Aku tumbuh dengan menyaksikan seorang ibu yang hidupnya seperti tidak pernah mengenal jeda. Aku melihatnya bangun bahkan sebelum fajar benar-benar menyentuh jendela rumah kami. Saat dunia masih sunyi dan semua orang masih terlelap, ia sudah lebih dulu bergerak.
Tangannya perlahan menata hari, menyiapkan hal-hal yang bahkan belum kami pikirkan. Suara langkahnya di lantai rumah menjadi tanda bahwa hari sudah mulai berjalan, meski kami masih belum membuka mata. Ia menanak air, menyiapkan makanan, merapikan segala sesuatu yang sebenarnya sudah rapi, lalu memastikan tidak ada satu pun yang tertinggal, seolah rumah ini hanya bisa berdiri dengan tenang jika ia terus berada di dalamnya, menjaga tanpa henti.
Suatu pagi, aku pernah terbangun lebih awal dari biasanya. Saat keluar kamar, Ibu sudah sibuk di dapur.
"Bu, kok udah bangun?" tanyaku sambil mengucek mata.
Ibu menoleh sebentar lalu tersenyum.
"Ya memang harus bangun. Nanti kalian telat sekolah."
"Masih gelap, Bu."
"Makanya Ibu bangun duluan."
Aku hanya mengangguk lalu duduk memperhatikannya. Saat itu aku tidak memikirkan apa-apa. Bagiku itu hal yang biasa. Ibu memang selalu seperti itu.
Aku tidak pernah benar-benar melihatnya duduk dengan tenang dalam waktu yang lama. Selalu ada yang ia lakukan, selalu ada yang ia pikirkan, seolah dirinya memang tidak pernah diberi ruang untuk benar-benar diam. Aku mengenalnya bukan hanya sebagai ibu, melainkan juga sebagai seorang istri. Aku melihat bagaimana ia menyambut Ayah ketika pulang dengan lelahnya sendiri.
Kadang saat Ayah pulang kerja, Ibu sudah menyiapkan makan malam.
"Capek, Yah?" tanya Ibu.
Ayah mengangguk sambil meletakkan tasnya.
"Sedikit."
"Ya sudah, mandi dulu. Nanti makan."
Percakapan mereka sering kali sesederhana itu. Tidak panjang, tidak romantis seperti yang sering kulihat di televisi. Namun, entah kenapa selalu terasa hangat.
Aku juga melihatnya sebagai ibu untukku dan adikku. Aku melihat bagaimana ia menahan lelahnya sendiri agar kami tidak ikut merasakannya. Bagaimana ia menyembunyikan air mata di balik senyum yang tetap ia jaga agar tidak terlihat rapuh.
Suatu sore setelah pulang sekolah, aku melihat Ibu masih sibuk membereskan rumah.
"Bu, dari tadi bersih-bersih terus?"
"Iya."
"Capek nggak sih?"
Ibu tertawa kecil.
"Capek lah, masa nggak."
"Terus kenapa nggak istirahat dulu?"
"Nanti aja."
"Tapi Ibu dari pagi belum berhenti."
"Kalau Ibu berhenti, nanti kerjaannya numpuk."
Saat itu aku ikut tertawa. Aku belum benar-benar memahami maksud dari jawabannya.
Kadang aku bertanya dalam hati, bagaimana seseorang bisa terus memberi tanpa terlihat kosong? Bagaimana seseorang bisa terus tersenyum ketika mungkin dirinya sendiri sedang ingin diam dan tidak melakukan apa pun?
Aku tumbuh dengan mengira bahwa hidup memang harus dijalani tanpa jeda. Terus bergerak, terus kuat, terus tidak boleh jatuh. Aku pikir itulah satu-satunya cara untuk menjadi berarti.
Sampai akhirnya, aku benar-benar mulai memahami Ibu.
Suatu siang, rumah sedang sepi. Aku keluar kamar dan melihat Ibu duduk sendirian di ruang tamu. Tidak sedang menyapu, tidak sedang memasak, tidak sedang melipat pakaian. Ia hanya duduk diam.
