Depresi telah lama menjadi perbincangan besar, baik di ruang akademik psikologi dan psikiatri, maupun di ruang publik. Dalam wacana ilmiah arus utama, depresi umumnya dibagi ke dalam dua kategori: depresi endogen, yang dikaitkan dengan gangguan fungsi otak dan tubuh, serta depresi reaktif, yang muncul akibat pengalaman hidup yang buruk dan traumatis.
Namun, diskursus modern tentang depresi semakin sempit: fokus utamanya bergeser dari upaya memahami sumber ketidakbahagiaan manusia menjadi upaya mengendalikan neurotransmiter di otak melalui obat-obatan.
Buku Lost Connections karya jurnalis Johann Hari berisi kritik tajam terhadap pendekatan tersebut. Hari tidak menolak peran biologi, tetapi mempertanyakan narasi dominan yang menyederhanakan depresi semata-mata sebagai “ketidakseimbangan kimia otak”.
Melalui riset lintas disiplin dan perjalanan jurnalistik ke berbagai negara, Hari menyimpulkan bahwa sebagian besar akar depresi dan kecemasan tidak terletak pada otak semata, melainkan pada cara manusia modern hidup dan terhubung dengan dunia.
Hari mengidentifikasi sembilan bentuk diskoneksi (keterputusan) yang menjadi sumber utama depresi dan kecemasan. Keterputusan dari pekerjaan yang bermakna, dari orang lain, dari nilai hidup, dari trauma masa kecil, dari status dan rasa hormat sosial, dari alam, dari harapan masa depan yang aman, serta dari faktor genetik dan perubahan kimiawi otak.
Semua ini bermuara pada satu konsep besar: manusia modern hidup dalam kondisi terputus secara sosial, emosional, dan eksistensial.
Menurut Hari, masyarakat modern kehilangan makna dalam banyak aspek kehidupan. Pekerjaan menjadi mekanis, relasi menjadi dangkal, komunitas melemah, dan manusia semakin terisolasi secara sosial.
Depresi, dalam kerangka ini, bukan sekadar gangguan individual, melainkan gejala sosial dari sistem hidup yang tidak manusiawi.
Salah satu kisah paling kuat dalam buku ini datang dari penelitian Dr. Derek Summerfield, seorang psikiater Afrika Selatan, di Kamboja. Seorang warga desa kehilangan kakinya akibat ranjau darat sisa perang. Setelah diberi kaki palsu, ia justru mengalami depresi karena tidak lagi mampu bekerja di sawah.
Solusi yang dilakukan warga desa bukan terapi medis atau obat antidepresan, melainkan sesuatu yang sangat sederhana. Mereka membelikannya seekor sapi. Dengan beternak sapi, ia kembali memiliki peran sosial, pekerjaan bermakna, dan rasa berguna. Beberapa bulan kemudian, depresinya hilang. Bagi warga desa, sapi itu adalah “antidepresan”.
Kisah ini menjadi simbol penting dalam pemikiran Hari: bahwa makna, peran sosial, dan keterhubungan bisa lebih menyembuhkan daripada intervensi medis semata.
Sebagai jurnalis, Hari menelusuri ratusan riset akademik dan bertemu langsung dengan ilmuwan, dokter, komunitas alternatif, hingga kelompok sosial yang hidup di luar sistem modern. Dari semua itu, ia menemukan pola yang sama: komunitas yang kuat, hubungan sosial yang erat, dan kehidupan yang bermakna berbanding lurus dengan kesehatan mental yang lebih baik.
Yang membuat Lost Connections berbeda adalah pendekatan solusinya. Buku ini tidak menawarkan “obat ajaib”, tetapi perubahan paradigma.
Solusi depresi, menurut Hari, bukan hanya terapi individual dan farmakologi, tetapi juga perubahan struktural. Membangun komunitas, menciptakan pekerjaan bermakna, memperkuat hubungan sosial, mengembalikan manusia pada alam, dan membangun sistem sosial yang lebih adil.
Hari sendiri mengalami depresi sejak kecil dan mengonsumsi antidepresan sejak remaja. Ia tumbuh dengan keyakinan bahwa dirinya “rusak secara kimiawi”. Namun sebagai ilmuwan sosial, ia mulai mempertanyakan narasi itu.
Penelusurannya membawanya pada satu kesimpulan radikal: sebagian besar penyebab depresi bukan berada di dalam diri manusia, tetapi di sekitar manusia.
Lost Connections bukan buku yang menolak sains medis, tetapi buku yang memperluas cara kita memahami depresi. Ia mengajak pembaca melihat depresi bukan hanya sebagai penyakit individu, tetapi sebagai krisis koneksi manusia modern.
Buku ini menawarkan harapan yang berbeda: bahwa dengan membangun kembali hubungan dengan manusia lain, dengan makna hidup, dengan alam, dan dengan masa depan. Kita tidak hanya menyembuhkan individu, tetapi juga menyembuhkan masyarakat.
Identitas Buku
- Judul: Lost Connections (Penyebab Depresi yang Sesungguhnya dan Solusinya yang Tak Terduga)
- Penulis: Johann Hari
- Penerjemah: Fairano Ilyas
- Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
- Tahun Terbit: 2024
- ISBN: 978-602-06-7706-4
- Tebal: 389 halaman
- Kategori: Kesehatan Jiwa / Pengembangan Diri (Self-Improvement)
Baca Juga
-
Di Balik Tekanan Menikah: Ada Kecemasan Ekonomi Orang Tua
-
Seni Mengubah Empati Menjadi Skill di Buku The Empathy Effect
-
Seni Mencintai dengan Waras di Buku Closer to Love Karya Vex King
-
Selangkah Lebih Dekat dengan Anak di Buku Anak yang Penuh Kecemasan
-
Menghempas Energi Buruk di Buku Memaafkan yang Tak Termaafkan
Artikel Terkait
-
Seni Mencintai dengan Waras di Buku Closer to Love Karya Vex King
-
Review Novel Perkumpulan Anak Luar Nikah: Rahasia Gelap Sejarah Tionghoa Indonesia
-
Selangkah Lebih Dekat dengan Anak di Buku Anak yang Penuh Kecemasan
-
Bagaimana Islam Memuliakan Perempuan? Ulasan Buku Karya Al-Buthi
-
Menghempas Energi Buruk di Buku Memaafkan yang Tak Termaafkan
Ulasan
-
Circo de Patrimonio: Ketika Luka Menjadi Pertunjukan yang Indah
-
Monster Kepala Seribu: Saat Birokasi Asuransi Menghancurkan Kemanusiaan
-
Seni Mengubah Empati Menjadi Skill di Buku The Empathy Effect
-
Sinopsis The Unexpected Family, Pura-Pura Jadi Keluarga Demi Pengidap Alzheimer
-
Teman Tegar Maira: Film Inspiratif tentang Cinta Alam dan Persahabatan
Terkini
-
Jadi Anggota Tetap, Young K DAY6 Resmi Gabung Variety Show Amazing Saturday
-
Belum Move On dari Drama Korea Love Me? Ini 4 Drakor Terbaik Seo Hyun Jin
-
Di Balik Tekanan Menikah: Ada Kecemasan Ekonomi Orang Tua
-
Ramalan Zodiak Terasa Selalu Relate? Bisa Jadi Ini Tanda Barnum Effect
-
Misteri Gema dari Peti Mati