Timnas Inggris untuk kesekian kalinya gagal menjadi juara dunia setelah dikalahkan Perancis dengan skor 1-2 di perempat final. Dengan kekalahan ini, tim Inggris harus kembali menunda impiannya merebut trofi paling bergensi di dunia tersebut setelah terakhir kali menjuarainya pada 1966 silam.
Selepas kekalahan tersebut, banyak media yang mengkritik taktik pelatih Inggris yakni Gareth Southgate yang dianggap gagal memanfaatkan momentum setelah timnya berhasil menyamakan kedudukan 1-1. Inggris justru terus ditekan Perancis sehingga Les Blues kembali unggul 2-1 dan akhirnya membuat Inggris tersingkir.
Berikut ini adalah 4 blunder taktik Gareth Southgate sehingga sudah waktunya federasi sepakbola Inggris untuk mencari nahkoda baru tim berjuluk The Three Lions:
1. Taktik pemilihan pemain yang kurang tepat
Gareth Southgate juga dikritik karena beberapa kali menerapkan taktik pemilihan pemain yang kurang tepat. Pada final Euro 2020, Inggris yang punya peluang menyamakan kedudukan di babak adu penalti justru memilih Bukayo Saka yang kurang berpengalaman sebagai penendang kelima.
Kemudian di Piala Dunia kali ini, Southgate kembali dikritik karena mencadangkan Phil Foden pada saat laga melawan Amerika Serikat sehingga dapat ditahan imbang oleh tim Paman Sam. Southgate kembali jadi sasaran sat laga melawan Prancis.
BACA JUGA: Pedangdut Danang DA Meninggal Dunia karena Kecelakaan Maut, Benarkah? Begini Infonya
Setelah menyamakan kedudukan, Southgate tidak melakukan pergantian saat keadaan masih 1-1 yang menyebabkan pemain Inggris kelelahan dan tidak bisa menyusun serangan. Perancis kemudian memanfaatkan situasi tersebut dan meraih kemenangan.
2. Terlalu mengandalkan Harry Kane
Alasan lainnya yang membuat federasi sepakbola Inggris atau FA perlu mengganti pelatih adalah Inggris saat ini karena permainan Inggris terlalu mengandalkan penyerang Tottenham Hotspur ini. Terbukti saat melawan Perancis, kebanyakan pemain Inggris bermain di tengah dan mengirimkan umpan ke Harry Kane yang menjadi ujung tombak Inggris.
Hal ini membuat Kane kesulitan menembus pertahanan Prancis karena kurang mendapat dukungan serta terisolasi di lini depan. Harry Kane juga selalu ditunjuk dalam dua tendangan penalti sehingga menambah tekanan pada dirinya sehingga gagal mengeksekusi penalti kedua.
3. Kurang mampu memanfaatkan momentum
Timnas Inggris di bawah Gareth Southgate juga memperlihatkan kecenderungan gagal memanfaatkan momentum di laga laga krusial. Contohnya saat melawan Italia di final Euro 2020 lalu, Inggris sempat unggul terlebih dahulu. Namun yang terjadi setelah itu, Inggris kurang menekan pemain Italia sehingga Italia bisa menyamakan kedudukan dan akhirnya menyamakan kedudukan.
Contoh paling tekrini yaitu saat melawan Prancis kemarin. Inggris sebenarnya memperoleh momentum ketika Harry Kane mencetak gol penyama kedudukan. Namun kembali Inggris justru ditekan Perancis yang akhirnya Perancis kembali unggul.
BACA JUGA: 4 Artis Cantik Berstatus Janda, Pesona Menawan hingga Janda Dua Kali
4. Jarang menang di laga krusial
Alasan Inggris perlu mempertimbangkan opsi untuk ganti pelatih adalah Inggris jarang menang di laga krusial dan melawan tim besar. Contohnya di Piala Dunia 2018 lalu, meski sampai ke semifinal, Inggris relatif mendapat laga mudah melawan Kolombia dan Swedia. Namun ketika menghadapi Kroasia yang merupakan tim kuat, Inggris mengalami kekalahan walau unggul terlebih dahulu.
Di Piala Dunia 2022 ini, Inggris kembali mengulangi kejadian serupa. Hanya menang menghadapi Iran, Wales, dan Senegal yang diatas kertas memang harus mereka kalahkan. Namun menghadapi tim berkualitas seperti Amerika Serikat dan Perancis, Inggris selalu menemui jalan buntu dalam meraih kemenangan. Hal ini menunjukkan bahwa kepemimpinan Southgate belum bisa mengantarkan Inggris menang di laga krusial.
Nah, itu tadi adalah 4 alasan mengapa federasi sepakbola Inggris bisa mempertimbangkan opsi untuk mengganti Southgate. Meski meraih hasil mengesankan seperti mencapai semifinal Piala Dunia 2018 serta menjadi finalis Euro 2020. Namun, Inggris yang rindu juara tentunya perlu penyegaran terutama di jajaran kepelatihan.
Video yang mungkin kamu lewatkan.
Tag
Baca Juga
-
Tundukkan Bahrain, Timnas Indonesia Pecahkan Rekor Asia Tenggara di Ronde 3
-
Optimis ke Piala Dunia 2026, Ini Potensi Lawan Timnas Indonesia di Ronde Keempat
-
Pratama Arhan Main di K-League, Ini Rangkingnya di Jajaran Liga Top Asia
-
Rekap Tim Asia Tenggara di Pekan Perdana Piala Asia 2023, Thailand Menang!
-
Ini Pemain Indonesia yang Masuk dalam Daftar Unggulan di Malaysia Open 2024
Artikel Terkait
-
Erick Thohir Ungkap Alasan Kuat di Balik Dukungan ke Infantino Komersialkan Piala Dunia
-
Mata-Mata Iran Asal London Tertangkap Intip Pangkalan Militer Inggris di Siprus
-
UEFA Tolak FIFA Jual Saham Piala Dunia, PSSI Dukung Penuh: Indonesia Butuh Duit
-
UEFA Ancam Boikot FIFA, 55 Negara Eropa Siap Mundur dari Semua Turnamen
-
Robot China 'Invasi' Industri Logistik di Inggris, Bagaimana Nasib Pekerja Manusia?
Hobi
-
Final Piala Presiden 2026: Persib vs Persebaya, Duel Dua Tim dengan Statistik Nyaris Identik
-
Jadwal MotoGP Inggris 2026: Tiap Poin Berharga untuk Raih Gelar Juara Dunia
-
Bantah Rumor Tak Akur, Marc Marquez Sebut Pecco Bagnaia Rekan yang Baik
-
Pilih Gabung Ducati, Pedro Acosta Ogah Pakai Motor KTM yang Tak Kompetitif
-
Jorge Martin: Aprilia akan Dukung Saya Sepenuhnya Demi Gelar Juara Dunia
Terkini
-
Makna Lagu 'Petal' Ariana Grande: Luka Jadi Bahan Bakar untuk Tumbuh
-
Akses Pendidikan Perempuan: Sudahkah Merdeka Belajar Benar-benar Setara?
-
Intip 4 OOTD Y2K Pop-Punk ala Choi Yena, Gaya Lebih Cute dan Rebel!
-
Mengapa The Yellow Wallpaper Dianggap Karya Sastra dengan Kritik Feminisme?
-
Disuruh Jajan demi Selamatkan Negara? Dompet Kita: Giliran Gue Lagi?