Sudah menjadi keyakinan saya, atau lebih tepatnya ekspektasi, bahwa cerpen-cerpen pilihan Kompas, apalagi yang sudah diterbitkan menjadi buku, adalah karya yang sangat berkualitas. Hal ini terlihat jelas dari pemilihan tema, diksi yang tajam, hingga susunan kalimatnya yang terjaga dengan baik. Kumpulan cerpen Kebaya Merah di Tebing Kanal karya Martin Aleida ini berhasil membuktikan ekspektasi tersebut.
Kelima cerpen dalam buku ini terhubung oleh benang merah yang sama, yakni kemanusiaan yang menggugat keadilan, bukan sekadar kisah romansa dangkal atau konflik perebutan harta. Seluruh narasi dihubungkan pada satu titik tragis yang bersumber dari peristiwa G30S/PKI. Pengaruhnya begitu nyata, bahkan dirasakan oleh mereka yang tidak terlibat langsung. Keluarga atau teman jauh pun tetap terkena getahnya.
Bedah Karakter: Dari Pelarian hingga Keputusasaan
Cerpen pertama, Kebaya Merah di Tebing Kanal, menceritakan sepasang suami istri yang terdampar di Belanda untuk meminta suaka. Ibu dari Rubiah diangkut dengan kapal perang ke Pulau Buru, menyisakan trauma mendalam. Frasa ikonik dalam cerpen ini, "Pulang ke negeri sendiri sudah seperti angan-angan yang ujung-ujungnya sama dengan bunuh diri," menggambarkan betapa ibu pertiwi telah berubah menjadi tanah yang dikuasai jin bagi mereka. Selama melintasi Eropa, Rubiah membawa sarung bantal sendiri dan menolak bantal dari tuan rumah. Di Belanda, ia terus dicecar pertanyaan perihal tiga kawan yang dulu menolongnya, hingga emosi yang terpendam membawanya terjun bebas dari atas kanal. Sejauh apa pun Rubiah melarikan diri, bayang-bayang masa lalu sebagai keluarga yang tersangkut paut dengan PKI tetap menjadi hantu yang menggentayangi hidupnya.
Cerpen kedua berjudul Lelakiku, yang dikisahkan dari sudut pandang seorang perempuan. Laki-laki yang sangat dicintainya menjaga kesucian mereka hingga malam pengantin, meski tahun-tahun setelahnya mereka dipisahkan oleh kekuasaan tirani Orde Baru. Ayah dari tokoh "aku" mati ditembak tentara, meninggalkan trauma masa kecil yang pahit. Di usia tuanya, tokoh ini mengidap demensia dan sering mencerca mendiang bapaknya, namun ia justru kecewa saat mengetahui suaminya lebih membela sang bapak. Ternyata, rasa cinta yang tumbuh sekian tahun hanyalah karena mereka merasa senasib dan memiliki ideologi yang sama dengan sang bapak.
Menelisik Disiplin dan Refleksi Kehidupan
Berbeda dengan dua cerita sebelumnya, cerpen Perkenalkan, Uno menyoroti sosok bos yang luar biasa disiplin dan berhati-hati. Baginya, membuang pulpen yang masih ada tintanya atau menulis draf di kertas baru adalah sebuah penghinaan. Ia bahkan bisa membuat gempar manajemen karena menegur petugas yang tidak mengangkat telepon istrinya. Meski tokoh "aku" sebagai bawahannya harus menerjemahkan tulisannya yang tidak pernah diedarkan ke publik, saya merasa ada kedalaman makna yang tersirat di sana, meski saya masih kesulitan menangkap maksud utuh dari cerpen ini.
Terakhir, Tukang Urut di Tepi Danau membawa kita pada refleksi tentang masa pensiun. Tokoh "aku" memilih menjadi tukang urut tanpa imbalan agar kesaktiannya tidak hilang. Ia sempat dituntut oleh kekuasaan karena menolak bekerja di hari libur, padahal waktu tersebut ia gunakan untuk membantu orang-orang sakit kusta. Namun pada akhirnya, tokoh ini berhasil menemukan pembebasan dari kesia-siaan waktu.
Sebuah Refleksi atas Trauma Sejarah
Secara keseluruhan, kumpulan cerpen ini benar-benar memenuhi ekspektasi saya akan karya sastra yang bermutu. Martin Aleida berhasil mengolah isu-isu berat dengan gaya bahasa yang estetis dan berbobot. Tidak ada unsur-unsur seksual yang tidak berkualitas atau sekadar tempelan di dalamnya, seluruh narasi dibangun dengan kedalaman psikologis dan kemanusiaan yang matang.
Buku ini adalah pengingat bahwa trauma sejarah tidak pernah benar-benar hilang, ia hanya bermutasi dalam ingatan dan tindakan manusia.
Identitas Buku
- Judul Buku: Kebaya Merah di Tebing Kanal
- Penulis: Martin Aleida
- Penerbit: Kompas Gramedia
- Tahun Terbit: 2025
- ISBN: 978-623-523-762-6
Baca Juga
-
Single Mom Melawan Stigma Janda Lemah: Bagaimana Irene Mengubah Luka Menjadi Kekuatan?
-
Pramoedya di Mata Adiknya: Inilah Sisi Maestro yang Tak Pernah Terungkap!
-
Bukan Dongeng Biasa: Sisi Gelap dan Brutal di Balik Keimutan Dongeng Kucing
-
Lian, Ombak, dan Luka yang Disembunyikan: Review Jujur Novel Ingatan Ikan-Ikan
-
Saat Sampul Manis Menyembunyikan Thriller Psikologis: Ulasan The Arson Project
Artikel Terkait
-
Piala Dunia 2026: Lolos ke 16 Besar, Norwegia Ulang Sejarah 28 Tahun Silam
-
Peristiwa Kemerdekaan di Aceh: Menyibak Sejarah Kemerdekaan di Ujung RI
-
Sinopsis The Choral, Film Drama Sejarah Penuh Haru Tayang 2 Juli di Netflix
-
Berjalan Menembus Waktu di Pusat Bersejarah Guadalajara
-
Ulasan Daughters of the Sun and Moon, Angkat Kisah Kelam Imigran Tionghoa
Ulasan
-
Single Mom Melawan Stigma Janda Lemah: Bagaimana Irene Mengubah Luka Menjadi Kekuatan?
-
Review Avatar: The Last Airbender Season 2: Berani Beda, tapi Apakah Lebih Baik dari Animasinya?
-
Peristiwa Kemerdekaan di Aceh: Menyibak Sejarah Kemerdekaan di Ujung RI
-
Ulasan CEO-dol Mart: Aksi Kocak Lima Mantan Idol Mengelola Supermarket
-
Sang Maha Sentana: Beban Tanggung Jawab Bangsawan yang Melampaui Janji Suci
Terkini
-
Timothee Chalamet dan Selena Gomez Bintangi Film Animasi Not Alone
-
Tayang 8 Juli, Idol Training Camp Tampilkan 24 Peserta dari 4 Grup Berbeda
-
Sihir Nobar: Saat Orang Asing Menjadi Kawan Hanya Karena Satu Gol
-
Kisah Inspiratif Achraf Hakimi: Anak Pedagang yang Sukses di Sepak Bola
-
Messi, Haaland, dan Mbappe: Siapa Layak Raih Sepatu Emas Piala Dunia 2026?