"Lho, Rudi sama Bayu nggak hadir ya?” tanyaku pada Paklek Randi. “Atau masih di belakang?”
Paklek Randi menyambut tanganku dan kami bersalaman. “Sepertinya masih di belakang. Tadi ketinggalan rombongan.”
Hari raya ketiga adalah momentum keluarga dari bapak berkumpul di rumah kami. Ada Paklek Randi dan istrinya, Bulek Mila; Bulek Isah dengan anak bungsu, Alifah, dan anak keduanya, Resi bersama suaminya, Steven, serta anak mereka, Grizella; Bulek Riani dengan Paklek Abi dan kedua anaknya, Firli dan Rifa; serta Paklek Mardi dengan Bulek Riana dan ketiga anaknya, Evi, Risa, dan Mia.
Minus kehadiran anak sulung dan anak ketiga Bulek Isah yakni; Rudi dan Bayu.
“Adik sepupumu itu sakit perut tadi. Entah kemarin makan apa, dari pagi ke WC terus,” imbuh Bulek Isah. “Makanya, Rudi nggak bisa hadir. Dia menemani adiknya yang sakit di rumah.”
“Owalah."
Acara reuni kami berlangsung meriah. Mulai dari makan-makan, mencoba kue-kue lebaran, berbincang ngalor-ngidul, hingga keabsurdan para bocil yakni; Grizella, Rifa, Risa, dan Mia. Nggak tanggung-tanggung, saat para bocil menangis, suasana jadi makin meriah saja. Hingga salah satu celetukan Bulek Riani sukses mencuri atensi kami.
“Aku jadi teringat satu malam takbir sebelum aku menikah dulu,” Bulek Riani mencomot nastar. “Pas aku membantu Emak membuat wajik, ada yang mencoba mendobrak pintu dapur.”
“Jam berapa itu, Ri?” tanya Bapak.
“Entah jam sepuluh atau sebelas malam, Kang. Pokoknya, malam itu hawanya dingin sekali. Suara takbir memang kedengaran, tapi aneh saja hawanya.”
Aku lantas teringat rumpun bambu dan pisang yang wingit (angker) berkat cerita Paklek Randi tempo waktu. Yang mana, pintu dapur berjarak lumayan dekat dari situ. “Jangan-jangan demit?”
“Katanya kan, rumpun bambu itu ada penunggunya?” celetuk Ibuk.
“Jadi, gimana ceritanya, Ri?” tanya Bulek Isah.
“Jadi, malam itu sekitar jam sepuluh atau sebelasan, aku lagi menggoreng kerupuk rengginang sama kerupuk gadung. Nah, Emak masih sibuk dengan ketan yang dibuat wajik….” Bulek Riani kemudian tampak menerawang, mengingat-ingat. “...nah, ujug-ujug ada suara ketukan di pintu dapur. Kuliriklah Emak, eh beliau cuek.”
“Emak itu orangnya pemberani lho,” komentar Bapak.
“Terus gimana, Ri?” tanya Ibuk.
Rupanya, di malam takbir itu Bulek Riani bersama nenek sedang sibuk mempersiapkan hidangan lebaran. Memang sudah ada beberapa kue yang dibeli, tetapi memang nenek itu orangnya kreatif. Kemarin sudah membuat tape ketan yang bakal matang di hari lebaran. Jadilah malam ini sibuk menggoreng aneka kerupuk, hingga membuat wajik dan jadah.
Bulek Riani mendapat tugas menggoreng kerupuk, sedangkan nenek sibuk dengan wajik dan jadah. Malam kian larut, tetapi mereka berdua masih berada di dapur. Suara takbir terus berkumandang, pun suara ketukan di pintu dapur yang kian menuntut.
Tadinya satu, dua, tiga ketukan. Lama-lama menjadi banyak. Ditambah lagi, seperti ada seseorang yang memainkan handle pintu dari luar. Suaranya nyaring, dan handle bergerak naik turun dengan brutal.
“Mak, itu... apaan?” tanya Riani ketakutan.
“Jangan takut. Aku masih sibuk dengan wajik. Kamu lanjutkan menggoreng kerupuk saja.”
Nenek beberapa kali memasukkan kayu baru ke tungku api, sebelum kembali mengaduk wajik di wajan. Tampak tidak peduli dengan pintu dapur. Suara gedoran pintu terdengar. Disusul dengan suara gebrakan yang mungkin mencoba mendobrak pintu dapur. Bulek Riani kian mengkerut sambil terus menggoreng kerupuk.
“Jangan-jangan maling, Mak?”
Nenek terdiam. Tetap tidak bergerak dari tungku api dan wajan. Hingga kurang lebih lima belas menit atau malah setengah jam kemudian, pintu kembali normal. Tidak ada suara ketukan, gedoran, hingga handle pun diam. Senyap. Kecuali suara jangkrik dan hewan-hewan malam.
Bulek Riani bernapas lega. Dia lantas melirik nenek yang terlihat santai dengan wajiknya. Entah tidak mendengar gangguan tadi, atau justru tidak peduli.
“Fix itu pasti demit,” komentarku. “Paklek Randi saja pernah lihat pocong di dekat rumpun bambu itu kok.”
Tanpa diduga, Bulek Riani justru tertawa. “Ceritanya belum selesai lho, Fris.”
Aku kembali diam, sembari menyimak lanjutan ceritanya. Gema takbir masih terdengar malam itu, berpadu dengan aroma wangi hangat wajik dan rengginang. Bulek Riani bahkan mengakui betapa gurihnya rengginang bikinan nenek. Tepat sekitar jam setengah dua belasan, semua pekerjaan selesai.
Kukira, kisahnya bakal berhenti di sini. Namun, ternyata ada plot twist yang tersembunyi.
“Minta icip wajiknya. Sama rengginang satu.”
Bulek Riani hampir terperanjat sewaktu kakek nyelonong ke dapur dan ujug-ujug meminta icip jajanan. Beliau tampak menahan senyum, dengan sarung yang menutupi kepala. Selayang pandang, kakek melempar tatapan pada nenek yang hanya dibalas ekspresi datar sebelum kakek bergumam lirih.
“Tak mempan ternyata.”
Kami semua kompak tertawa saat mendengar penuturan Bulek Riani.
Baca Juga
-
Sosok Berkepala Lancip di Rumpun Bambu Dekat Halaman Belakang Rumah Pakpuh
-
Perempuan Muda Bermata Kosong yang Menghilang di dalam Kabin Truk Samsuri
-
Berkah Pion di Warung Kopi: Ketika Perang di Papan Hitam Putih Ternyata Bisa Lawan Pikun
-
Pocong Berdarah di Dahan Sengon Buto yang Dilihat oleh Lek Salim
-
Dimensi Mimpi: Bocah Bertopi Gendut yang Menganggapku Gila
Artikel Terkait
Cerita-misteri
Terkini
-
Belajar Ikhlas di Taman Rusa USU: Ruang Pulang Saat Saya Berada di Titik Terendah
-
Jangan Salah Beli! 4 HP yang Masih Worth It di Tengah Harga yang Naik
-
Jadi Film Terseram 2026, Salmokji Akan Tayang di Bioskop Indonesia
-
5 HP Infinix dengan Kamera Terbaik 2026, Harga Mulai di Bawah Rp2 Jutaan
-
Lenovo Serius Garap Tablet Premium, Yoga Tab Siap Jadi Pengganti Laptop?