Winger timnas Indonesia, Egy Maulana Vikri baru-baru ini memberikan pernyataan bahwa dirinya masih menyimpan hasrat untuk bisa bermain di luar negeri atau abroad. Melansir dari laman berita ANTARA (13/11/2024), pemain yang kini membela klub Liga 1 Indonesia, yakni Dewa United tersebut mengungkapkan bahwa dirinya masih memiliki keinginan untuk kembali bermain di lur negeri.
“Karena sekarang saya masih ada kontrak dengan Dewa, jadi harus menghargai kontrak. Dan apabila ada tim yang memang berbicara dengan Dewa, Dewa juga bakalan kasih semua itu ke saya dan juga agent. Dan bagaimana dengan klub di sana nanti. Jadi untuk peluang abroad masih mau dan juga komunikasinya aja nanti bagaimana,” ujar Egy Maulana Vikri.
Melansir dari laman transfermarkt.co.id, pemain berusia 24 tahun ini memang dalam 2 musim terakhir di BRI Liga 1 menujukkan performa yang cukup gemilan. Di sisi lain, usianya yang terbilang cukup muda memang menjadi salah satu alasan pemain jebolan akademi SKO Ragunan tersebut menyimpan hasrat untuk kembali bermain di luar negeri.
Egy Maulana Vikri sendiri sejatinya pernah bermain di tiga klub luar negeri di benua Eropa. Dirinya mengawali karirnya di benua Eropa saat direkrut tim asal Polandia, Lechia Gdansk di tahun 2018 hingga tahun 2021 silam. Bersama tim asal kota Gdansk tersebut, dirinya sudah mengemas 33 laga dan mencetak 17 gol bersama tim senior dan tim junior.
Lalu, karirnya di benua Eropa berlanjut di liga Slovakia. Dirinya direkrut oleh tim FK Senica pada awal musim 2021/2022. Bersama klub tersebut dirinya bermain sebanyak 20 laga dan mencetak 2 gol. Dirinya lalu berpindah ke FC ViOn Zlate Moravce yang juga masih berkompetisi di liga Slovakia. Namun, di klub tersebut dirinya kurang mendapatkan tempat dan hanya bermain sebanyak 6 laga sebelum akhirnya pindah ke Dewa United di tahun 2023 lalu.
Kemungkinan Berkarir di Liga Asia Lebih Masuk Akal Dibandingkan Eropa?
Tentunya sebelum memutuskan berkarir di luar negeri, Egy Maulana Vikri perlu mempertimbangkan jaminan tempat utama di klub dan tentunya menit bermain. Tak dapat dipungkiri jika persaingan di klub liga-liga Eropa terbilang ketat bagi pemain-pemain asal Asia tenggara. Oleh karena itu, bermain di liga-liga Asia tentunya menjadi pilihan yang cukup realistis bagi Egy Maulana Vikri kedepannya.
Beberapa liga seperti liga Thailand, liga Australia di kawasan Asia tenggara dan beberapa liga di kawasan Asia timur seperti liga Jepang dan Korea Selatan bisa menjadi batu loncatan yang baik bagi Egy Maulana Vikri sebelum memutuskan kembali ke liga Eropa. Tentunya jaminan jam terbang atau menit bermain di klub-klub tersebut juga lebih masuk akal dibandingkan liga Eropa.
Cek berita dan artikel lainnya di GOOGLE NEWS.
Baca Juga
-
3 Keuntungan bagi Indonesia saat Jadi Tuan Rumah Gelaran AFF Cup U-23 2025
-
Tertarik Bela Timnas Indonesia, Ini Profil Pemain Keturunan Luca Blondeau
-
Indonesia Tuan Rumah AFF Cup U-23 2025, Jadi Peluang Kembali Raih Juara?
-
Media Belanda Tiba-tiba Berikan Komentar Sindiran ke Mees Hilgers, Ada Apa?
-
Demi Piala Dunia U-17, PSSI Harus Pertimbangkan Menambah Pemain Keturunan
Artikel Terkait
-
Kabar Tak Enak Ragnar Oratmangoen, Bakal Senasib dengan Nathan Tjoe-A-On?
-
Karma Wasit Ahmed Al Kaf Usai Rugikan Timnas Indonesia, Didepak FIFA
-
Naturalisasi Merajalela, Bojan Hodak: Fokusnya Pembinaan Pemain Muda, Ini Masalah
-
Asnawi Mangkualam Perkuat ASEAN All Stars, Erick Thohir Singgung Kluivert
-
Patrick Kluivert Jadi Saksi Ole Romeny Tak Bisa Dimaksimalkan Pelatih Oxford United
Hobi
-
Asnawi Mangkualam Perkuat ASEAN All Stars, Erick Thohir Singgung Kluivert
-
PSSI Segera Rekrut Direktur Teknik, Makin Serius Cari Talenta Potensial
-
3 Keuntungan bagi Indonesia saat Jadi Tuan Rumah Gelaran AFF Cup U-23 2025
-
Jadwal F1 GP Arab Saudi 2025: Lando Norris Percaya Diri Raih Hasil Positif
-
Bali United Kalah Tipis di Bandung, Stefano Cugurra Umumkan Perpisahan
Terkini
-
Cinta dalam Balutan Hanbok, 4 Upcoming Drama Historical-Romance Tahun 2025
-
Emansipasi Tanpa Harus Menyerupai Laki-Laki
-
Stray Kids Raih Sertifikasi Gold Keempat di Prancis Lewat Album HOP
-
Ulasan Novel 1984: Distopia yang Semakin Relevan di Dunia Modern
-
Ulasan Novel Harga Teman: Ketika Hasil Kerja Tidak di Hargai oleh Klien