Kita sering mengira masa lalu bakal datang lagi dengan baju yang persis sama, begitulah penyakit kita kalau berurusan dengan Nostalgia. Hal ini mendadak terasa saat Soraya Intercine Films memutuskan untuk menghidupkan kembali nama besar “5 cm”.
Begitu kabar produksinya lewat di linimasa, memori lama kita langsung bekerja otomatis membayangkan rombongan Genta, Zafran, Arial, Riani, Ian dan Dinda mendaki Semeru, diiringi lagu Nidji yang dahulu terasa seperti bensin pembakar semangat menuju puncak Mahameru.
Modal nostalgia film rilisan 2012 ini memang bukan kaleng-kaleng. Data dari Film Indonesia mencatat “5 cm” sebagai salah satu pilar utama yang menopang robohnya rekor box office perfilman tanah air kala itu. Di kepala penonton, dunia “5 cm” ya sudah terlanjur dikunci oleh kisah persahabatan karib enam orang tersebut.
Di sinilah riak-riak heran dari para penggemar mendadak jadi masuk akal. Penonton yang terlanjur berharap bisa datang ke acara reuni enam sahabat, eh malah disodori masa kecil satu tokoh saja. Kita yang membayangkan kelanjutan panjat-panjat gunung seru, malah diajak putar balik ke masa puber saat geng legendaris itu belum terbentuk.
Secara hukum skenario, langkah ini sah-sah saja. Masalahnya ada kabel emosional yang mendadak konslet antara nama besar “5 cm” dan ekspektasi tinggi dari penontonnya.
Dalam urusan jagat sinema, kangen masa lalu itu memang komoditas yang gurihnya minta ampun. Duo akademisi Tuna Tetik dan Öykü Türkeli pernah mengulik soal ini. Intinya, mereka bilang kalau proyek sejenis sekuel, prekuel, reboot, hingga remake itu adalah mesin cetak dari sebuah industri nostalgia.
Jadi jangan heran, rasa kangen kita pada masa lalu itu sekarang sudah dikemas rapi oleh industri untuk dijual kembali sebagai tiket bioskop plus berondong jagung manis.
Lucunya, proyek "Revolusi Hati" ini punya teka-teki yang bikin bingung setengah leher, ia jualan nama nostalgia, tapi objek yang dinostalgianya malah tidak ada yang nongol. Genta absen, Arial belum kelihatan, Riani dan Ian entah di mana. Bahkan Mas Herjunot Ali pun tidak ikut reuni jadi Zafran karena perannya sudah dioper ke Roman King yang memerankan versi remajanya. Kita seperti diundang ke hajatan kawan lama, tapi begitu sampai di tenda, yang empunya hajat ternyata belum lahir.
Urusan musik pun ikut-ikutan bikin jarak yang lumayan renggang. Dulu, film 5 cm itu kawin banget sama lagu-lagu Nidji, terutama lagu "Di Atas Awan" yang getarannya membakar semangat pendaki dadakan.
Di proyek baru ini, kuping kita bakal disuguhi lagu-lagu gres yang sama sekali berbeda. Langkah kreatif ini tentu sah-sah saja biar ada penyegaran. Namun buat penonton angkatan lama, hilangnya petikan gitar Nidji ini rasanya seperti makan bakso tanpa sambal—tetap kenyang, tapi ada jembatan emosional yang mendadak putus di tengah jalan.
Di titik inilah istilah "nostalgia" tampaknya perlu kita bedah ulang. Kangen masa lalu itu bukan cuma urusan pinjam nama karakter lama saja, lalu berharap memori penonton langsung bekerja otomatis.
Seperti yang diulik oleh Katharina Niemeyer dan Emily Keightley, ingatan kolektif warganet itu sebenarnya punya nilai ekonomi tinggi yang bisa dikomodifikasi secara digital. Masalahnya, industri harus pintar memancingnya dengan tanda-tanda yang pas, biar rasa rindu penonton bisa pulang ke alamat yang benar, bukan malah kesasar di alamat baru.
Tentu saja, terlalu dini kalau kita langsung menuduh “Revolusi Hati” bakal gagal total. Lha wong filmnya saja belum tayang, dan cuplikan singkat di medsos kan jelas bukan representasi utuh dari bioskop.
Siapa tahu, kisah Zafran puber ini malah punya plot yang kuat, kocak, mengharukan, sekaligus memberi nyawa baru pada karakter yang dulu kita kenal. Jadi, riak-riak protes netizen soal strategi promosi ini jangan dianggap sebagai vonis mati untuk kualitas filmnya.
Namun, industri layar lebar kita setidaknya bisa memetik satu pelajaran bahwa nama besar itu tidak pernah datang dengan tangan kosong. Dia selalu membawa buntelan emosional kepada para penonton setianya. Ketika sebuah merek film lawas dihidupkan lagi, penonton itu datang ke bioskop dengan menenteng sekeranjang memori lama untuk dicocokkan di dalam studio.
Film “5 cm” yang dulu kita gandrungi itu adalah milik paten enam sahabat karib. Kalau sekarang produser maunya fokus ke masa puber Zafran sendirian, ya silakan saja, bebas. Asalkan, berikan alasan sinematik yang cukup kuat kenapa kisah solo karir itu harus tetap mengusung nama besar “5 cm”.
Sebab yang namanya nostalgia itu bukan stiker mainan yang bisa kita tempel sembarangan di mana saja. Dia itu punya alamat rumah yang jelas, punya rupa wajah yang khas, punya dendang lagu, dan yang paling penting—punya perasaan.
Baca Juga
-
Ilusi Kesantunan Pejabat: Di Balik Permintaan Maaf Wapres soal MBG
-
Kerasnya Aspal dan Tugas Domestik: Membedah Beban Ganda Ojol Perempuan
-
Fenomena Overproud Film Hollywood, Mengapa Netizen Indo Haus Validasi Barat
-
Lebih dari Sekadar Ranking, Membaca Skill Problem Solving PISA 2025
-
Seni Tidak Melakukan Apa-Apa: Membedah Konsep Niksen Lewat Neurosains
Artikel Terkait
Entertainment
-
Kontrak Habis! Girl Group UNIS Umumkan Bubar setelah 2,5 Tahun Debut
-
Teaser 5 cm: Revolusi Hati Dirilis, Ungkap Kisah Zafran saat SMP
-
Unit Baru Seventeen! Jeonghan x Joshua Siap Debut Lewat Album Dreamscape
-
Mengenal Danjong di The King's Warden, Raja Kecil yang Pernah Pimpin Joseon
-
Manga Romcom Akira Failing in Love Tembus 1 Juta Eksemplar di Seluruh Dunia
Terkini
-
4 Low pH Cleanser Berbahan Probiotic Buat Perkuat Skin Barrier Kulit Kering
-
Gen Z dan Conscious Unbossing: Saat Karier Tidak Harus Naik secara Vertikal
-
Ilusi Kesantunan Pejabat: Di Balik Permintaan Maaf Wapres soal MBG
-
Kerasnya Aspal dan Tugas Domestik: Membedah Beban Ganda Ojol Perempuan
-
Side Hustle Kini Jadi Tren: Solusi Finansial atau Malah Bikin Kewalahan?