Seperti yang telah diketahui bersama, belakangan ini PSSI tengah gencar memburu para pemain keturunan Indonesia yang terdiaspora ke seluruh penjuru bumi untuk dinaturalisasi. Meskipun bukan hal yang baru, namun naturalisasi di era kepelatihan Shin Tae Yong benar-benar menjadi salah satu program federasi untuk meningkatkan daya saing Timnas Garuda di persepakbolaan internasional.
Namun sayangnya, jika dianalisis secara lebih mendalam, ternyata Indonesiahanya memiliki waktu hingga generasi ini untuk bisa melakukan proses naturalisasi pemain berdarah Indonesia secara massif. Pasalnya, para pemain keturunan Indonesia yang saat ini berada di luar negeri, rata-rata memiliki darah Indonesia dari sang kakek atau nenek.
Jika terlewat satu generasi, maka kans Timnas Indonesia untuk melakukan proses naturalisasi pemain keturunan sudah tak akan bisa, dan hanya bisa dilakukan dengan proses naturalisasi reguler.
Hal ini tak lepas dari peraturan yang dibuat oleh induk sepak bola dunia, FIFA, di mana mereka menyatakan bahwa seorang pemain sepak bola sudah tak bisa dilakukan proses naturalisasi dengan privilege darah keturunan ketika sudah berstatus sebagai generasi keempat atau cicit. Dengan kata lain, seorang pemain sepak bola bisa dilakukan proses naturalisasinya dengan instan jika dia berstatus sebagai "cucu" dari seseorang yang berasal dari negara bersangkutan.
Menyadur informasi dari laman TikTok hamdani_tv pada 17 Desember 2023, FIFA sendiri menjelaskan, setidaknya ada 4 kriteria seorang pemain bisa memperkuat Timnas suatu negara, yakni:
- lahir di negara terkait
- Ibu atau ayah kandung lahir di negara terkait
- Nenek atau kakek kandung lahir di negara terkait
- Pemain tersebut tinggal di negara terkait selama lima tahun saat usianya mencapai 18 tahun
Dan tentu kita tahu, para pemain keturunan yang saat ini mengisi skuat Timnas Indonesia, kebanyakan adalah mereka yang masuk di poin ketiga, di mana mereka mendapatkan darah keturunan dari kakek atau neneknya yang berpindah ke Belanda ketika masa kolonial atau pasca kemerdekaan beberapa dekade silam.
Jika lebih dari generasi ketiga ini, maka akan besar kemungkinan nantinya stok pemain keturunan yang bisa dinaturalisasi oleh Timnas Indonesia semakin menipis, dan hanya bisa mengandalkan proses naturalisasi murni seperti yang terjadi pada Marc Klok atau Cristian Gonzales dulu.
Baca Juga
-
Jadi Guru Pembimbing Sekaligus Juri adalah Dilema, Ibarat Sudah Kalah Duluan Sebelum Mulai Lomba
-
Emansipasi atau Eksploitasi? Menggugat Seremonial Tahunan untuk Kartini di Bulan April
-
Realita Dunia Orang Dewasa: Bekerja Terasa Jauh Lebih Nyaman, Efek Pimpinan Baru yang Pengertian
-
Bagi Sebagian Warga Rembang Asli, Gaji UMR adalah Sebuah Impian dan Pencapaian Prestasi
-
Realita Pahit Lulusan SMK: Niatnya Bantu Keluarga, Malah Terjebak Gaji Kecil di Luar Kota
Artikel Terkait
-
Steffi Zamora Tunjuk Asnawi Mangkualam usai Dapat Kejutan Spesial: Pasti dari Dia
-
Asnawi Mangkualam Rayakan Ulang Tahun Steffi Zamora, Fuji Justru Sakit
-
Irak Tak Gelar TC Jelang Lawan Timnas Indonesia di Piala Asia 2023, Kenapa?
-
Sudah Pamitan, Saddil Ramdani Diklaim akan Main di Klub Malaysia Ini
-
Marselino Ferdinan Kasmaran, Tak Malu Akui Jatuh Cinta dengan Nadia Raisya
Hobi
-
Venue Playoffs MPL ID S17 Diumumkan, Jakarta Velodrome Jadi Tuan Rumah
-
Tes Jerez 2026: Reaksi Pembalap Positif, MotoGP Bakal Makin Kompetitif
-
Jadwal F1 GP Miami 2026: Favorit Kimi Antonelli, Akankah Dia Menang Lagi?
-
Sadar Diri, Marc Marquez Mengaku Tak Punya Kekuatan untuk Rebut Gelar Juara
-
Alex Rins Resmi Hengkang dari Yamaha, Didepak Diam-diam?
Terkini
-
Wacana Tutup Prodi: Solusi Relevansi atau Kedok Kegagalan Negara?
-
Dari Gubuk Seng di Pinggir Rawa ke Universitas Glasgow: Perjalanan Hengki Melawan Keterbatasan
-
Bosan Helm Pasaran? Cargloss Chips Highway Patrol Usung Gaya Polisi 80-an
-
Bisikan dari Rimbun Bambu di Belakang Rumah
-
CIX Umumkan Bubar usai 7 Tahun Bersama, Seluruh Member Tinggalkan Agensi