Beredar kabar luas di Thailand tentang ketakutan banned FIFA terhadap mereka. Sumber berita berawal dari mundurnya sang ketua FAT (PSSI-nya) Thailand, Somyot Poompanmoung.
Kabar sebelumnya yang beredar, mundurnya sang ketua karena kegagalan memperoleh medali emas SEA Games ke-32 di Kamboja. Ditambah lagi perkelahian massal yang melibatkan kedua tim, Thailand dan Indonesia.
Kekalahan ini ternyata berakibat panjang. Bahkan Raja Thailand sendiri sempat berkomentar. Sang raja merasa tidak puas dengan apa yang telah dilakukan kesebelasan Thailand. Bagi mereka, mungkin kekalahan dari Indonesia dianggap sebagai musibah besar.
Berdasar kejadian itu, maka Somyot Poompanmoung menyatakan mundur dari jabatan sebagai Presiden FAT. Pengunduran ini dianggap wajar, karena dianggap sebagai salah satu bentuk tanggung jawab sebagai ketua.
Namun kabar ini menjadi melebar saat terdengar isu bahwa ada campur tangan pemerintah dalam peristiwa ini. Mundurnya sang ketua disebabkan adanya desakan dari sang perdana menteri, Prawit Wongsuwan. Prawit Wongsuwan sendiri menjabat sebagai Presiden Komite Olimpiade Thailand.
Di sinilah pokok permasalahannya. Campur tangan pemerintah dalam sepak bola adalah sesuatu yang diharamkan oleh FIFA. Contoh paling dekat adalah saat Indonesia harus mengalami banned selama setahun gegara kepengurusan ganda.
Hal ini menjadi kekhawatiran semua pihak di Thailand. Karena dengan banned yang diterapkan, dipastikan Thailand tidak dapat mengikuti berbagai even sepak bola yang diselenggarakan FIFA. Sebuah kerugian besar bagi Thailand.
Perlu diketahui sebentar lagi ada beberapa agenda besar. Mulai dari kualifikasi Piala Asia, Kualifikasi Piala Dunia 2026, dan Asian Games. Jika banned tersebut benar-benar terjadi, maka kiamatlah sepak bola Thailand.
Prawit Wongsuwan sendiri mempunyai keyakinan bahwa sanksi FIFA tidak mungkin turun. Dikatakan bahwa dirinya tidak pernah mendesak agar Somyot Poompanmoung agar mempertimbangkan diri. Hal ini dikaitkan dengan kegagalan dalam SEA Games 2023.
Kepanikan para pencinta sepak bola Thailand jelas sangat beralasan. Mereka melihat kasus semacam ini pernah menerima musuh bebuyutan mereka, Indonesia. Saat itu Indonesia benar-benar terkucil dan harus merangkak dari bawah.
Nah, jika banned dari FIFA benar-benar jatuh Thailand ibarat sudah jatuh tertimpa tangga. Mereka sudah gagal dalam SEA Games 2023 dan gagal menembus Piala Dunia U17 2023, masih harus diasingkan dari sepak bola dunia.
Baca Juga
-
Timnas Futsal Indonesia Tutup 2025 dengan Catatan Gemilang, Raih 2 Gelar
-
Meski Jadi Raja ASEAN, Vietnam Tetap Simpan Ketakutan pada Timnas Indonesia
-
Tekuk Vietnam Lewat Adu Penalti, Filipina Kejutan Sempurna SEA Games 2025
-
Timnas Futsal Putri Lolos ke Final, Kalahkan Thailand Lewat Adu Penalti
-
Kalahkan Filipina 3-0, Rivan Nurmulki Jaga Asa Medali Emas Voli SEA Games
Artikel Terkait
-
Sinyal Kuat Bakal Dipinjamkan, Elkan Baggott Usai Laga Pramusim: Menyenangkan Kembali ke Ipswich Town
-
Bertolak ke Australia, Ini Pertemuan yang Bakal Dihadiri Jokowi
-
CEK FAKTA: FIFA Berikan Respons Saddil Ramdani Tidak Bisa Main di Timnas Malaysia?
-
Nasib Miris Eks Timnas Inggris yang Pernah Main di Liga Indonesia, Harus Berjuang Demi Dapatkan Tempat Tinggal
-
Ingatkan Fans Sepak Bola Indonesia, Coach Justin: Valuenya Lebih Berharga daripada 10 Piala AFF
Hobi
-
Mengapa Pemain Lokal Enggan Abroad? Sorotan Mentalitas dari Eks Striker Naturalisasi Timnas
-
Ajukan Diri ke AFC, Seberapa Besar Peluang Indonesia Menjadi Tuan Rumah Piala Asia 2031?
-
Terancam Menepi di FIFA Series, Comeback Marselino ke Timnas Indonesia Bakal Semakin Molor
-
Mengintip Peluang Maarten Paes Menjadi Kiper Utama di Ajax Amsterdam, Seberapa Besar?
-
Maarten Paes Resmi Berseragam Ajax Amsterdam, Investasi Bagus?