Ayu Nabila | Husna Hisaba
Ilustrasi Menulis (Pixabay.com)
Husna Hisaba

Di dalam diri manusia terdapat jiwa yang khas dan pikiran yang unik, keduanya berbakat dalam mendapatkan kepuasan mendalam karena menceritakan atau menuliskan sesuatu, terutama menceritakan sebuah kisah, menerangkan bagaimana melakukan sesuatu, atau sekedar berbagi rasa dan pikiran lewat ungkapan dalam media tulisan atau berbicara. Dorongan untuk menulis sama besarnya dengan dorongan untuk berbicara, untuk mengkomunikasikan pikiran dan pengalaman kita kepada orang lain, minimalnya menunjukkan kepada mereka siapa diri kita.

Hal itu bisa kita buktikan dengan melihat bagaimana anak-anak kecil selalu mempunyai sesuatu untuk dikatakan, anak-anak tersebut sebenarnya adalah penulis alamiah yang masih polos. Hal yang mereka tulis kerap kali begitu segar dan mendalam, ia menulis hal yang murni dari hatinya. Tulisan yang mereka tulis dapat membuat orang-orang di sekitar mereka melihat segala sesuatu dengan cara yang tidak pernah mereka lakukan sebelumnya.

Mungkin pada saat ini kita berada pada masa yang jauh dari masa anak-anak, yang mana anak-anak kecil dapat menuangkan kata-kata pada selembar kertas dengan berpikir sekejap saja. Tetapi meskipun keadaannya demikian, meskipun kita sudah bukan menjadi anak-anak lagi, percayalah bahwa jauh di dalam lubuk hati kita, masih tetap hidup bakat penulis alamiah diri kita yang dulu.

Jadi, cara mengatasi hambatan dalam menulis dengan menggunakan metode ini, “Kita harus Jujur pada diri kita sendiri, jujur pada kata hati, jujur pada tulisan kita sendiri, dan menulislah dengan penuh percaya diri.”

Dengan begitu, kita akan mudah dalam menuangkan apa yang ada di hati dan pikiran ke dalam sebuah tulisan, berfokuslah pada kata hati dan kemurnian dari gagasan yang teman-teman miliki. Jangan hiraukan kekhawatiran yang kerap kali menghantui kita.

Jika kita pehatikan, sebagai kanak-kanak, pikiran kita berkecamuk dengan berbagai macam gagasan dan ide yang murni dan brilian. Namun pada kenyataannya saat ini, kita selalu berpikir bahwa gagasan-gagasan atau ide-ide unik yang kita miliki itu bodoh, hingga kita mencapai sebuah titik dimana sesuatu terjadi dan menutup aliran alamiah kreativitas yang kita miliki.

Kita terperangkap dalam perjuangan pikiran dengan gagasan kita dan kekritisan diri kita terhadap diri sendiri. Rasanya seperti berada di dalam kekalutan di mana kita berhadapan dengan banyak jalan buntu. Akhirnya kita diliputi rasa frustasi dan hanya duduk serta bersungut-sungut atau bahkan berpaling dari proses menulis dan beralih melakukan hal lain.

Bayangkan bahwa pikiran kita adalah tempat penyimpanan ide-ide panas, bergejolak, mendidih,  yang meletup-letup untuk dapat bebas keluar. Bendungan yang menahannya adalah hambatan penulis, begitu kuatnya bendungan itu sehingga ia benar-benar menghambat kita untuk menggoreskan pena di atas kertas dan mulai menulis, pada posisi seperti ini, janganlah berkecil hati, tidak mengalirnya ide-ide bukan berarti tidak ada!

Bayangkanlah bahwa suatu keretakan kecil muncul pada bendungan itu, dan ide-ide mulai merembes keluar, secara perlahan-lahan. Begitu besar tekanan di dalam rembesan itu sehingga keretakan itu menjadi semakin besar dan ide-ide panas nan bergejolak itu segera menyembur keluar. Akhirnya bendungan itu hancur dan banjir kata-kata keluar dengan derasnya, hingga menjadi lautan kreativitas.

Dari hal tersebut bisa kita simpulkan bahwa jalan keluarnya adalah, “Hancurkan bendungannya, ikuti kata hati, dan jangan hiraukan segala macam kemungkinan buruk yang menghantui, jujur pada diri sendiri. Temukan kemurnian ide dan gagasan yang ada dalam benak kita.” Selamat menulis!