Perjalanan Shin Tae-yong sebagai pelatih kepala Timnas Indonesia resmi berakhir pada awal Januari 2025 lalu. Pemutusan kontrak oleh PSSI tersebut menandai perpisahan kontroversial yang memicu gelombang reaksi dari berbagai kalangan, mulai dari penggemar, pemain, hingga pelaku sepak bola nasional.
Meski kontraknya sebagai pelatih sudah berakhir, Shin sempat kembali ke Indonesia untuk menjalankan kegiatan yayasan sepak bola usia dini yang didirikannya.
Keputusan PSSI untuk memecat sang juru taktik kabarnya didasarkan pada hasil evaluasi performa Timnas yang dianggap tidak cukup memuaskan. Kemudian dilaporkan adanya ketegangan internal dan masalah komunikasi antara Shin dengan beberapa pemain yang turut menjadi bahan pertimbangan dalam evaluasi. Namun, selanjutnya muncul berbagai bantahan.
Tentu keputusan pemecatan tak serta-merta diterima dengan tangan terbuka oleh publik sepak bola Tanah Air. Banyak penggemar menilai keputusan tersebut diambil terlalu terburu-buru dan mengabaikan proses pembangunan jangka panjang yang telah dilakukan STY selama lima tahun terakhir.
Apresiasi terhadap pria asal Korea Selatan itu tetap tinggi. Ia dianggap telah mengubah wajah sepak bola Indonesia, terutama lewat prestasi seperti membawa Timnas mencapai fase gugur Piala Asia 2023 dan semifinal Piala Asia U-23 2024.
Salah satu momen paling menonjol dari kepemimpinan Shin adalah saat Timnas Indonesia berhasil mengalahkan Vietnam dalam tiga laga penting sepanjang tahun 2024. Termasuk di antaranya adalah kemenangan 1-0 di Piala Asia AFC 2023 serta dua kemenangan di babak kualifikasi Piala Dunia 2026 dengan skor 1-0 dan 3-0.
Kemenangan berturut-turut itu bukan sekadar statistik. Ia menjadi penanda penting berakhirnya dominasi Vietnam yang sempat mencuat pada periode 2015 hingga 2021. Indonesia, yang sebelumnya kerap kesulitan saat berjumpa Vietnam, tampil dengan mental dan strategi yang jauh lebih matang di bawah komando Shin Tae-yong.
Rivalitas antara Indonesia dan Vietnam dalam sepak bola sudah berlangsung lebih dari enam dekade, dan setiap pertemuan selalu sarat gengsi.
Tak bisa dipungkiri bahwa kehadiran STY memberikan angin segar dalam rivalitas tersebut. Ia mampu menyuntikkan kepercayaan diri, disiplin, serta pola permainan yang terstruktur ke dalam tubuh Timnas. Hal ini terbukti dalam deretan kemenangan atas Vietnam, yang sebelumnya tampil begitu dominan di tingkat regional.
Pengakuan Kim Sang-sik dan Tamparan Keras Bagi PSSI
Pernyataan mengejutkan datang dari pelatih Timnas Vietnam, Kim Sang Sik. Dalam wawancara dengan media Korea Selatan, Kim secara terbuka menyebut bahwa kepergian Shin Tae-yong dari Timnas Indonesia justru menjadi keuntungan besar bagi timnya.
"Seandainya pelatih Shin Tae-yong masih menangani sepak bola Indonesia, konfrontasi dengan tim itu pasti akan sangat sulit. Sejujurnya, untungnya dia pergi lebih awal (tertawa). Saya dengar dia akan kembali bekerja di Korea, saya akan selalu mendukung pelatih ini," ujar Kim, seperti dikutip dari soha.vn, Rabu (6/8/2025).
Pengakuan tersebut tentu bukan sekadar candaan. Di balik kalimat Kim terdapat kritik tersirat kepada PSSI atas keputusan yang dianggap melemahkan kekuatan rival utama mereka. Ia menyiratkan bahwa Indonesia dengan Shin adalah lawan yang jauh lebih kuat dan menakutkan.
