Hayuning Ratri Hapsari | Siska Febrianti
Ilustrasi seorang muslimah yang sedang duduk sendirian di meja makan saat waktu berbuka puasa (Nano Banana/Gemini AI)
Siska Febrianti

Ramadan tahun ini terasa lebih sunyi dari biasanya. Tidak ada suara panci beradu di dapur, tidak ada aroma bawang goreng yang menyeruak sampai ruang tengah, dan tidak ada repetan Mama yang selalu terdengar menjelang magrib.

Biasanya, lima belas menit sebelum azan, Mama sudah berseru dari dapur.

Mama: “Jangan main hp terus! Tolong ambilkan piring di lemari. Sama panggil adikmu, suruh mandi!”

Lalu terdengar langkah kecil berlari.

Adik: “Kak, Mama marah tuh! Katanya kamu disuruh bantuin!”

Aku biasanya hanya tertawa kecil, pura-pura tak dengar, sampai akhirnya Mama benar-benar muncul di depan pintu kamar dengan tatapan tajam yang penuh cinta.

Kini, semua itu hanya tinggal gema di kepala.

Di perantauan, menjelang berbuka hanya ada suara kipas angin berputar dan detak jam yang terdengar lebih nyaring dari biasanya. Sepiring nasi dan lauk sederhana terhidang di atas meja kos yang sempit. Tak ada yang berebut gorengan. Tak ada yang diam-diam mengambil kolak duluan sebelum azan.

Kesunyian ini menyeretku pada belasan tahun lalu, Ramadan pertamaku sebagai anak rantau.

Saat itu aku baru lulus sekolah dasar. Kukira aku akan melanjutkan SMP di kota kelahiranku. Namun takdir membawaku ke kampung, tinggal bersama Tante sampai SMA.

Sore sebelum keberangkatanku, Mama duduk di teras. Langit jingga menggantung rendah, seolah ikut menyaksikan perpisahan kecil itu.

Aku: “Ma… kalau aku nggak betah gimana?”

Mama menatapku lama, lalu tersenyum lembut.

Mama: “Betah itu dibiasakan. Yang penting kamu jaga diri, jaga shalat, dan ingat rumah.”

Adik yang sedari tadi diam, tiba-tiba memelukku.

Adik: “Kakak jangan lama-lama ya di sana. Nanti siapa yang temenin aku nonton?”

Aku tertawa, meski mata mulai terasa panas.

Aku: “Nanti Kakak pulang kalau libur. Jangan nakal ya.”

Adik mengangguk, meski wajahnya sudah cemberut.

Hari pertama Ramadan di kampung terasa asing. Rumah Tante memang hangat, tapi tetap berbeda. Aroma masakannya tak sama. Suara dapurnya tak seirama.

Menjelang magrib, Tante sibuk menyiapkan hidangan.

Tante: “Kamu rindu rumah, ya?”

Aku tersenyum tipis. “Sedikit, Tante.”

Tante menghampiri, menyendokkan sayur ke piringku.

Tante: “Rindu itu tanda kamu punya tempat untuk pulang. Tapi di sini juga rumahmu. Anggap Tante seperti Mama sendiri.”

Aku mengangguk pelan, menahan air mata yang hampir jatuh bersamaan dengan kumandang azan.

Di meja makan itu, aku belajar satu hal bahwa rasa bisa menyesuaikan, tapi kenangan tidak pernah benar-benar pergi.

Kini, bertahun-tahun kemudian, aku kembali merasakan sepi yang serupa namun lebih sunyi. Kali ini aku benar-benar sendiri.

Menjelang berbuka, ponselku berdering. Panggilan video dari rumah.

Wajah Mama muncul di layar, dengan latar dapur yang selalu kurindukan.

Mama: “Sudah siap buka?”

Aku: “Sudah, Ma.”

Adik menyela dari belakang.

Adik: “Kak! Di sini ada kolak pisang favorit kamu! Tapi aku yang habisin!”

Aku tertawa kecil. “Dasar.”

Mama tersenyum, tapi sorot matanya menyimpan rindu yang sama.

Mama: “Makan yang banyak ya. Jangan terlalu banyak makan gorengan dan mie instan.”

Aku terdiam sejenak. Bahkan dari jarak ratusan kilometer, Mama masih tahu kebiasaanku.

azan magrib berkumandang di rumah dan di tempatku, mungkin dalam waktu yang hampir bersamaan.

Kami berbuka di tempat yang berbeda, tapi dengan doa yang sama.

Aku menyuap nasi perlahan ditemani dengan sambal sarden dan tumis bayam yang aku masak. Rasanya biasa saja, tidak seistimewa masakan Mama. Malam ini menyadarkan aku satu hal, yang membuat hidangan terasa istimewa itu bukan hanya bumbu dan resepnya melainkan kebersamaan yang mengiringinya.

Di setiap suapan, ada kenangan.
Di setiap tegukan, ada doa.
Dan di sepiring sederhana itu, tersaji rindu yang tak pernah benar-benar habis.

Ramadan ini mengajarkanku bahwa jarak hanya memisahkan tubuh, bukan hati. Dan rumah bukan sekadar tempat, melainkan orang-orang yang menunggu kita pulang.

Dan aku tahu, di rumah sana, mungkin Mama juga sedang menatap piringnya dengan satu rasa yang sama.

Sepiring rindu saat berbuka.