Di banyak keluarga Indonesia, pertanyaan “kapan nikah?” sering terdengar seperti kalimat sederhana, tapi dampaknya bisa panjang dan dalam.
Pertanyaan ini tidak selalu lahir dari tuntutan budaya semata, juga bukan sekadar obsesi pada status sosial. Jika ditelisik lebih dalam, kekhawatiran orang tua terhadap anak yang belum menikah sering kali berakar pada satu hal yang sangat konkret: beban finansial.
Orang tua yang memasuki usia senja berada pada fase hidup yang seharusnya lebih tenang. Secara ideal, mereka mulai mengurangi tanggungan, bukan menambah. Namun realitasnya, banyak orang tua justru masih harus memikirkan biaya hidup anak yang sudah dewasa. Makan, tempat tinggal, kesehatan, pendidikan lanjutan, bahkan kebutuhan sehari-hari.
Ketika anak belum menikah dan belum mandiri secara ekonomi, tanggung jawab itu belum berpindah, masih tetap berada di pundak orang tua.
Di titik inilah kegelisahan itu muncul. Bukan semata soal “status lajang”, tetapi soal ketergantungan ekonomi yang berkepanjangan.
Menikah, dalam cara pandang generasi lama, bukan hanya soal membangun rumah tangga, tetapi juga simbol peralihan tanggung jawab. Anak dianggap sudah punya dunia sendiri, sudah memiliki sistem hidup sendiri, dan yang terpenting sudah memiliki struktur ekonomi sendiri.
Maka ketika anak belum menikah, orang tua sering melihatnya sebagai kondisi yang belum selesai secara sosial dan finansial.
Namun, realitas hari ini jauh lebih kompleks.
Banyak pasangan yang sudah menikah pun masih tinggal bersama orang tua. Masih bergantung secara ekonomi. Masih ditopang secara finansial.
Bahkan tidak sedikit yang membangun rumah tangga dengan model “numpang hidup” pada orang tua. Baik secara tempat tinggal, biaya hidup, hingga pengasuhan anak. Artinya, menikah tidak otomatis berarti mandiri.
Di sisi lain, banyak anak yang belum menikah justru sudah mandiri secara finansial, tinggal sendiri, mengelola hidupnya sendiri, dan tidak lagi menjadi beban ekonomi keluarga. Ironisnya, kelompok ini tetap sering mendapat tekanan sosial karena belum menikah, meskipun secara sistem hidup mereka sudah jauh lebih siap dan stabil dibanding sebagian pasangan menikah yang masih bergantung.
Di sinilah terjadi paradoks sosial yang dinilai bukan kemandirian, tapi status.
Padahal, jika dilihat dari sudut pandang logis dan ekonomi, yang lebih relevan seharusnya adalah kemandirian hidup, bukan status pernikahan. Mandiri berarti mampu membiayai hidup sendiri, mengelola kebutuhan dasar, bertanggung jawab atas kesehatan, masa depan, dan stabilitas hidup. Menikah tanpa kemandirian justru bisa memperpanjang beban lintas generasi.
Kekhawatiran orang tua sebenarnya sangat manusiawi. Mereka takut di usia tua masih harus menjadi penyangga ekonomi. Mereka khawatir tidak ada sistem penopang bagi anaknya ketika mereka sudah tidak kuat lagi bekerja. Mereka cemas akan masa depan anaknya jika suatu hari mereka tidak ada.
Masalahnya, kegelisahan itu sering diekspresikan dalam bentuk tekanan pernikahan, bukan dialog tentang kemandirian.
Seolah-olah menikah adalah solusi tunggal. Padahal, realitas menunjukkan bahwa solusi itu tidak selalu linier.
Menikah tanpa kesiapan ekonomi justru bisa melahirkan masalah baru: konflik rumah tangga, ketergantungan keluarga besar, tekanan mental, dan reproduksi kemiskinan struktural dalam skala kecil. Sementara kemandirian finansial baik menikah atau tidak, justru menciptakan stabilitas jangka panjang.
Mungkin persoalannya bukan tentang status pernikahan. Tapi apakah kamu sudah mandiri? Apakah kamu sudah punya sistem hidup sendiri? Apakah kamu bisa bertahan tanpa bergantung pada orang tua? Apakah kamu punya rencana hidup jangka panjang?
Karena pada akhirnya, yang dicari orang tua bukan status pernikahan semata, tetapi jaminan keberlangsungan hidup anaknya setelah mereka tiada.
Dan di era sekarang, jaminan itu tidak selalu bernama pernikahan. Kadang ia bernama kemandirian. Kadang ia bernama stabilitas ekonomi. Kadang ia bernama kesiapan hidup.
Menikah bisa menjadi bagian dari solusi. Tapi bukan satu-satunya jawaban. Karena yang paling penting bukan sudah menikah atau belum, melainkan sudah siap hidup atau belum.
Baca Juga
-
Seni Mengubah Empati Menjadi Skill di Buku The Empathy Effect
-
Seni Mencintai dengan Waras di Buku Closer to Love Karya Vex King
-
Selangkah Lebih Dekat dengan Anak di Buku Anak yang Penuh Kecemasan
-
Menghempas Energi Buruk di Buku Memaafkan yang Tak Termaafkan
-
Menemukan Jalan Pulang ke Diri Sendiri di Buku 'Semua Orang Butuh Curhat'
Artikel Terkait
-
Al Ghazali Tak Sengaja Bocorkan Bulan Pernikahan El Rumi dan Syifa Hadju
-
Industri Sawit RI Sumbang Output Rp1.119 Triliun dan Serap 16,5 Juta Pekerja
-
5 Motor Listrik Harga Rp5 Jutaan, Nyaman dan Mudah Dikendarai Orang Tua
-
Selangkah Lebih Dekat dengan Anak di Buku Anak yang Penuh Kecemasan
-
BPS: Ekonomi Indonesia Tumbuh 5,11 Persen Sepanjang 2025 di Tengah Tekanan Global
Kolom
-
Kopi, Kedai Estetik, dan Romantisasi Konsumsi Urban
-
Self-Love Terbaik Perempuan Modern, Prioritaskan Diri Tanpa Rasa Bersalah
-
Menstruasi itu Normal: Perempuan dengan Segala Drama 'Tamu Bulanannya'
-
Seni Melambat: Mengapa Kita Tidak Perlu Selalu Merasa Terburu-buru?
-
Beban Anak Bungsu Merawat Orang Tua: Tradisi atau Ketidakadilan?
Terkini
-
Circo de Patrimonio: Ketika Luka Menjadi Pertunjukan yang Indah
-
Ramalan Zodiak Terasa Selalu Relate? Bisa Jadi Ini Tanda Barnum Effect
-
Misteri Gema dari Peti Mati
-
Monster Kepala Seribu: Saat Birokasi Asuransi Menghancurkan Kemanusiaan
-
Cyrus Margono Gabung Persija, Target Indonesia Juara AFF Cup Kian Nyata