Gara-Gara Telat Ngopi, Aku Terjebak Caffeine Withdrawal Syndrome

M. Reza Sulaiman | Tika Maya Sari
Gara-Gara Telat Ngopi, Aku Terjebak Caffeine Withdrawal Syndrome
ilustrasi sakit kepala karena caffeine withdrawal symptoms. (Unsplash/Vitaly Garief)

Sebagai seorang penikmat kopi hitam yang doyan menulis puisi galau, kopi hitam adalah rutinitas harian. Tidak usah muluk-muluk kopi dengan brand mahal, cukup bubuk kopi, gula, dan diseduh dengan air panas, kemudian dinikmati sambil melihat laba-laba di dahan-dahan pohon bidara.

Namun, ada kalanya aku kesiangan hingga tidak sempat mengopi. Dan apa akibatnya? Aku "edan" dalam gejolak Caffeine Withdrawal Syndrome.

Apa Itu Caffeine Withdrawal Syndrome?

Mengutip laman Healthline, Caffeine Withdrawal Syndrome adalah situasi yang terjadi ketika seseorang yang rutin mengonsumsi kafein justru mengurangi asupannya atau malah berhenti total. Kafein sendiri bisa terdapat dalam kopi ataupun cokelat, ya.

Caffeine Withdrawal Syndrome terjadi dalam kurun waktu yang bervariasi pada setiap orang. Namun, kebanyakan kasus terjadi dalam 12–24 jam setelah kafein terakhir, atau 24–48 jam, hingga bisa berlangsung selama 2–9 hari.

Gejala umum yang dirasakan meliputi:

  • Pusing,
  • Kelelahan,
  • Tidak bertenaga alias loyo,
  • Susah fokus,
  • Tremor,
  • Nyeri otot,
  • Gangguan mood semacam anxiety atau depresi.

No Coffee, No Life!

Aku sendiri mendapatkan asupan kafein dari kopi hitam yang kukonsumsi setiap pagi sebagai rutinitas harian. Kalau mentok kehabisan bubuk kopi yang dibeli kiloan oleh ibu, aku tidak masalah membeli kopi saset asalkan judulnya tetap kopi hitam.

Namun, pernah suatu kali bangun kesiangan dan buru-buru berangkat kerja tanpa mengopi dulu. Alhasil, aku terjebak dalam Caffeine Withdrawal Syndrome yang menyiksa. Kala itu jam masih menunjukkan pukul 9 pagi dan gejala yang mencolok adalah pusing. Tanpa pikir panjang, aku langsung membeli cappuccino botolan dari sebuah toko.

Apakah aku sembuh dari Caffeine Withdrawal Syndrome? Tidak. Pusingnya agak mereda meski tidak benar-benar hilang. Alhasil, aku pun kembali membeli kopi hitam seduhan di warung terdekat. Barulah pusingnya lenyap.

Caffeine Withdrawal Syndrome Pernah Bikin Aku Gila

Menjelang bulan puasa alias Ramadan, aku sengaja mengurangi bahkan menyetop asupan kopi karena tidak mau membebani diri. Sebab, dulu pernah nyaris "sekarat" karena saking ketergantungan dengan kopi saat puasa.

Biasanya, aku mulai berhenti di H-3 atau H-2 puasa. Lagipula, tingkat kecanduanku pada kopi hanya satu cangkir per hari, jadi bisa dibilang ringan. Meski begitu, dalam prosesnya terasa berat bahkan gila.

Di hari pertama berhenti kopi, rasa pusing datang mulai dari gelombang ringan sampai berat. Disusul tremor dan nyeri beberapa sendi, umumnya di area lengan dan kaki. Pikiran perlahan nge-blank, bingung, dan mulai plenger. Meski aku masih bisa diajak berkomunikasi dengan jelas dan masih bisa berpikir dengan jernih. Lama-lama, terjadi perubahan mood dari ceria menjadi uring-uringan, serta kondisi badan yang mirip orang sakau karena tidak bertenaga.

Namun, jalan ini harus kutempuh karena tidak mau membebani tubuh dan agar ibadah puasaku berjalan nyaman.

Efek Kembali Mengopi Setelah Beberapa Waktu "Hiatus"

Di aku, Caffeine Withdrawal Syndrome berlangsung selama 12–24 jam saja. Jadi, tidak perlu lama-lama tersiksa. Sesudah melewati masa "sakau" itu, badan terasa normal tanpa rasa sakit atau pusing-pusing. Benar-benar seperti tidak terjadi apa-apa.

Nah, lalu bagaimana kalau kembali ke rutinitas mengopi?

Setelah melakukan hiatus kopi selama beberapa saat, tubuh sudah beradaptasi dan terbiasa tanpa asupan kafein. Namun, ketika memutuskan untuk kembali berkontak dengan kafein, rasanya seperti menerima lonjakan energi besar. Mirip seperti karakter Popeye yang dapat asupan bayam dan jadi punya super power, hihi.

After all, ini berdasarkan pengalamanku sendiri menghadapi Caffeine Withdrawal Syndrome, ya. Barangkali gejala yang dirasakan bisa berbeda pada orang lain. Sekian.

Tulisan ini merupakan kiriman dari member Yoursay. Isi dan foto artikel ini sepenuhnya merupakan tanggung jawab pengirim.

Tampilkan lebih banyak