Anime The Beginning After The End resmi tayang perdana pada 2 April lalu dan telah tersedia di platform iQIYI, Netflix, maupun Crunchyroll. Judul ini menjadi salah satu karya yang paling banyak dibicarakan, bahkan kerap disandingkan dengan Mushoku Tensei.
Diangkat dari web novel karya TurtleMe sebelum menjelma jadi manhwa populer, seri ini berkisah tentang Raja Grey yang terlahir kembali sebagai Arthur Leywin di benua ajaib Dicathen.
Meski memulai hidup dari nol sebagai seorang bayi, ingatan dan pengalaman dari kehidupan lamanya tetaplah melekat.
Dilengkapi dengan kebijaksanaan masa lalu, Arthur tumbuh dengan cepat, mulai menguasai sihir, dan perlahan membentuk jalan hidupnya sendiri.
Versi format orisinalnya begitu populer karena punya jalan cerita yang beda dari yang lain, dunia fantasi yang dibangun dengan detail, dan aksi pertarungan yang seru abis.
Tiga hal inilah yang bikin The Beginning After The End jadi salah satu judul favorit yang nggak bisa dilewatkan pembaca setianya.
Dengan reputasi setinggi itu, wajar kalau banyak yang penasaran dan bertanya-tanya bagaimana versi animenya dibandingkan dengan versi web novel atau manhwa-nya?
Kualitas Animasi Dinilai Tak Sesuai Ekspektasi
Anime The Beginning After The End baru menayangkan dua episode perdananya dan reaksi dari penggemar sudah terbagi dua kubu. Masalah utamanya? Kualitas animasi yang dianggap jauh dari ekspektasi.
Sejak episode pertama, banyak penonton yang kecewa karena tayangannya dipenuhi dengan still frame dan gerakan kamera yang monoton.
Bukan karena gaya artistik, tapi karena rasanya tidak sebanding dengan cerita The Beginning After The End yang sebenarnya punya potensi besar.
Alih-alih aksi yang intens atau visual yang memanjakan mata, yang muncul justru adegan-adegan statis yang dinilai terlalu sederhana untuk anime sebesar ini.
Kekecewaan penggemar pun tumpah ruah di media sosial. Bahkan tak sedikit yang membandingkan kualitas adaptasi The Beginning After The End dengan Solo Leveling yang dinilai jauh lebih spektakuler secara visual.
Kekecewaan fans terhadap adaptasi anime The Beginning After The End rupanya nggak berhenti di media sosial.
Beberapa di antaranya bahkan sampai membuat petisi di Change.org untuk menuntut agar seri ini dibatalkan dan diproduksi ulang total.
Keluhan paling besar datang dari episode kedua. Di sinilah kualitas animasi dinilai benar-benar di bawah standar.
Satu adegan pertarungan penuh justru disajikan lewat kumpulan still frame yang hanya bergerak lewat efek suara dan garis-garis aksi. Bukan adegan klimaks yang menegangkan, justru terasa datar dan hambar.
Kalau dilihat dari dua episode yang sudah tayang, sepertinya harapan para penggemar untuk melihat adegan-adegan ikonik The Beginning After The End divisualisasikan dengan animasi memanjakan mata harus ditunda dulu.
Walau Kontroversial, The Beginning After The End Masih Layak Ditonton
Di balik kontroversi soal kualitas animasi, The Beginning After The End sebenarnya masih menyimpan potensi yang cukup menjanjikan, salah satunya plot cerita yang ditawarkan lewat versi anime ini.
Seri ini menambahkan beberapa adegan baru di bagian awal cerita yang sebelumnya tidak ditemukan di versi webtoon maupun novelnya.
Tambahan ini bukan sekadar pemanis, tapi justru memperkaya latar belakang karakter dan memberikan motivasi yang terasa lebih kuat dan relevan.
Langkah ini jadi nilai tambah tersendiri, karena bisa memberi pengalaman baru, baik untuk penonton lama maupun yang baru pertama kali mengenal dunia The Beginning After The End.
