Di tengah dunia modern yang serba megah, kebahagiaan sering kali dipersepsikan sebagai sesuatu yang besar, mahal, dan sulit dijangkau. Kita terbiasa mengaitkannya dengan kekayaan, status sosial, pencapaian karier, atau kesenangan sesaat.
Padahal, buku Bahagia Itu Sederhana: Melatih Diri Memaksimalkan Setiap Anugerah yang Anda Miliki, Sekecil Apa Pun, Kapan Pun, dan Di mana Pun karya Sir John Lubbock justru menawarkan perspektif yang berlawanan. Kebahagiaan sejati lahir dari hal-hal kecil yang sering kita abaikan.
Isi Buku
Buku ini berangkat dari pengalaman pribadi penulis di masa mudanya. Lubbock mengisahkan bagaimana ia pernah mengalami kesulitan untuk merasa bahagia karena kurangnya antusiasme terhadap hidup.
Ia tidak kekurangan apa-apa secara materi, tetapi merasa kosong secara batin. Dari titik itulah lahir perenungan panjang tentang makna kebahagiaan, yang kemudian dirangkum dalam buku ini sebagai panduan sederhana namun mendalam untuk menjalani hidup dengan lebih bermakna.
Kebahagiaan bukan sesuatu yang harus dicari jauh-jauh, karena ia sudah ada di sekitar kita. Setiap manusia memiliki anugerah, sekecil apa pun bentuknya, yang bisa menjadi sumber kebahagiaan. Masalahnya bukan pada kurangnya kebahagiaan, melainkan pada ketidakmampuan manusia untuk menyadarinya dan menghargainya.
Cara pandang manusia sering kali justru membuat kebahagiaan menjadi rumit. Kita ingin hidup berjalan sesuai kehendak kita, menginginkan apa yang dimiliki orang lain, dan membandingkan hidup sendiri dengan hidup orang lain. Dalam salah satu kutipan reflektif yang diangkat dalam buku ini disebutkan:
“Mintalah bukan agar segala sesuatu terjadi seperti yang anda harapkan, melainkan berharaplah agar segala sesuatu terjadi sebagaimana yang seharusnya terjadi, maka Anda akan mengalami aliran kehidupan yang tenang.”
Pesan ini menunjukkan bahwa kebahagiaan tidak selalu lahir dari mengendalikan hidup, tetapi dari menerima hidup. Ketika manusia belajar menerima realitas dengan lapang, ketenangan batin akan muncul secara alami.
Kelebihan dan Kekurangan
Buku ini juga mengkritik pandangan umum yang mengaitkan kebahagiaan dengan kekayaan dan status sosial. Menurut Lubbock, cara pandang tersebut justru sering melahirkan kekecewaan.
Ketika kebahagiaan dijadikan target besar, ia berubah menjadi tekanan. Ketika kebahagiaan dijadikan simbol kesuksesan, ia berubah menjadi kompetisi. Akibatnya, manusia terus merasa kurang, tidak pernah cukup, dan selalu membandingkan diri dengan orang lain.
Sebaliknya, Lubbock mengajak pembaca untuk menghargai hal-hal sederhana. Senyuman orang terdekat, secangkir teh hangat di pagi hari, udara segar, langit senja, atau ketenangan setelah hari yang melelahkan. Hal-hal kecil inilah yang sesungguhnya membentuk kebahagiaan sehari-hari, bukan momen besar yang jarang terjadi.
Pesan Moral
Buku ini juga menekankan pentingnya koneksi dengan alam sebagai sumber kedamaian batin. Alam dipandang bukan sekadar ruang fisik, tetapi ruang spiritual yang memberi ketenangan, inspirasi, dan keseimbangan.
Selain itu, Lubbock menyoroti pentingnya melakukan aktivitas yang bermanfaat dan produktif. Bagi Lubbock, kebahagiaan tidak hanya soal perasaan senang, tetapi juga rasa bermakna. Perasaan bahwa hidup kita berguna bagi diri sendiri dan orang lain.
Secara struktural, buku ini diperkaya dengan kutipan-kutipan bijak dari tokoh-tokoh besar lintas zaman, yang memperkuat pesan moral dan reflektif di setiap pembahasan. Gaya bahasanya sederhana, mudah dipahami, dan tidak menggurui, sehingga dapat diakses oleh berbagai kalangan pembaca.
Buku Bahagia Itu Sederhana tak sekadar buku motivasi, tetapi juga buku refleksi kehidupan. Ia mengajak pembaca untuk mengubah cara pandang. Dari mencari kebahagiaan menjadi menyadari kebahagiaan. Dari mengejar kebahagiaan menjadi merawat kebahagiaan.
Buku ini menegaskan satu hal penting: kebahagiaan tidak perlu diciptakan, karena ia sudah ada. Yang perlu dilatih adalah cara melihatnya.
Identitas Buku
- Judul buku : Bahagia Itu Sederhana
- Penulis : Sir John Lubbock
- Penerjemah : Dewi Wulansari
- Penerbit : Gemilang
- Tahun terbit : 2022
- Tebal : 352 halaman
- ISBN : 978-623-7162-91-9
- Kategori: Motivasi/Pengembangan Diri.
Baca Juga
-
Buku Lost Connections: Depresi Tak Sekadar Masalah Otak, tetapi Cara Hidup
-
Di Balik Tekanan Menikah: Ada Kecemasan Ekonomi Orang Tua
-
Seni Mengubah Empati Menjadi Skill di Buku The Empathy Effect
-
Seni Mencintai dengan Waras di Buku Closer to Love Karya Vex King
-
Selangkah Lebih Dekat dengan Anak di Buku Anak yang Penuh Kecemasan
Artikel Terkait
Ulasan
-
Buku Lost Connections: Depresi Tak Sekadar Masalah Otak, tetapi Cara Hidup
-
Circo de Patrimonio: Ketika Luka Menjadi Pertunjukan yang Indah
-
Monster Kepala Seribu: Saat Birokasi Asuransi Menghancurkan Kemanusiaan
-
Seni Mengubah Empati Menjadi Skill di Buku The Empathy Effect
-
Sinopsis The Unexpected Family, Pura-Pura Jadi Keluarga Demi Pengidap Alzheimer
Terkini
-
Jadi Anggota Tetap, Young K DAY6 Resmi Gabung Variety Show Amazing Saturday
-
Belum Move On dari Drama Korea Love Me? Ini 4 Drakor Terbaik Seo Hyun Jin
-
Di Balik Tekanan Menikah: Ada Kecemasan Ekonomi Orang Tua
-
Ramalan Zodiak Terasa Selalu Relate? Bisa Jadi Ini Tanda Barnum Effect
-
Misteri Gema dari Peti Mati