Ucapan itu bisa dipandang sebagai tamparan keras bagi PSSI. Sebuah sindiran halus bahwa pemecatan Shin bukan hanya kontroversial secara internal, tapi juga memberikan angin segar bagi rival. Alih-alih memperkuat Timnas, keputusan tersebut malah dinilai sebagai langkah yang menguntungkan pihak lawan.
Shin Tae-yong memang sudah tak lagi bersama Timnas Indonesia, tapi pengaruh dan jasanya masih membekas. Bahkan rival pun mengakui kekuatannya. Hal ini seharusnya menjadi bahan refleksi mendalam bagi PSSI dalam mengambil keputusan strategis di masa depan.
Dengan mundurnya Shin, pertanyaan besar pun muncul: apakah pelatih pengganti mampu meneruskan fondasi yang telah dibangun selama lima tahun terakhir? Dan lebih penting lagi, apakah Timnas Indonesia bisa tetap kompetitif di kancah Asia Tenggara?
Seiring waktu berjalan, publik akan melihat apakah keputusan ini benar-benar membawa perbaikan atau justru sebaliknya. Yang jelas, Vietnam sudah mengambil keuntungan awal dari perpisahan ini, baik secara psikologis maupun strategis.
CEK BERITA DAN ARTIKEL LAINNYA DI GOOGLE NEWS
Baca Juga
-
Tayang Oktober, Drakor Final Table Bagikan Keseruan Pembacaan Naskah
-
Kim Ji Yeon dan Park Seo Ham Tampil Serasi di Script Reading Dive Into You
-
Ada yang Hilang dari Xdinary Heroes, Lagu Lost and Found Jadi Lebih Nylekit
-
Bentrok Jadwal, Lee Jong Suk Dipastikan Batal Bintangi Iseop's Romance
-
Persebaya Siap Taklukkan Cuaca Panas di Bhayangkara, Bisa Rebut Tiga Poin?
Artikel Terkait
-
Indonesia Kalah, Timor Leste Mampu Rutin Gelar Liga Putri sejak 2019
-
Breaking News! Jay Idzes Dikontrak Torino hingga 2029
-
Jadwal Timnas Indonesia vs Kuwait Terungkap, Alex Pastoor Tak Sengaja Bocorkan Detail Laga
-
Siapa Pemilik Ulsan HD? Bos Kapal Punya Klub Korea Selatan yang Dilatih Shin Tae-yong
-
Jay Idzes Tak Main 2 Laga Pramusim Venezia, Tanda Segera Pergi?
Hobi
-
Jadi Rekan Setim, Marc Marquez Prediksi Bakal Dikalahkan oleh Pedro Acosta
-
FIFA ASEAN Cup: Pertaruhan Hidup-Mati Bagi John Herdman di Timnas Indonesia
-
Atletico Madrid Bekuk Real Madrid 2-1, Mourinho Mengamuk Bawa Kertas Bukti Kesalahan VAR
-
Raphinha Mesin Gol Baru FC Barcelona: 12 Gol dan Jadi Top Scorer La Liga
-
MotoGP Austria 2026: Pedro Acosta Gendong KTM jadi Juara di Kampung Halaman
Terkini
-
Review Neagley: Drama Aksi Khas Reacher dengan Sentuhan Lebih Emosional
-
5 Sneakers Empuk yang Cocok untuk Jalan Kaki, Ada Skechers hingga ASICS
-
Dari Viral Culture ke Real-Life Culture: Eranya Gen Z Cari Pengalaman Nyata
-
Seperti Pelukan Hangat! 5 Pilihan Parfum Warm Vanilla yang Lembut di Hidung
-
Bebas Bruntusan! 4 Acne Cleansing Balm Angkat Makeup Waterproof hingga Pori