Sebuah fakta yang cukup unik dan menarik terjadi pada pertemuan tim kuat Arab Saudi melawan tuan rumah Bahrain di matchday kesembilan grup C babak kualifikasi Piala Dunia 2026 zona Asia putaran ketiga.
Seperti yang sering kita temui bersama, di persepakbolaan benua Asia, tim-tim dari regional Asia Barat selama ini dikenal memiliki "rasa kebersamaan" yang sangat tinggi.
Meskipun dibalut dalam sebuah pertandingan yang "terlihat" fair, namun kepentingan-kepentingan yang mereka targetkan dalam sebuah turnamen, seringkali mereka fasilitasi dengan hasil akhir pertandingan yang cenderung "dikompromikan".
Dengan kata lain, jika ada situasi yang saling menguntungkan bagi negara-negara Jazirah Arab tersebut dalam sebuah pertandingan, maka mereka seringkali "mengatur" hasil laga tersebut agar kepentingannya bisa sama-sama tercapai.
Namun tidak demikian halnya di pertandingan matchday kesembilan grup C kali ini. Pada pertemuan antara Arab Saudi dan Bahrain, sejatinya pertandingan tersebut bisa menjadi sebuah laga yang disetting untuk "menolong" Bahrain guna bisa terus menghidupkan persaingan memperebutkan tiket putaran final Piala Dunia 2026 nanti.
Sebelum pertandingan dimulai, sejatinya Arab Saudi memiliki posisi yang lebih aman daripada tim tetangganya itu. Meskipun mereka nantinya menelan kekalahan, akan tetapi secara perhitungan tim The Green Falcon ini masih memiliki kesempatan besar untuk melaju ke putaran final Piala Dunia, meskipun harus melalui ronde keempat kualifikasi.
Arab Saudi yang sebelum pertandingan memiliki 10 poin, memang tak bisa lolos otomatis sebagai runner-up grup jika kalah dari Bahrain. Namun, secara perhitungan mereka masih memiliki peluang besar lolos ke ronde keempat jika di laga terakhir melawan Australia mereka memetik kemenangan.
Skenario ini agak riskan memang untuk dijalani oleh Arab Saudi. Karena jika mereka memutuskan untuk membantu Bahrain yang baru memiliki 6 poin, maka potensi untuk disalip oleh Indonesia di tabel peringkat terbuka sangat lebar. Namun, jika mereka menang atas Australia di laga terakhir nanti, 13 poin yang mereka miliki akan tetap menjadi angka aman dari kejaran Indonesia jika kalah dari Jepang dan Bahrain jika menang atas China.
Sementara itu, di sisi lain, Bahrain sendiri sejatinya "membutuhkan" pertolongan dari Arab Saudi pada pertandingan kesembilan kemarin. Satu-satunya skenario untuk membuat mereka tetap "hidup" adalah dengan memenangi pertandingan melawan Arab Saudi.
Jika mereka memenangi laga tersebut, maka poin Bahrain akan menjadi 9, dan membuat mereka masih bisa bernafas hingga pertarungan terakhir melawan China nanti.
Perhitungannya adalah, dengan poin Indonesia yang berjumlah 12, dan Bahrain memiliki 9 poin ketika menang atas Arab Saudi kemarin, maka laga terakhir akan menjadi penentuan. Dengan asumsi Indonesia akan kalah dari Jepang di pertarungan pamungkas dan Bahrain menang atas China, maka jumlah poin Bahrain serta Indonesia menjadi 12 sama, sehingga penentuan peringkat di tabel klasemen akan berlanjut dalam perhitungan selisih gol.
Dan jika melihat situasi tersebut, Bahrain bisa tertolong! Kita asumsikan, Indonesia kalah 0-1 atas Jepang, maka jumlah selisih gol Timnas Indonesia di klasemen akhir nanti akan menjadi -6. Sementara Bahrain misal kemarin menang 1-0 saja atas Arab Saudi, maka jumlah selisih golnya akan menjadi -7 (sekarang -10 karena kebobolan dua gol dari Arab Saudi pada pertandingan kesembilan).
