M. Reza Sulaiman | Miranda Nurislami Badarudin
Ilustrasi Toko yang Menjual Kenangan (ChatGPT)
Miranda Nurislami Badarudin

Tidak ada yang benar-benar tahu sejak kapan gang itu muncul. Orang-orang melewati jalan itu setiap hari tanpa pernah melihatnya—kecuali mereka yang membawa sesuatu yang terlalu berat untuk disimpan sendiri.

Sore itu, Raka menemukannya. Atau mungkin, gang itu yang menemukannya.

Langkahnya melambat di antara deretan bangunan tua yang kusam. Ada celah sempit yang terasa asing, seperti baru saja diciptakan. Di ujungnya, berdiri sebuah toko kecil tanpa nama. Pintu kayunya sedikit terbuka, cukup untuk mengundang rasa ragu.

Raka masuk.

Udara di dalam terasa tenang, tapi bukan tenang yang biasa. Lebih seperti sesuatu yang sengaja ditahan agar tidak bergerak terlalu cepat. Di balik meja kayu, seorang pria tua duduk dengan sikap yang tidak tergesa.

“Selamat datang,” katanya.

Raka tidak bertanya apa-apa. Ia hanya berdiri, dengan pikirannya yang mulai dipenuhi hal-hal yang selama ini ia hindari.

“Mau menjual kenangan apa hari ini?”

Pertanyaan itu terdengar aneh, tapi tidak terasa salah. Kenangan pertama datang sendiri. Wajah seseorang, tawa yang dulu terasa dekat, lalu perpisahan yang terlalu cepat. Raka tidak menjelaskan. Ia hanya mengingat.

Pria tua itu mengangguk, lalu menyentuh kening Raka. Singkat. Dingin. Dan rasa itu hilang.

Raka masih tahu bahwa sesuatu pernah terjadi, tapi tidak ada lagi beban yang mengikutinya. Tidak ada sesak, tidak ada sisa luka. Hanya ruang kosong yang terasa ringan.

Ia kembali ke toko itu keesokan harinya. Lalu hari berikutnya. Setiap kali datang, ia meninggalkan satu kenangan—tentang kegagalan, tentang rasa malu, tentang kata-kata yang tidak bisa ditarik kembali. Semua dilepaskan tanpa banyak pertimbangan. Semakin sedikit yang ia bawa pulang, semakin mudah ia berjalan.

Hidupnya terasa rapi. Tidak ada yang mengganggu pikirannya saat malam. Tidak ada yang menahan langkahnya saat pagi. Sampai suatu hari, ia tertawa dan tidak merasakan apa-apa. Tawa itu terdengar normal, tapi kosong. Seperti suara yang tidak berasal dari mana pun.

Raka berhenti di tengah keramaian. Ia mencoba mencari sesuatu di dalam dirinya—sisa marah, sisa sedih, atau sekadar hangat. Tidak ada. Untuk pertama kalinya, ia merasa kehilangan sesuatu yang tidak bisa ia sebutkan.

Ia kembali ke gang itu dengan langkah cepat. Toko itu masih ada, seperti tidak pernah pergi.

“Aku ingin mengambilnya kembali,” katanya.

Pria tua itu menatapnya lama. “Yang sudah kamu lepaskan, tidak lagi menjadi milikmu.”

“Itu bagian dari aku.”

“Dulu.”

Jawaban itu sederhana, tapi cukup untuk menutup kemungkinan apa pun. Raka menelan napas pelan. Ia mencoba marah, tapi tidak berhasil. Bahkan penyesalan pun terasa setengah.

“Kenapa aku jadi seperti ini?”

“Kamu tidak hanya membuang luka,” jawab pria itu. “Kamu juga membuang hal yang membuat luka itu berarti.”

Raka terdiam. Kalimat itu masuk akal, tapi tidak cukup untuk memperbaiki apa pun. Ia menoleh, siap pergi. Tidak ada lagi yang bisa ia lakukan di tempat itu.

