Senja di balik kaca gedung kantor properti itu selalu terasa sedikit lebih lama bagi Joe. Ia duduk di kursi putar, menatap layar ponsel yang masih menyala. Sebuah pesan terakhir dari Sinta menggantung di sana.
"Kamu pulang jam berapa hari ini?"
Joe menarik napas pelan, lalu mengetik singkat.
"Seperti biasa. Habis ini."
Ia tersenyum kecil, senyum yang tidak pernah ia tampilkan saat di rumah. Senyum yang terasa seperti milik orang lain.
“Belum pulang, Joe?” tanya Rendi, rekan kerjanya, sambil menyampirkan tas.
“Bentar lagi,” jawab Joe santai. “Nih lagi membereskan data,” imbuhnya.
Padahal bukan data yang ia bereskan. Joe membuka galeri, lalu riwayat panggilan. Panggilan video dengan nama “S” masih tercatat. Ia hapus satu per satu. Rapi. Bersih. Seperti kebiasaannya setiap hari.
Menghapus pesan sebelum pulang menjadi rutinitas kecil yang terasa biasa, tetapi menyimpan sesuatu yang tidak biasa.
***
Di rumah, Joe adalah pria yang berbeda.
“Papa!” suara kecil menyambutnya begitu pintu dibuka.
Seorang anak laki-laki berlari kecil, memeluk kakinya. Joe langsung mengangkatnya tinggi.
“Wah, jagoan Papa sudah mandi?”
“Sudah! Kata Mama harus wangi biar disayang Papa,” jawab si kecil polos.
Joe tertawa. “Memang Papa nggak sayang kalau belum mandi?”
“Sayang... tapi dikit,” jawabnya sambil terkekeh.
Dari dapur, Riska menoleh. Senyumnya hangat, sederhana, dan jujur.
“Kamu telat lagi,” katanya tanpa nada menuduh.
“Macet,” jawab Joe cepat, nyaris gugup.
Riska mengangguk, lalu kembali mengaduk sayur. Tidak ada curiga. Tidak ada pertanyaan tambahan. Dan justru itu yang membuat dada Joe sesak. Ia menatap ponselnya sejenak. Kosong. Bersih. Tidak ada Sinta di sana. Seperti tidak pernah ada.
Namun Sinta selalu ada, diam-diam. Di sela-sela jam makan siang. Di antara jeda rapat. Di sudut hati yang tidak pernah benar-benar ia tutup.
“Masih ingat nggak waktu kita KKN di Banyuwangi?” tulis Sinta suatu siang.
Joe tersenyum sendiri. "Yang listrik mati tiap malam?"
"Iya. Terus kamu sok-sokan jadi teknisi."
"Padahal cuma nyolokin kabel doang."
Balasan itu datang cepat. "Aku kangen masa itu."
Joe berhenti mengetik. Kangen. Satu kata yang sederhana, tetapi mengandung banyak hal yang tidak selesai.
"Aku juga," akhirnya ia kirim.
Beberapa detik kemudian, panggilan video masuk. Joe menatap sekeliling, memastikan ruangannya sepi. Ia geser kursinya sedikit ke sudut, lalu menerima. Wajah Sinta muncul. Masih sama, hanya lebih dewasa. Ada garis lelah yang tidak ada dulu, tetapi justru membuatnya terasa lebih nyata.
“Lagi di kantor?” tanya Sinta.
“Iya. Kamu?”
“Di rumah. Sahrul belum pulang.”
Ada jeda. Mereka saling menatap, seperti dua orang yang tahu sedang melakukan sesuatu yang seharusnya tidak dilakukan, tetapi tetap melakukannya.
“Rumah tangga kamu bahagia, Joe?” tanya Sinta tiba-tiba.
Joe terdiam. “Bahagia itu... relatif,” jawab Joe akhirnya.
Sinta tersenyum miring. “Kamu masih suka muter jawaban.”
“Kamu masih suka nanya yang susah.”
Mereka tertawa kecil. Namun di balik tawa itu, ada sesuatu yang rapuh.
***
Hari-hari berjalan seperti biasa. Joe tetap pulang dengan cerita tentang macet. Riska tetap menyambut dengan senyum. Anak mereka tetap memanggilnya dengan suara riang. Dan Joe tetap menghapus pesan sebelum pulang.
Sampai suatu hari, sesuatu yang kecil berubah menjadi besar. Pagi itu, Sinta buru-buru ke pasar.
“Mas, aku ke pasar dulu ya,” katanya pada Sahrul.
“Iya, hati-hati,” jawab Sahrul sambil menatap layar laptop.
