Dina sebenarnya tidak punya banyak pilihan. Dengan gaji pas-pasan dan kebutuhan yang terus mengejar, menemukan kontrakan murah di pinggiran kota terasa seperti keberuntungan. Alamatnya sederhana — nomor 7. Tidak ada yang benar-benar aneh dari rumah itu—catnya pudar, pagar besinya berkarat, dan halaman depannya dipenuhi rumput liar. Tapi selain itu, semuanya terlihat biasa. Terlalu biasa.
“Penghuninya nggak pernah lama,” kata ibu warung di ujung jalan saat Dina pertama kali datang. Dina hanya tersenyum tipis. Ia tidak punya banyak pilihan selain mencoba.
Hari pertama berjalan normal. Ia membersihkan rumah, membuka jendela yang macet, dan membiarkan udara masuk. Meski sempat merasa pengap, ia mengabaikannya. Malamnya pun tenang. Tidak ada suara aneh, tidak ada kejadian ganjil.
Sampai malam kedua.
Dina bermimpi berada di rumah lamanya—tempat yang sudah lama ia tinggalkan dan coba lupakan. Bau kayu lembap itu langsung terasa, disusul suara langkah kaki yang ia kenal. Berat, pelan, mendekat.
“Dina.”
Suara itu membuat tubuhnya membeku. Ia tahu suara itu. Ia ingin bangun, tapi tidak bisa. Langkah kaki itu semakin dekat, diikuti suara benda jatuh dan napas yang memburu.
Brak!
Dina terbangun dengan napas terengah. “Cuma mimpi…” bisiknya, mencoba menenangkan diri. Namun saat ia menyalakan lampu, ia menemukan goresan tipis di lengannya. Luka lama yang seharusnya sudah hilang.
Sejak malam itu, semuanya berubah. Mimpi itu datang terus-menerus, dengan potongan yang semakin jelas. Tentang ayahnya yang kasar, tentang ibunya yang pergi tanpa pamit, dan tentang dirinya yang kecil yang hanya bisa diam dan menahan takut. Setiap bangun, selalu ada sisa—rasa nyeri, napas yang berat, atau luka kecil yang entah dari mana datangnya.
Rumah itu tetap sunyi, tapi sunyinya terasa berbeda. Seolah bukan kosong, melainkan… menyimpan sesuatu. Dina mulai merasa tidak nyaman. Ia mencoba pulang lebih malam, menghindari waktu di rumah, tapi setiap kembali, perasaan itu selalu ada. Seolah rumah itu menunggunya.
Suatu sore, ia kembali ke warung. “Ibu, penghuni sebelumnya kenapa pindah?” tanyanya.
“Mereka nggak kuat,” jawab ibu itu singkat.
“Nggak kuat karena apa?”
Ibu itu menatap Dina lama. “Karena yang mereka tinggalin… nggak pernah benar-benar mereka tinggalin.”
Dina terdiam. Ia mulai mengerti, meski belum sepenuhnya.
“Kalau saya pindah sekarang?” tanyanya lagi.
Ibu itu menggeleng pelan. “Kalau belum selesai, mau ke mana pun tetap akan ikut.”
Malam itu, Dina duduk sendirian di ruang tamu. Lampu menyala terang, tapi bayangan di sudut ruangan tetap terasa lebih gelap. Ia menatap kosong, lalu berbisik pelan, “Ini bukan rumahnya… ini aku, ya?”
Tidak ada jawaban, tapi ia tahu. Jam menunjukkan pukul 02.13 saat ia tertidur di sofa.
Mimpi itu datang lagi, tapi kali ini lebih jelas. Ia kembali ke rumah lamanya, dan melihat dirinya yang kecil duduk di sudut ruangan. Tidak menangis, hanya diam. Menunggu. Dina berdiri di ambang pintu. Biasanya ia akan bangun di titik ini, tapi tidak kali ini.
Langkah kaki itu terdengar lagi. Sama seperti sebelumnya. Rasa takut itu muncul, tapi Dina tidak mundur. Ia melangkah masuk, mendekati dirinya yang kecil.
“Udah… nggak apa-apa,” katanya pelan.
Anak kecil itu mengangkat kepala. Matanya kosong, penuh takut yang lama terpendam.
“Aku di sini,” lanjut Dina.
Langkah kaki itu semakin dekat, lebih cepat, lebih keras. Namun Dina tetap di sana. Ia memeluk dirinya sendiri. Dan untuk pertama kalinya, ia tidak lari.
Suara langkah itu berhenti. Sunyi. Lalu, untuk pertama kalinya, Dina melihat dengan jelas sosok yang selama ini hanya ia dengar. Bukan ayahnya, melainkan dirinya sendiri—lebih tua, lebih dingin, berdiri di ambang pintu dengan tatapan kosong.
Sosok itu menatap Dina yang sedang memeluk versi kecilnya, lalu perlahan berkata, “Kamu yang ninggalin dia.”
Dina membeku. Dalam sekejap, semuanya terasa jelas. Selama ini ia bukan hanya korban yang lari dari masa lalu—ia juga yang memilih melupakan, meninggalkan dirinya yang kecil sendirian dengan semua rasa takut itu.
“Aku… minta maaf,” bisiknya.
Sosok itu tidak menjawab. Hanya menatap beberapa detik, lalu perlahan menghilang. Ruangan menjadi sunyi.
Pagi itu, Dina terbangun dengan napas panjang. Tidak ada rasa panik, tidak ada luka. Hanya perasaan ringan yang belum pernah ia rasakan sebelumnya. Hari-hari berikutnya berjalan normal. Tidak ada mimpi, tidak ada bayangan. Rumah nomor 7 kembali menjadi rumah biasa.
Seminggu kemudian, Dina berdiri di depan pintu dengan tas di tangannya. Ia tidak kabur. Ia hanya selesai. Sebelum pergi, ia menoleh ke dalam rumah. Sekilas, ia melihat bayangan kecil di sudut ruangan—versi dirinya yang dulu. Namun kali ini, anak itu tidak tampak takut. Ia hanya berdiri, lalu perlahan berjalan menjauh dan menghilang.
Dina tersenyum kecil. Ia menutup pintu dan pergi.
Beberapa hari kemudian, rumah nomor 7 kembali ditempati orang baru. Seorang pria muda dengan wajah lelah. Ia berbicara sebentar dengan ibu warung sebelum masuk.
“Rumahnya murah, ya, Bu?”
Ibu itu mengangguk pelan. “Murah… kalau kamu siap.”
“Siap apa?”
Ibu itu tidak langsung menjawab. Ia hanya tersenyum tipis. “Ketemu sama yang belum selesai.”
Pria itu tertawa kecil, menganggapnya bercanda, lalu masuk ke dalam rumah. Malam kedua, lampu rumah nomor 7 kembali menyala sampai larut. Dan untuk pertama kalinya sejak lama, terdengar suara seseorang terbangun tiba-tiba di tengah malam.
Baca Juga
Artikel Terkait
Cerita-misteri
Terkini
-
Semalam Malas Nikah, Pagi Malah Ingin: Bagaimana FYP TikTok Mengacak Standar Kebahagiaan Kita
-
Headphone Retro "Kalcer" di Bawah 500 Ribu: Mengulik Moondrop Old Fashioned
-
Di Lereng Merbabu, Saya Menemukan Rumah yang Tak Pernah Saya Cari Sebelumnya
-
Sekar Nawang Sari
-
Di Balik Panas dan Jalan Berlubang: Menemukan 4 Sudut Syahdu di Kota Udang Cirebon