Matthew Baker menegaskan bahwa Timnas Indonesia U-17 tidak akan merasa minder saat berhadapan dengan Brasil pada laga kedua Grup H Piala Dunia U-17 2025 di Qatar. Meski lawan mereka adalah juara empat kali turnamen dan baru saja menang telak 7-0 atas Honduras, bek muda itu percaya bahwa dalam sepak bola, segalanya bisa terjadi.
Pemain berusia 16 tahun yang memperkuat Melbourne City itu menyebut timnya sudah belajar banyak dari kekalahan 1-3 atas Zambia pada laga perdana. Ia yakin Garuda Muda bisa tampil lebih baik jika mampu bermain lebih fokus dan mengontrol jalannya pertandingan.
“Inilah sepak bola, apapun bisa terjadi. Selama kami bisa mengontrol pertandingan, saya yakin kami bisa mendapatkan hasil yang lebih baik,” kata Baker sebagaimana dilansir Antara News dari FIFA+, Rabu (5/11/2025).
Baker menyadari sepenuhnya bahwa perbedaan kualitas antara Indonesia dan Brasil cukup jauh. Brasil saat ini berada di peringkat tujuh dunia, sedangkan Indonesia masih berada di posisi ke-122. Namun, kepercayaan diri tetap menjadi kunci utama bagi tim asuhan Nova Arianto tersebut.
“Brasil adalah negara sepak bola yang besar, dan kami menyadari hal itu. Tapi kami akan mencoba untuk melawannya, karena ini sepak bola. Jadi, apapun bisa terjadi,” tegasnya.
Optimisme sang bek mencerminkan semangat Garuda Muda untuk tidak gentar menghadapi nama besar. Meskipun di atas kertas peluang Indonesia tampak kecil, semangat juang dan disiplin permainan diharapkan mampu memberikan kejutan di Doha.
Kalah di Laga Perdana, Duel Kontra Brasil Sangat Krusial
Kekalahan dari Zambia pada laga pembuka menempatkan Timnas Indonesia U-17 di posisi ketiga klasemen sementara Grup H. Dengan format baru Piala Dunia U-17 yang mengharuskan tim mengumpulkan poin maksimal agar bisa lolos ke babak 32 besar, duel melawan Brasil menjadi sangat krusial.
Brasil sendiri tampil luar biasa di laga pertama dengan kemenangan telak 7-0 atas Honduras. Mereka menunjukkan keunggulan teknis, fisik, dan mental sebagai tim unggulan. Namun bagi Indonesia, laga ini bukan hanya tentang hasil, tetapi juga soal pembuktian karakter dan keberanian di panggung dunia.
Meski lawan yang dihadapi adalah salah satu tim terbaik dunia, Timnas Indonesia U-17 berjanji untuk tetap memberikan perlawanan maksimal. Dukungan penuh dari masyarakat Indonesia diharapkan bisa menjadi energi tambahan bagi para pemain muda ini.
Secara matematis, peluang Indonesia untuk lolos ke babak gugur masih terbuka. Dengan catatan, mereka mampu meraih hasil maksimal dalam dua laga tersisa, yakni menghadapi Brasil dan Honduras. Satu kemenangan bisa membuka kembali asa untuk melaju ke babak 32 besar.
Baca Juga
-
Final ASEAN Futsal: Suoto Jamin Timnas Indonesia Tak Minder Hadapi Thailand
-
Akui Kelalaian, Fantagio dan Cha Eun Woo Minta Maaf soal Kontroversi Pajak
-
Penuh Visi, John Herdman Dorong Transformasi Sistem Pembinaan Usia Dini
-
PSSI Buka Suara soal Kasus 'Paspor Gate', Naturalisasi Pemain Tetap Sah?
-
John Herdman Dinilai Terapkan Gaya Baru untuk Timnas Indonesia
Artikel Terkait
-
Piala Dunia U-17: Pertarungan Kedua, Pendukung Skuat Garuda Jangan Terlalu Menuntut!
-
Kontra Brasil, Tak Ada Salahnya Kita Pandang Pertarungan Ini seperti Evandra Florasta
-
Lawan Brasil, Nova Arianto Minta Timnas Indonesia Bangun Determinasi Tinggi
-
Timnas Indonesia U-17 dan Label 'Kalah Terhormat' yang Layak untuk Mereka Sandang
-
Pemain Keturunan Batak Janji Mati-matian Lawan Brasil, Fokus Kontrol Pertandingan
Hobi
-
Bukan Hanya Pembalap, Tim Tech3 Juga Tentukan Nasib untuk Tahun 2027
-
Kepala Pundak Kerja Lagi, Karya Sal Priadi Jadi OST Monster Pabrik Rambut
-
Kesabaran Mulai Habis, Fabio Quartararo Tak Temukan Titik Terang di Yamaha
-
Atenx Katros Ubah Mio 2003 Jadi Motor Listrik, Tenaga Setara Motor 400 cc!
-
Marc Marquez Terpuruk, Aprilia Berpesta: Hanya Sementara atau Seterusnya?
Terkini
-
Trauma Masa Kecil dan Topeng Sosial dalam Novel Andreas Kurniawan
-
Seraut Kenangan dalam Secangkir Kopi di Kedai Tempo Doeloe Kalisat Jember
-
4 Padu Padan OOTD Outerwear ala Seonghyeon CORTIS, Buat Look Makin Chill
-
Ulasan Novel The Whisking Hour, saat Naskah Teater Menjadi Nyata
-
Mendengar Suara Korban Teror Gas Sarin Tokyo dalam Buku Underground