Sehingga, di laga terakhir melawan China, Bahrain hanya memerlukan kemenangan dua gol saja untuk bisa melakukan take-over atas Indonesia di klasemen akhir! Sebuah margin kemenangan yang tentunya tak mustahil untuk dilakukan oleh Bahrain bukan?
Namun beruntungnya, pada pertandingan kesembilan ini, Arab Saudi lebih berfokus pada nasibnya sendiri dan cenderung "memilih" untuk membantu Indonesia.
Ketika Indonesia sukses menambah 3 poin pasca memenangi laga melawan China, di pertandingan lainnya, The Green Falcon juga bermain "wajar" dengan menghantam tim tuan rumah dua gol tanpa balas.
Imbasnya adalah, Indonesia langsung memastikan diri lolos ke ronde keempat babak kualifikasi tanpa harus bersusah-payah menunggu matchday terakhir melawan Jepang di tanggal 10 Juni mendatang.
Lantas, apakah dengan hal ini kita perlu mengucapkan terima kasih kepada Arab Saudi karena mereka lebih memilih untuk bermain fair daripada membuat skenario "penyelamatan" untuk Bahrain?
Bagaimana menurut teman-teman?
CEK BERITA DAN ARTIKEL LAINNYA DI GOOGLE NEWS
Baca Juga
-
AFC Harusnya Malu, Negara yang Mereka Anak Tirikan Justru Jadi Penjaga Marwah Sepak Bola Asia
-
Piala Dunia 2026: Momen Gol Kedua Portugal, Nuno Mendes Curi Tendangan Bebas Milik Ronaldo?
-
Piala Dunia 2026: Jika Terus Dapatkan Suplai, CR7 Sejatinya Tak Kalah Garang Ketimbang Messi
-
Piala Dunia 2026: Messi Makin Menggila, Mengapa CR7 Masih Belum Temukan Performa Terbaiknya?
-
Kompak Jadi Aib, Piala Dunia 2026 Tak Ubahnya Panggung untuk Permalukan Anak Emas AFC
Artikel Terkait
-
5 Pesona Katy Esistia Pacar Ole Romeny yang Punya Profesi Mentereng
-
Mengenal Shanna Shannon, Lebih dari Sekadar Penyanyi Lagu Tanah Airku yang Menggema di GBK
-
2 Tim Asia Debut di Piala Dunia 2026, Timnas Indonesia Segera Menyusul?
-
Patrick Kluivert Akui Puas dengan Kualitas Pemain Lokal Timnas Indonesia
-
Dear PSSI, Patrick Kluivert Tolak Tambah Naturalisasi! Ini Alasannya
Hobi
-
Piala Dunia 2026: Cetak Rekor, Erling Haaland Kian dekat Raih Gelar Topskor
-
Prediksi Curacao vs Pantai Gading: Misi Panas Kedua Tim di Philadelphia
-
Analisis Taktik Ekuador vs Jerman: Die Mannschaft Jaga Mental Juara
-
Turki vs Amerika Serikat: Ujian Mental di Akhir Fase Grup Piala Dunia 2026
-
Tumbang Lagi, Pelatih Korea Selatan Buka Suara soal Rumor Keracunan Makanan
Terkini
-
The Bodyguard From Beijing: Film Jet Li yang Bikin Masa Kecil Kita Berdebar-debar
-
5 Serial Netflix Terbaik 2026 yang Wajib Masuk Daftar Tontonan
-
Ulasan The Auditors, Kisah Seru Tim Audit yang Bekerja Layaknya Detektif
-
Ulasan Film Jangan Buang Ibu: Ego Anak, Penyesalan, dan Air Mata di Panti Jompo
-
Hospitality: Seni Memanusiakan Pelanggan di Tengah Persaingan Bisnis