terdiam, dengan sorot mata panik. “Ini harus kuapakan, Fris?”
Aku bingung. Maksudku, kenapa Adrian justru melaporkan hal beginian? Perkara jus?
“Coba minum dulu deh, Dri. Kalau kamu oke dengan rasanya, ya habisin. Hitung-hitung itu rejeki dari Tuhan.” Namun, saat masih kudapati sorot mata panik dan khawatir Adrian, aku kemudian menambahkan, “...tapi, kalau nggak oke rasanya, bungkus kresek hitam terus buang yang jauh.”
“Berarti ini boleh kuminum?” tanya Adrian lagi.
Aku mengangguk. Selama beberapa menit kami berhadapan dan aku mengawasinya yang mulai meminum jus tersebut. Ada kernyitan di dahi Adrian, kemudian diikuti senyum kecil.
“Rasanya aneh, tapi enak sih,” komentarnya.
Aku menaikkan alis guna meledeknya. “Yasudah habiskan. Jus dari Kak Lita, lho…”
Kami kemudian tertawa bersama, sebelum Adrian melesat keluar kelas seperti bocah kecil yang kegirangan. Meninggalkan aku yang kembali terpekur dengan buku bacaan. Ah, secercah kehangatan terasa di hati, hihi.
Meski ada satu sudut masam saat mendapati tatapan nyalang Bianca yang berdiri di balik jendela...
Baca Juga
-
Polisi Berdarah di Perlintasan Rel Kereta Api Tanpa Palang Pintu
-
Pocong Berkain Putih Bersih di Rumpun Bambu Belakang Rumah Paklek Randi
-
Nostalgia Aroma Dapur Ibu: Kisah Hangat Memasak dengan Tungku Kayu Bakar
-
Lelaki Tak Berkepala yang Berjongkok di Rel Kereta Tanpa Palang Pintu
-
Dia yang Berdehem Tiga Kali
Artikel Terkait
Cerita-fiksi
Terkini
-
Jeno NCT Mendadak Hapus Selfie: Mata Elang Netizen Temukan Vape?
-
Misi Erick Thohir Perkuat Citra Sepak Bola Nasional Lewat FIFA Series 2026
-
Jebakan 'Aji Mumpung' Lebaran: Saat Harga Ikan Bakar Setara Fine Dining
-
Wajah Muncul Jerawat setelah Lebaran! Ini 4 Acne Serum yang Layak Dicoba
-
Tutorial Habisin THR Berfaedah: Borong Buku di Gramedia Mumpung Masih Diskon!