M. Reza Sulaiman | Tika Maya Sari
ilustrasi hantu kepala lancip (Unsplash/Alekon pictures)
Tika Maya Sari

Lebaran tahun ini, aku bertemu kembali dengan sanak kerabat, tak terkecuali para sepupu. Baik yang seumuran, maupun yang usianya jauh lebih kecil. Salah satunya adalah Rifa, bocah berusia empat tahunan yang merupakan anak kedua Bulek Riani. Masalahnya, selain dia ini aktif dan lincah, bocah ini mampu membuat orang lain merinding lewat lisannya.

Termasuk saat dia melaporkan ada sosok aneh sewaktu ikut acara reuni di rumahku. Begini kronologinya.

“Budhe, di sana ada orang aneh,” tunjuk Rifa ke arah halaman belakang, tepatnya ke salah satu pohon nangka melengkung di belakang kandang sapi Mbah Di. “Badannya hitam, kepalanya lancip seperti kerucut.”

Dahi Ibuk mengernyit heran. “Di mana to, Nduk?”

Rifa konsisten menunjuk ke arah pekarangan kosong di belakang kandang sapi. Di sana, terdapat pohon nangka melengkung sebagai tapal batas tanah pekarangan, yang kapan hari memang ada sosok lain yang hadir. Tapi bukan yang dimaksud Rifa.

“Kepala lancip? Bukannya perempuan berambut panjang?” tanyaku heran. “Kamu jangan nakuti orang, lho.”

“Betulan, Mbak. Yang perempuan berambut panjang juga ada, tapi orangnya cuek. Kalau yang kepala lancip ngawasi aku terus.”

Aku sendiri sudah merinding mendengar perkataannya. Namun, Ibuk ternyata tertarik dan terus menggali informasi. “Si kepala lancip ada di mana? Di pohon melengkung? Atau di mana?”

“Tadi di situ. Terus sekarang pindah ke rumpun bambu.”

Ibuk mengangguk. Aku juga mengangguk. Jangankan Rifa yang bocah kecil, nyaris seluruh orang kampung ini setuju bahwa tanah pekarangan di belakang kandang sapi Mbah Di itu wingit (angker). Konon ada macam-macam makhluk yang mendiami lokasi itu.

“Rif, ayo main bola,” ajak Paklek Abi, ayahnya Rifa.

Kukira, Rifa bakalan menolak lantaran masih takut dengan sosok kepala lancip tadi. Meski sebetulnya aku tidak mendapati apa-apa saat melihat ke sana. Kecuali vibes aneh entah karena rimbun pepohonan yang menghambat sinar matahari, atau karena ‘mereka’ memang hadir.

“Ayo, Yah!”

Eh, ternyata bocah ini langsung berlari?

Jadilah kami bermain bola di halaman belakang rumahku, yang langsung bersisian dengan tanah pekarangan wingit tersebut. Tanpa pagar pembatas, kecuali pagar hidup yang terbentuk dari pepohonan.

“Ri, anakmu ini indigo, ya?” tanya Ibuk sewaktu acara main bola pending sementara, dan Rifa tampak asyik dengan nastar. "Dia bilang kalau ada sosok-sosok seram di rumpun bambu kuning di pekarangan sebelah. Aku sih nggak lihat, cuma cerita orang-orang kampung selalu bilang kalau tanah di sebelah itu memang angker."

Bulek Riani tersenyum. “Entahlah, Mbak. Tapi sejak dia pingsan dulu, dia jadi gampang lihat begituan.”

“Pingsan bagaimana, Bulek?” tanyaku heran.

Bulek Riani memandangi Rifa yang tersenyum tanpa beban. “Dulu, Rifa ini pernah nggak sadar. Apa ya, mirip orang pingsan atau koma gitu, lho. Jantungnya masih berdetak, nadinya berdenyut, napasnya normal. Tapi anak ini nggak bisa dibangunkan.”

“Asal mulanya bagaimana?” tanya Ibuk.

Bulek Riani kemudian bercerita bahwa Rifa sempat nggak sadar setelah konon didatangi oleh salah satu entitas tak kasatmata. Bocah itu semula sehat-sehat saja, hingga suatu hari tampak asyik bermain sendiri di salah satu sudut rumah. Keesokan harinya, bocah itu sudah tidak sadar. Kondisinya mirip koma.

Segala upaya dilakukan, hingga memanggil sesepuh kampung yang malah mengatakan bahwa Rifa didatangi oleh arwah nenek moyangnya. Namun, bocah itu kemudian sadar, kembali sehat, dan beraktivitas seperti sediakala. Meskipun, dia kerap mengatakan keberadaan entitas-entitas tak kasatmata yang asli bikin merinding ibunya.

“Dan sejak saat itu, Rifa gampang melihat begituan, Mbak. Padahal aku nggak lihat apa-apa,” pungkas Bulek Riani.

Aku sendiri bukanlah orang indigo, atau punya kemampuan melihat begituan. Namun, aku sering merinding dan beberapa kali apes bertemu beberapa entitasnya. Melihat ekspresi Rifa yang bercampur antara ngeri, heran, dan ingin tahu, mungkin bocah ini melihat apa yang orang lain nggak lihat.

Pun deskripsinya terhadap si kepala lancip. Di mana Rifa menjelaskan wujudnya yang bertubuh kurus tinggi dengan pakaian serba hitam, dan kepala mirip kerucut. Sosok itu berdiam di bawah rumpun bambu kuning, dan tampak mengawasi. Entahlah.

“Siang begini kok hawanya merinding, ya?” kata Paklek Abi yang membuatku menahan napas. “Masa siang-siang begini ada dedemit?”

“Ada laki-laki aneh berbaju hitam, Yah. Kepalanya lancip,” celetuk anaknya. “Ada juga Mbak Kunti di sana. Rambutnya panjang.”

Paklek Abi terdiam. Kemudian segera mengoper bola pada anaknya agar perbincangan soal makhluk-makhluk ini tak lagi dilanjutkan.

Mungkin benar apa kata orang-orang tua, bahwasanya anak kecil mampu melihat apa yang orang dewasa tidak bisa lihat. Termasuk entitas gaib yang dilihat Rifa, tetapi hanya bisa kurasakan lewat hawa dingin, tengkuk meremang, dan vibes ngeri rumpun bambu kuning di sana.