Aktris dan produser Prilly Latuconsina baru-baru ini membuka sisi rapuh dalam dirinya. Ia mengungkapkan perasaan sedih yang kerap ia pendam, bukan karena tidak ingin berbagi, melainkan karena emosinya sering dianggap tidak pantas oleh orang-orang di sekitarnya.
Publik menilai hidupnya sudah sempurna, sehingga kesedihan yang ia rasakan kerap dipandang sepele.
Pengakuan tersebut disampaikan Prilly saat menjadi bintang tamu podcast Suara Berkelas yang diunggah pada 28 Desember 2025.
Dalam perbincangan itu, Prilly menyoroti kebiasaan banyak orang yang menilai masalah hanya dari sisi materi, seolah kekayaan bisa meniadakan luka batin.
Menurutnya, cara pandang seperti itu keliru dan tidak adil. Ia menegaskan bahwa kondisi finansial tidak bisa dijadikan tolok ukur untuk menilai atau menghakimi perasaan seseorang.
“Kita kan enggak bisa menilai masalah orang dari materi. Oke kita melihat orang itu punya segalanya, punya uang. Tapi ya pasti Tuhan itu adil, Tuhan akan ngasih masalah yang sesuai dengan levelnya dia,” ujar Prilly.
Sedih Tetap Manusiawi
Prilly menekankan bahwa setiap orang, siapa pun latar belakangnya, tetap berhak merasakan sedih. Kepemilikan materi tidak serta-merta menghapus sisi manusiawi seseorang.
“Tapi bukan berarti dia enggak sedih, bukan berarti dia enggak bisa jadi manusia,” lanjutnya.
Ia lalu menceritakan pengalaman pribadi ketika kesedihannya justru kerap dijadikan bahan candaan oleh orang-orang terdekat. Alih-alih didengar, keluh kesahnya sering dibalas dengan lelucon yang membandingkan emosinya dengan kemapanan hidup.
Kesedihan yang Dijadikan Candaan
Prilly menirukan komentar yang kerap ia terima saat sedang menangis atau berada di titik terendah. Candaan tersebut, meski terdengar ringan, meninggalkan luka yang tidak terlihat.
“Aku sering dibecandain kalau misalnya aku lagi nangis, temanku atau apa aku dibecandain ‘Ya lo nangis tapi rumah lo marmer’,” ucap Prilly.
Ia juga kerap mendengar komentar serupa ketika mencoba bercerita tentang perasaannya.
“Ya orang-orang gitu, misalkan aku cerita ‘Lo nangis juga besoknya lo juga bisa beli tiket ke Itali, terus lo nangis di Lake Como',” sambungnya.
Kesedihan Tetap Perlu Didengar
Meski menyadari bahwa dirinya memang telah memiliki banyak hal yang diimpikan orang lain, Prilly menegaskan bahwa hal tersebut tidak serta-merta menghapus rasa sedih yang ia alami. Menurutnya, emosi tetap perlu diakui dan diberi ruang.
“Dan aku ngerasa kayak, ya iya sih, tapi bukan berarti gue berhenti nangisnya kan, berarti gue tetap nangis dong. Berarti tetap ada emosi sedih di situ yang harus ditampung dan harus didengar,” katanya.
Fase Rapuh dan Rasa Sendiri
Pengalaman-pengalaman itulah yang membuat Prilly kerap merasa sendirian. Ia menggambarkan masa tersebut sebagai fase paling rapuh dalam hidupnya, ketika ia merasa tidak benar-benar dimengerti.
“Itu adalah fase-fase retak di mana aku benar-benar merasa sendiri,” ungkapnya.
Prilly mengakui, perlakuan semacam itu perlahan membuatnya merasa tidak pantas untuk bersedih. Seolah-olah ia tidak diberi ruang untuk merasakan emosi secara utuh, hanya karena label sukses yang melekat padanya.
“Aku ngerasa kayak aku itu gak pantes sedih,” tutup Prilly dengan jujur.
Curahan hati Prilly ini menjadi pengingat bahwa kesehatan mental dan emosi tidak mengenal status atau materi. Setiap orang berhak didengar, tanpa perlu dibandingkan dengan apa yang terlihat di permukaan.
Baca Juga
-
Romansa Quinn dan Staten Berlanjut di Ransom Canyon Season 2
-
4 Ide OOTD Eclectic Romantic ala Miyeon i-dle, Feminin tapi Tetap Standout!
-
4 Mix and Match OOTD Dark Streetwear ala Seonghwa ATEEZ, Modis Tanpa Ribet!
-
Tayang 17 Juli di Netflix, Nam Joo Hyuk Bakal Buru Hantu di The East Palace
-
Daily Look Makin Kece, Intip 4 Ide OOTD Casual Grunge-Pop ala Karina aespa
Artikel Terkait
-
Merasa Dianggap Tak Pantas Bersedih Gara-Gara Punya Segalanya, Prilly Latuconsina Ungkap Luka Batin
-
Belajar Authenticity dari Prilly Latuconsina Lewat Buku Retak, Luruh, dan Kembali Utuh
-
Prilly Latuconsina Berbagi Pengalaman Tahun Baru di Jepang: Hening!
-
Pengalaman Prilly Latuconsina Tahun Baruan di Jepang: Orang Sibuk Berdoa, Tak Ada Kembang Api
-
6 Film Tayang Lebaran 2026, Prilly Latuconsina dan Luna Maya Berhadapan di Genre Horor
Entertainment
-
Romansa Quinn dan Staten Berlanjut di Ransom Canyon Season 2
-
Tayang 21 Juli, Lee Seok Hoon dan DinDin Jadi Pembawa Acara di Playlist 109
-
Lama Dinanti, Delicious in Dungeon Season 2 Tayang Oktober 2027 di Netflix
-
L INFINITE Dipastikan Absen dari Tur Fan Meeting, Agensi Ungkap Alasannya
-
Mulai Rp 1,45 Juta, Ini Harga Tiket Konser ENHYPEN 'Blood Saga' di Jakarta
Terkini
-
Ketika Rakyat Patungan Membangun Jembatan, Apa Prioritas Negara?
-
Seni Menghadapi Tetangga Cerewet dan Julid: Manfaatkan Situasi dengan Baik!
-
Review Moana Live Action: Hadirkan Sentuhan Budaya Polinesia yang Autentik
-
Bye Kemerahan! 4 Moisturizer Cream Madecassoside Cocok untuk Kulit Kering
-
Rumah Kecil dengan Seribu Tawa