Jika malam tiba, orang-orang akan berpikir dua kali untuk melintasi simpang Jalan Mahoni dan Akasia. Lampu penerangan di sana tak pernah benar-benar berfungsi. Setiap kali diperbaiki, paling lama ia menyala semalam, lalu mati lagi keesokan harinya. Akhirnya warga menyerah melapor. Para teknisi pun malas datang.
Di sudut simpang itu berdiri sebuah bangunan laboratorium tua yang telah lama terbengkalai. Dindingnya dipenuhi lumut dan tanaman liar. Akar beringin menjuntai di halaman seperti tangan kurus yang mencari mangsa. Konon, puluhan tahun lalu tempat itu milik sekelompok ilmuwan dan dokter yang gemar bereksperimen.
Sampai suatu malam, ledakan besar menghancurkan laboratorium. Doktor Jan, pemimpin percobaan itu, tewas terbakar di tempat. Sejak saat itu gedung tersebut ditinggalkan begitu saja. Banyak orang percaya arwah-arwah gentayangan berkeliaran di dalamnya.
Karena rumor itulah manusia sering datang untuk uji nyali. Sebagian pulang sambil menjerit ketakutan. Sebagian lagi kesurupan. Bahkan ada yang pingsan di halaman sebelum sempat masuk gedung. Namun manusia tidak tahu satu rahasia penting. Bekas laboratorium itu ternyata juga menjadi tempat uji nyali bagi para hantu.
Dan malam ini adalah giliranku. Bertepatan dengan kehadiran bulan purnama.
Namaku Oding. Aku hantu kelas pemula yang sedang mengikuti ujian masuk Klub Para Pemberani, perkumpulan hantu paling disegani di wilayah Mahoni-Akasia. Anggotanya terkenal ahli menakut-nakuti manusia. Ada yang spesialis menjatuhkan genting, menggeser lemari, membisikkan suara aneh di kamar mandi, hingga melakukan penampakan seram di tempat-tempat yang sepi.
“Kalau lulus, kamu bisa naik pangkat,” kata Sukar, sahabatku.
Sukar sudah lebih dulu menjadi anggota klub. Ia yang merekomendasikan namaku untuk bisa diterima sebagai anggota. Malam ini ia pula yang mengantarku ke lokasi ujian bersama Markum, sang ketua klub.
“Jangan malu-maluin aku di depan Markum,” bisik Sukar sebelum pergi. “Yang minggu lalu gagal sampai sekarang takut lihat kaca.”
Aku menelan ludah. “Memangnya separah itu?”
Sukar mengangguk serius. “Ada pocong yang langsung pingsan. Kuntilanak bernama Surti malah muntah ektoplasma tiga ember.”
Aku semakin ciut. Markum menggeram saat mengendus rasa takutku. Di pintu masuk gedung, dua kelelawar siluman bertengger sambil cekikikan melihatku.
“Hahaha! Paling juga Oding kabur sebelum masuk ruang keramat!” “Betul! Baru lihat sedikit sudah menjerit minta pulang!” “Kami antar kamu sampai di sini, Oding. Selanjutnya kamu masuk sendiri!” bentak Markum. Sukar menepuk bahuku, memberi semangat.
Apa boleh buat. Kepalang basah, aku tak bisa mundur lagi. Lalu aku melayang masuk ke lorong gedung. Bau busuk segera menyerbu hidungku. Bahkan untuk ukuran hantu, aroma itu benar-benar mengerikan. Dinding lorong dipenuhi bercak hitam dan bekas cakaran. Di beberapa sudut tampak lelehan lendir kehijauan milik peserta uji nyali yang gagal.
Semakin jauh aku melayang, udara semakin dingin. Lalu terdengar bisikan-bisikan dari kegelapan.
“Oding ... pulang saja....” “Kamu belum siap ....” “Nanti tubuhmu meleleh ....”
Aku menutup kuping rapat-rapat. Jujur saja, aku memang ingin kabur. Rasa ngeri merayapi sekujur tubuhku sejak tadi. Tetapi aku sudah terlanjur sampai sejauh ini. Kalau mundur sekarang, aku akan jadi bahan tertawaan seumur kematian.
