Upaya keras yang dilakukan oleh Malaysia untuk menghindarkan mereka dari sanksi FIFA akhirnya berujung dengan kegagalan.
Meskipun telah mengeluarkan segenap sumber daya yang mereka miliki, namun induk sepak bola dunia itu masih kukuh dengan pendiriannya yang menyatakan bahwa Malaysia dan para pemainnya melakukan kesalahan karena telah memalsukan dokumen naturalisasi.
Memang, FAM, Timnas Malaysia maupun 7 pemain yang terlibat masih memiliki kesempatan untuk melakukan perlawanan terhadap putusan tersebut.
Seperti yang diinformasikan oleh akun Instagram @seasiagoal beberapa waktu lalu, kubu Malaysia masih memiliki satu kesempatan banding ke tingkat yang lebih tinggi, yakni ke tingkatan Court of Arbitration for Sport (CAS).
Namun jika melihat bukti-bukti yang kini mulai berseliweran di media, yang mana menunjukkan bahwa 7 pemain yang menjadi akar permasalahan memang tak memiliki darah Malaysia sepertimana yang diklaim sebelumnya, maka akan lebih bijaksana jika Malaysia cukup berhenti di sini saja.
Dengan artian, meskipun memiliki kesempatan untuk melakukan banding ke tingkatan Artbitrasi, namun untuk kali ini Malaysia terima saja sanksi dari FIFA tersebut dan tak lagi melawan.
Alasannya pun cukup kuat. Dengan bukti-bukti yang ada di lapangan, akan besar kemungkinannya Malaysia bakal kembali kalah di tingkatan CAS nanti. Itu berarti, penempuhan banding yang dilakukan oleh Malaysia, hanya akan bersifat menunda pemberlakukan sanksi yang telah ditetapkan oleh FIFA, yang mana akan kembali menjadi hukuman tetap setelah proses banding di CAS mendapatkan keputusan.
Itu artinya, proses banding Malaysia ke CAS hanya akan membuang-buang waktu dan tenaga saja, karena potensi besar penolakan banding akan tetap terjadi.
Apakah hanya sampai di sana? Tentu saja tidak. Jika Malaysia masih ngotot untuk melakukan banding ke CAS, mereka juga akan mendapatkan kerugian dalam hal nominal. Karena jika mengacu pada keterangan yang ada di laman tas-cas.org, banding ke Komite Abitrase Olah Raga tersebut harus membayar 1.000 hingga puluhan juta Swiss Franc atau setara dengan puluhan juta hingga miliaran rupiah, tergantung dengan kasus yang diangkat untuk proses banding.
Uang jaminan itu pun sifatnya non-refundable, alias tak bisa diminta kembali terlepas dari apapun keputusan yang diketok oleh CAS.
Bukan hanya itu, jika nantinya Malaysia masih naik banding ke CAS, selain kehilangan tenaga, waktu dan dana, mereka juga berpotensi untuk mendapatkan hukuman yang lebih berat ketimbang dengan yang sudah diputuskan oleh FIFA beberapa waktu lalu.
Jadi, jika melihat kondisinya yang seperti ini, lebih baik FAM legowo saja menerima sanksi yang dijatuhkan oleh FIFA ya!
Baca Juga
-
Belajar Menelaah Kejamnya Realita Dunia Kerja melalui Perpisahan CR7 dengan Timnas Portugal
-
Mindset Kelas Atas, New BIONS by BNI Sekuritas Siap Dampingi Penggunanya Sampai Menetas Tuntas
-
Nasib Bahasa Indonesia di Akar Rumput: Bersandar Enam Jam Sepekan, Tergerus Masifnya Konten Tayangan
-
Pakar Bisa Jadi Goblok? Menelaah Kebenaran Kalimat Prabowo dari Sudut Pandang Masyarakat Jawa
-
Belajar dari Pemecatan Purbaya, Jadi Abdi Pemerintah Dilarang Keras Punya Hati yang Melankolis
Artikel Terkait
-
Demi Ketajaman Timnas Indonesia, Penyerang Garang di Super League Ini Bisa Dinaturalisasi
-
Satu Per Satu Borok 7 Pemain Abal-abal Malaysia Terkuak! Imanol Machuca Terbukti Berbohong
-
FAM Bikin Karier Pemain Hancur! Rodrigo Holgado Terancam Diputus Kontrak Tanpa Dibayar
-
Begini Banget Nasib Timnas Indonesia, 5 Hari Lagi FIFA Matchday Belum Ada Lawan
-
Piala Dunia U-17: Trio Penggawa Garuda Muda Buktikan Analisa FIFA Memang Benar Adanya!
Hobi
-
Kisah Heroik HMS Ark Royal: Sang 'Lucky Ship' Penentu Kemenangan di Teater Atlantik
-
Ambisi Besar PSSI di Piala Asia 2027: 10 Pemain Naturalisasi Jadi Senjata Rahasia?
-
Membelot dari Hongkong, Adik Mitchell Baker Segera Bela Timnas Indonesia?
-
Jadwal MotoGP Qatar 2026: Balapan di Tengah Isu Perang, Tim Yamaha Mundur
-
Piala Asia 2027 Resmi Diundur, Untung atau Buntung bagi Timnas Indonesia?
Terkini
-
Mengenal Investasi dari Layar Ponsel Bersama New BIONS
-
Menggugat Empati Sineas Lewat Film Putri, Jangan Gentayangan Lagi: Menghibur atau Mengeksploitasi?
-
Fakta Unik Daun Salam: Bumbu Masakan Rumahan yang Jadi Simbol Berbagi di Pedesaan
-
489 Hektare Hutan Malang Selatan Hilang, Kini 63 Hektare Kembali Terancam
-
PIH dan Kusam Auto Hempas! 4 Pelembap Pencerah Kemasan Tube Lebih Higienis