Pemandangan itu terasa aneh karena jarang sekali kulihat.
"Bu?"
Ibu menoleh.
"Iya?"
"Kenapa diem aja?"
Ibu tersenyum kecil.
"Lagi pengen diem."
Aku duduk di sampingnya.
"Lagi ada masalah?"
Ibu menggeleng.
"Tapi Ibu kelihatan sedih."
Untuk beberapa saat ia tidak menjawab.
"Kadang orang juga capek, Nak."
Aku terdiam.
Kalimat itu sederhana, tetapi entah kenapa terasa sangat berat.
Untuk pertama kalinya aku menyadari bahwa yang kulihat selama ini bukanlah seseorang yang tidak pernah lelah. Ia hanya terbiasa menyimpan semuanya sendiri. Menunda lelahnya, menunda sedihnya, menunda segala hal yang sebenarnya juga ingin ia rasakan.
Dalam diam itu, aku mulai memahami sesuatu yang selama ini tidak pernah kusadari. Bahwa tanpa jeda yang ia jalani bukan karena ia tidak lelah, melainkan karena terlalu banyak yang ia jaga sendirian. Ia menjaga rumah ini, menjaga ayahku, menjaga aku dan adikku, bahkan menjaga suasana hati semua orang di rumah.
Ia menjadi tempat semua orang bersandar, tanpa pernah benar-benar memiliki tempat untuk bersandar kembali.
Tidak ada hitungan dalam caranya mencintai. Tidak ada catatan dalam setiap yang ia korbankan. Ia memberi, terus memberi, sampai aku sendiri tidak tahu kapan terakhir kali Ibu memikirkan dirinya sendiri.
Sekarang, setiap kali aku melihatnya bergerak tanpa henti, aku tidak lagi melihat seseorang yang hanya sibuk. Aku melihat cinta yang bekerja dalam diam. Aku melihat pengorbanan yang tidak pernah meminta untuk disaksikan.
Kadang aku mencoba membantunya.
"Bu, sini aku yang nyuci piring."
"Nggak usah, nanti Ibu aja."
"Yaudah, gantian. Ibu istirahat."
Ibu hanya tersenyum.
Senyum yang sederhana, tetapi sekarang terasa berbeda.
Aku mulai menyadari bahwa mungkin selama ini kami terlalu terbiasa melihatnya kuat, sampai lupa bahwa orang yang kuat pun bisa lelah. Terlalu terbiasa melihatnya selalu ada, sampai lupa bahwa dirinya juga butuh ruang untuk beristirahat.
Dan makin aku tumbuh dewasa, makin aku mengerti bahwa Ibu tidak pernah berjalan tanpa jeda karena ia tidak ingin berhenti. Ia hanya terlalu sibuk memastikan semua orang baik-baik saja.
Sementara dirinya sendiri sering kali menjadi orang terakhir yang ia pikirkan.
Mungkin itulah bentuk cinta paling tulus yang pernah kulihat. Cinta yang tidak banyak bicara, tidak meminta balasan, dan tidak mencari pengakuan. Cinta yang hadir setiap hari dalam hal-hal kecil yang sering kali luput kami syukuri.
Cinta seorang ibu yang tetap berjalan, bahkan saat lelah telah lama menjadi bagian dari hidupnya.
Baca Juga
Artikel Terkait
Cerita-fiksi
Terkini
-
Review The Gangster, The Cop, The Devil: Adu Brutal Polisi Nekat dan Bos Mafia Melawan Sang Iblis
-
Bertajuk 'The Sin: Bliss,' ENHYPEN Umumkan Comeback pada Bulan Agustus
-
It Girl Vibes! 4 Ide OOTD Kasual ala Roh Yoon Seo yang Cocok Buat Gen Z
-
Sinopsis Daikuko: GATE24, Drama Jepang Terbaru Shuri dan Maeda Gordon
-
The Traveling Cat Chronicles: Jejak Kesetiaan Nana Menembus Batas Waktu