Akhirnya aku tiba di ujung lorong. Di sana berdiri sebuah pintu kayu tebal. Itulah ruang keramat yang paling ditakuti para hantu. Konon, di ruangan itu Doktor Jan menciptakan benda terkutuk yang mampu memperlihatkan wujud asli bangsa kami.
Tanganku gemetar saat mendorong pintu.
KREEETTT.
Ruangan besar itu tampak kusam dan dingin. Meja-meja laboratorium masih berdiri berantakan. Botol-botol kaca berdebu memenuhi rak dinding. Tepat di tengah ruangan terdapat noda hitam besar bekas ledakan yang menewaskan Doktor Jan. Dan di depan noda itu berdiri sebuah cermin panjang berbingkai perak. Cermin Pengungkap Hantu.
Cermin itu menghadap langit-langit kaca yang retak. Cahaya bulan perlahan turun menimpa permukaannya. Dadaku berdegup kencang. Aku ingin lari saja. Namun, secuil nyali yang tersisa menggerakkan tubuhku mendekati cermin tersebut.
Sekarang sinar bulan telah sempurna menyentuh seluruh permukaan cermin. Sesuatu segera bekerja di dalam sana. Mula-mula muncul kabut tipis di permukaan. Lalu perlahan-lahan terlihat sosok mengerikan sedang menatapku.
Aku membelalak ketakutan.
Kulit makhluk itu meleleh seperti lilin terbakar. Belatung-belatung merayap keluar dari lubang-lubang hitam di sekujur tubuhnya. Matanya nyaris copot. Dan kepalanya botak penuh luka. Makhluk itu tampak ketakutan.
Beberapa detik kemudian aku baru sadar bahwa itu aku.
“AARRGGHHH!”
Aku menjerit sambil mundur sempoyongan. Baru kali itu aku melihat rupa asliku sendiri. Pantas saja manusia ketakutan setiap melihat hantu.
Tiba-tiba terdengar tepuk tangan riuh. Markum, Sukar, dan sepasang kelelawar siluman muncul dari pintu masuk. Mereka tertawa puas.
“Selamat!” seru Markum. “Kamu lulus!”
Aku masih gemetar. “L-lulus?”
“Ya!” kata Sukar sambil menepuk pundakku. “Kamu berhasil melihat wujud aslimu sendiri tanpa pingsan!”
“Aku hampir pingsan!”
“Tapi belum benar-benar pingsan,” jawab Markum bangga.
Ia lalu menunjuk cermin itu. “Doktor Jan memang ilmuwan hebat,” katanya. “Ia berhasil menemukan alasan mengapa bangsa kita tak terlihat manusia. Tubuh kita bergerak dalam frekuensi sangat tinggi.”
Aku mengangguk pelan meski belum benar-benar mengerti.
“Sayangnya,” lanjut Markum, “hantu pertama yang melihat wajahnya sendiri terlalu kaget sampai-sampai memercikkan api ke tubuh Doktor Jan. Ya, maklumlah, namanya saja hantu api.”
“Oh …,” gumamku.
“Dan begitulah laboratorium ini meledak,” tutup Markum.
Aku menatap kembali cermin mengerikan itu. Tiba-tiba aku punya satu pertanyaan penting. “Kalau wajah kita seseram itu, kenapa manusia masih suka sengaja cari hantu?”
Markum, Sukar, dan kedua kelelawar siluman saling pandang. Lalu mereka serempak mengangkat bahu.
“Mungkin karena manusia memang aneh,” jawab Sukar sekenanya. Mereka pun tertawa dan melolong bersama ke udara malam.
Kupikir-pikir, betul juga jawaban Sukar. Ya, sudah. Setelah ini aku akan aktif menjumpai para manusia sok bernyali itu. Tunggu saja!
Baca Juga
Artikel Terkait
Cerita-misteri
Terkini
-
Menonton Pesta Babi di Sidrap: Tentang Literasi dan Larangan yang Ironis
-
Paradoks Literasi: Mengapa Kita Banyak Membaca tetapi Sedikit Memahami?
-
Film Horor The Shrine Tayang 17 Juni, Kim Jae Joong Tampil Sebagai Dukun
-
Dari Budaya Pop ke Kesadaran Publik: Kuasa Media di Indonesia
-
Kang Mina Dilaporkan Gabung Live Action Solo Leveling, Ini Kata Agensi