Sinta mengambil tas, tetapi lupa satu hal. Ponselnya tertinggal di meja. Awalnya tidak ada yang aneh, sampai akhirnya layar itu menyala. Ada notifikasi masuk. Nama yang disimpan sederhana: “Joe Teknisi Listrik.”
Joe mengirim pesan singkat, "Hati-hati di jalan. Nanti panggilan video lagi."
Sahrul membaca sekali. Lalu dua kali. Lalu berkali-kali. Tangannya dingin, tetapi matanya panas. Ia membuka pesan itu. Lalu semuanya terbuka. Riwayat obrolan. Kata-kata mesra dari Sinta kepada Joe dan balasan Joe kepada Sinta. Juga riwayat panggilan video.
Semuanya tidak ada yang dihapus hari itu. Tidak ada yang disembunyikan. Semua yang selama ini diam, tiba-tiba bersuara keras.
***
Sore itu, Joe baru saja keluar dari kantor ketika seseorang memanggilnya.
“Joe!”
Ia menoleh. Sahrul berdiri di sana. Wajahnya tegang.
“Rul? Kamu ngapain di sini?” tanya Joe, sedikit terkejut.
Sahrul mendekat. Tanpa basa-basi, tanpa senyum.
Plak! Tamparan keras mendarat di pipi Joe. Orang-orang di sekitar sontak menoleh ke arah mereka.
“Apa-apaan?” tanya Joe sembari mengelus pipinya.
“Kamu pikir aku bodoh?” potong Sahrul. Suaranya bergetar antara marah dan kecewa. “Main sama istri orang, sayang-sayangan, chat mesra dan video call-an?”
Joe terdiam. Kata-kata itu seperti menamparnya lebih keras dari tangan Sahrul.
“Aku percaya kamu, Jo,” lanjut Sahrul. “Kita teman. Dari kuliah. Dari KKN. Tapi kamu...” Ia tidak melanjutkan.
Joe menunduk. “Maaf...” suaranya pelan.
“Maaf?” Sahrul tertawa pahit. “Kamu suruh Sinta hapus pesan, ya? Supaya bersih? Supaya kelihatan nggak ada apa-apa? Supaya aku nggak tahu kelakuanmu?”
Joe tidak menjawab, karena itu benar.
“Itu yang kamu lakukan setiap hari, kan?” desak Sahrul. “Hapus. Sembunyi. Berbohong.”
Joe menarik napas panjang. “Aku salah,” katanya akhirnya. “Aku nggak akan ulangi lagi.”
Sahrul menatapnya lama. “Bukan ke aku kamu harus janji,” katanya dingin. “Tapi ke dirimu sendiri. Kalau masih punya sisa harga diri.”
Kemudian Sahrul pergi meninggalkan Joe yang berdiri sendiri, di antara suara kendaraan dan tatapan orang-orang.
***
Malam berikutnya, Joe pulang seperti biasa. Pintu dibuka. Anaknya berlari menyambut. Riska tersenyum dari dapur. Semua terlihat sama.
Tetapi ada yang berbeda. Ponselnya di saku terasa berat. Joe mengeluarkannya, lalu membuka layar. Hampa, tidak ada pesan dari Sinta. Tidak akan ada lagi.
Joe menatap layar itu lama, lantas perlahan meletakkannya di meja tanpa perlu menghapus apa pun, karena untuk pertama kalinya, tidak ada lagi yang harus disembunyikan. Tapi aneh, justru itu yang membuat Joe terasa sangat gelisah.
Baca Juga
-
5 HP Honor 5G Terbaru, Performa Andal untuk Multitasking dan Produktivitas
-
5 HP Oppo dengan Chip Snapdragon, Performa Ngebut Harga Mulai Rp 1 Jutaan
-
6 Rekomendasi HP POCO RAM 8 GB dengan Kamera Jernih, Harga Mulai Rp1 Jutaan
-
Samsung Galaxy A37 5G: Andalkan Nightography, AI Pintar, dan Baterai Awet
-
Gig Economy Hingga Universal Basic Income: Beranikah Indonesia Mengubah Konsep UMR 8 Jam Kerja?
Artikel Terkait
Cerita-fiksi
Terkini
-
Tukarkan Kayu dengan Rasa, Rahasia Kuliner di Balik Megahnya Candi Jambi
-
Review Film Ready or Not 2: Here I Come, Adegan Aksi dan Gore Memuaskan!
-
Bukan Generasi Stroberi yang Rapuh, Mungkin Kita yang Terlalu Cepat Menilai
-
4 Tinted Sunscreen SPF 40 untuk Pudarkan Noda Hitam dan Proteksi Sinar UV
-
Aria the Scarlet Ammo Rayakan 15 Tahun Penayangan dengan Anime Pendek Baru