“Kalau begitu,” katanya pelan, “tutup saja toko ini. Tidak ada gunanya.”

Untuk pertama kalinya, pria tua itu tersenyum sedikit berbeda. “Ada,” katanya. “Selalu ada.”

Raka mengernyit, tapi tidak sempat bertanya. Ruangan itu terasa bergeser. Bukan bergerak, tapi berubah—pelan, seperti sesuatu yang lama disusun ulang. Udara yang tadi terasa diam kini seperti menekan. Raka mencoba melangkah mundur, tapi langkahnya terhenti. Bukan karena ditahan, melainkan karena ia tidak yakin harus ke mana.

Pria tua itu berdiri. Gerakannya lambat, tapi pasti. Ia berjalan mendekat, lalu berhenti tepat di depan Raka.

“Kamu sudah tidak punya cukup kenangan untuk dibawa pergi,” katanya.

Raka tidak langsung mengerti. Ia ingin bertanya, tapi pikirannya terasa kosong.

“Orang yang datang ke sini,” lanjut pria itu, “selalu membawa sesuatu. Luka, rasa bersalah, kehilangan. Itu yang membuat mereka tetap… utuh.”

Raka menatapnya, mencoba menangkap maksudnya.

“Dan kamu sudah menjual semuanya.”

Sunyi. Kalimat itu sederhana, tapi terasa berat.

“Apa maksudnya?”

Pria tua itu tidak langsung menjawab. Ia hanya menepuk pelan bahu Raka, lalu berjalan kembali ke kursinya. “Sekarang,” katanya, “tidak ada yang tersisa darimu untuk dunia di luar sana.”

Raka berdiri kaku. Ia mencoba mengingat—apa yang ia sukai, siapa yang ia tunggu, ke mana ia harus pulang. Tidak ada jawaban. Hanya ruang kosong yang luas. Ia menoleh ke arah pintu. Masih terbuka, seperti sebelumnya. Tapi entah kenapa, terlihat lebih jauh.

Ia melangkah. Satu langkah. Dua langkah. Lalu berhenti.

Ada sesuatu yang tidak pas. Bukan karena pintunya berubah, melainkan karena dirinya sendiri terasa tidak cukup untuk mencapainya.

“Kenapa aku tidak bisa keluar?” suaranya lebih pelan dari yang ia kira.

Pria tua itu tidak menatapnya. “Karena tidak ada yang menunggumu di luar.”

Kalimat itu tidak terdengar kejam. Hanya… pasti.

Raka berdiri lama di sana. Tidak panik, tidak juga tenang. Hanya diam, seperti seseorang yang baru menyadari bahwa ia tidak punya arah. Beberapa saat kemudian, pria tua itu berdiri lagi. Kali ini, ia melepaskan jaket lusuh yang dikenakannya dan meletakkannya di sandaran kursi.

Ia menatap Raka sebentar. “Kamu akan mengerti nanti,” katanya.

“Menunggu apa?”

“Orang berikutnya.”

Pria tua itu berjalan melewati Raka menuju pintu. Saat ia membuka dan melangkah keluar, gang di luar tampak seperti biasa—sempit, sunyi, dan tidak menarik. Sebelum benar-benar pergi, ia berhenti sebentar.

“Setiap toko butuh penjaga,” katanya tanpa menoleh.

Lalu ia pergi. Pintu menutup pelan. Dan untuk pertama kalinya, Raka duduk di balik meja kayu itu.

Waktu kembali terasa lambat. Udara kembali diam. Beberapa saat berlalu—atau mungkin lebih lama dari itu. Lalu, suara langkah terdengar dari luar. Pelan. Ragu. Pintu terbuka sedikit.

Seseorang berdiri di ambang, dengan wajah lelah yang terasa tidak asing. Raka menatapnya. Dan tanpa perlu berpikir, tanpa perlu mengingat dari mana kalimat itu berasal, ia berkata dengan suara tenang,

“Selamat datang.”

Ia berhenti sejenak, lalu melanjutkan, “Mau menjual kenangan apa hari ini?”