Pernah mengalami otak buntu saat menulis? Seharian nongkrong di depan laptop atau pegang gawai tanpa satu tulisan pun dihasilkan. Kondisi semacam ini pasti pernah dirasakan oleh siapa pun yang telah menerjunkan diri dalam dunia tulis-menulis.
Ketika kondisi ini datang, dapat dipastikan si penulis tersebut sedang kehilangan mood. Apa pun yang coba ditulis, selalu buntu alias macet. Untung saja sekarang zaman laptop dan gawai. Seandainya masih zaman mesin ketik manual, entah sudah berapa rim kertas dihabiskan.
Berkaitan dengan mood, sering muncul perdebatan di antara para penulis. Mana yang lebih penting, mood atau ide dalam menulis. Layaknya sebuah pertandingan, pasti akan muncul dua jawaban dengan segudang argumen pendukungnya.
Namun jika dikaji lebih dalam, sebenarnya mood yang paling dipentingkan dalam proses kepenulisan. Karena mood ibaratnya sebuah pintu. Ketika pintu itu terbuka, maka apa pun bisa masuk.
Sebaliknya jika pintu itu tertutup, apa pun yang akan melintas pasti akan berhenti di depan pintu. Demikian juga dalam proses kepenulisan kita.
Mood yang tengah didapat oleh seorang penulis memungkinkan dirinya menemukan sekarung ide. Apa pun yang dilihat, didengar, ataupun diraba menjadi ide segar dalam otaknya.
Demikian pula saat proses penulisan. Jemari ini begitu lancar menari di keyboard laptop atau pun gawai. Walhasil, puluhan tulisan pun lahir dalam sekali duduk. Proses menulis tidak ubahnya seseorang tengah bercerita pada teman di depannya.
Sebaliknya, ketika mood tersebut tidak mampu didapat oleh seorang penulis, dapat dipastikan akan tertutup semua jalan. Ide segar yang sudah disiapkan berhari-hari menjadi tidak ada artinya. Setiap kata atau kalimat yang ditulis, terasa kaku dan tidak enak dirasakan.
Kemampuan bercerita yang selama ini dimiliki, bisa tiba-tiba lenyap enggak tahu ke mana. Sang penulis seketika berubah layaknya seseorang yang tengah belajar menulis. Terbata-bata dalam menyusun kalimat.
Menghadapi situasi semacam ini, menjadi sebuah kewajiban bagi seorang penulis untuk konsisten di jalannya. Artinya, tetap menulis jangan sampai terhenti. Sebab dengan sikap istiqomah tersebut, insting menulis akan terpelihara dengan baik.
Cek berita dan artikel lainnya di GOOGLE NEWS.
Baca Juga
-
Jawaban Cerdas John Herdman atas Kecurigaan Kemenangan 9-2 Timnas Indonesia
-
Rilis PBSI dalam Skuad Asian Games 2026 Diwarnai Sebuah Kejutan
-
Igor Tolic Enggan Berpikir Terlalu Jauh Meski Tiket ACL Two Sudah di Tangan
-
Kemenangan Argentina Munculkan Tuduhan 'Settingan' dalam Piala Dunia 2026
-
Belgia Sukses Permalukan AS Balas Ulah Konyol Donald Trump pada FIFA
Artikel Terkait
-
30 Ide Nama Squad PUBG Mobile Keren, Auto Bikin Lawan Takut
-
40+ Ide Nama Squad Mobile Legends, Keren Bikin Lawan Takut
-
70 Ide Nama Squad Mobile Legends Aesthetic, Terbaik Februari 2024
-
5 Novel Metropop Terbaik Karya Penulis Indonesia, Seru dan Bikin Baper!
-
Don't Let Your Mood Become Your Attitude: Belajar Mengolah Emosi yang Baik
Hobi
-
MotoGP Australia 2026 Gagal Total: Selamat Tinggal Phillip Island!
-
Marc Marquez Pimpin Klasemen Sementara, Gelar Juara Dunia Sudah di Tangan?
-
Menghabiskan Sore Bersama Klub Corat-coret, Cara Bercerita Lewat Gambar
-
MotoGP Australia 2026 Batal! Marquez Tetap Kokoh, Harapan Veda Ega Pupus
-
Jadwal MotoGP Malaysia 2026: Apakah Jorge Martin Bisa Membalikkan Keadaan?
Terkini
-
Kemiskinan vs Menstruasi: Saat Kebutuhan Dasar Perempuan Tak Terjangkau
-
Pergeseran Bahasa Indonesia di Era Gen Z: Evolusi atau Ancaman Identitas?
-
Enam Cerita, Satu Kematian: Menelusuri Kebenaran di Novel Girls in the Dark
-
Date A Live F Last Date Rilis Film Maret 2027, Jadi Penutup Kisah Shido
-
Refleksi Mariposa: Pentingnya Orang Tua Memahami Mental dan Hati Anak