Meski visualnya masih jadi bahan perdebatan, penyajian cerita yang lebih dalam ini bisa jadi alasan kenapa seri ini tetap layak diberi kesempatan.
Di awal cerita manhwa, kehidupan masa lalu Arthur tidak terlalu banyak dibahas. Ia hanya digambarkan sebagai seorang raja yang kuat, yang akhirnya tewas akibat dibunuh oleh para pembunuh bayaran.
Nah di versi anime, karakter Raja Grey diberi dimensi yang lebih kompleks. Kita bisa melihat sisi kejam dan dinginnya, serta kemampuannya untuk melakukan kekerasan terhadap orang-orang tak bersalah.
Salah satu adegannya ialah ketika dia memerintahkan pengeboman massal di sebuah kota dan mengeksekusi keluarga seorang pria di depan matanya.
Kalau dieksekusi dengan tepat, The Beginning After The End sebenarnya punya potensi untuk tumbuh jadi tontonan fantasi yang apik.
Cerita dasarnya sudah kuat dan akan sangat menarik kalau serial ini berani menggali lebih dalam lewat tambahan adegan yang memperluas semesta serta memberi ruang bagi karakter-karakternya berkembang.
Meski begitu, serial ini memang belum sepenuhnya meyakinkan. Untuk sebagian penggemar anime, kualitas animasinya mungkin jadi catatan tersendiri yang cukup membuat ragu untuk lanjut menonton.
Tapi buat yang lebih mementingkan cerita dan perjalanan karakter, The Beginning After The End justru mulai menunjukkan arah yang patut dilirik.
Cek berita dan artikel lainnya di GOOGLE NEWS.
Baca Juga
-
Sony Buka Suara, Produksi Sekuel KPop Demon Hunters Terancam Mundur?
-
Helldivers Diangkat Jadi Film Layar Lebar, Jason Momoa Masuk Jajaran Pemain
-
Proyek Biopik Frank Sinatra Masih Mandek, Leonardo DiCaprio Angkat Bicara
-
Serial Spider-Noir Siap Tayang 27 Mei 2026, Nicolas Cage Jadi Bintang Utama
-
Digarap Sam Raimi, Film Send Help Raih Rating 93% di Rotten Tomatoes
Artikel Terkait
-
Dari Bencana Alam hingga Alien, Inilah 10 Film tentang Kehancuran Dunia
-
Review The Residence: Drama Kriminal di Gedung Putih yang Bikin Ketagihan
-
3 Anime Orisinal Netflix Tayang April 2025, Jangan Sampai Kelewatan!
-
3 Pahlawan dengan Quirk yang Tampak Licik dan Keji di Boku no Hero Academia
-
5 Hunter Terkuat dari Luar Asia dalam Anime Solo Leveling, Ada Husbumu?
Entertainment
-
Seiyu Awards 2026 Umumkan Pemenang, VA Denji Chainsaw Man Bawa Pulang Piala
-
INB100 Hadapi Sengketa Pembayaran Biaya Produksi MV Xiumin yang Belum Lunas
-
Sinopsis Whispering Water, Film Horor Baru yang Dibintangi Kim Hye Yoon
-
BTS Kuasai Chart Melon Top 100, Album ARIRANG Tembus 3,98 Juta Penjualan
-
Sinopsis Do Deewane Seher Mein, Film India Romantis Terbaru Mrunal Thakur
Terkini
-
Ulasan Film Na Willa: Nostalgia Hangat yang Bikin Rindu Masa Kecil
-
Film Dream Animals: The Movie, Hewan Lucu Selamatkan Dunia Camilan
-
WFH demi Hemat BBM: Solusi Visioner atau Sekadar Geser Beban ke Rakyat?
-
Review S Line: Garis Merah yang Menguak Rahasia Terdalam Manusia
-
Dear Pemudik, Jika Lelah Jangan Paksakan Diri Berkendara