Racikan terbaik Nova Arianto bersama Timnas Indonesia U-17 ternyata belum cukup ampuh untuk membawa Pasukan Muda Merah Putih melaju jauh di turnamen Piala Dunia U-17.
Hanya menghasilkan 3 poin dari sekali kemenangan dan dua kali kekalahan di fase penyisihan grup, anak asuh coach Nova harus pulang lebih cepat meskipun menempati peringkat ketiga di klasemen akhir grup H.
Namun demikian, peneminaan publik terkait dengan pencapaian yang dilakukan oleh Evandra Florasta dan kolega ternyata sangatlah puas.
Berbeda dengan Patrick Kluivert yang langsung mendapatkan desakan untuk mundur pasca Timnas Indonesia senior hancur-lebur di ronde keempat babak kualifikasi Piala Dunia lalu, hingga sejauh ini bahkan nyaris tak ada suara suporter yang menginginkan Nova Arianto diberhentikan dari posisinya sebagai pelatih.
Tentu saja hal ini menimbulkan pertanyaan besar, mengapa coach Nova masih diterima oleh para pendukung setia Skuat Garuda meskipun dirinya tak mampu mengantarkan Indonesia ke fase gugur gelaran Piala Dunia U-17 di Qatar tahun ini.
Selain alasan yang cukup familiar karena coach Nova mampu menciptakan sejarah bersama Pasukan Muda Merah Putih di gelaran, alasan lain yang membuat publik menerima dengan legawa pencapaian fase grup Nova Arianto adalah karena sang pelatih sukses memberikan permainan yang menghibur di sepanjang guliran turnamen.
Memang, di dua laga melawan Zambia dan Brasil Indonesia menelan kekalahan, namun patut untuk diingat, di dua laga tersebut permainan Pasukan Garuda Muda memiliki pola dan bentuk yang jelas, tak asal buang bola seperti yang sudah-sudah.
Dengan kata lain, meskipun dalam kondisi tertekan dan mengalami kekalahan, namun pada dua pertandingan tersebut, permainan Timnas Indonesia masih terbentuk dengan jelas, termasuk bagaimana cara mereka bertahan, melakukan transisi dan bahkan menyerang balik.
Selain itu, penerimaan publik tetap besar kepada Nova Arianto karena apa yang ditunjukkan oleh Anak-Anak Garuda di turnamen kali ini ibarat kata adalah hasil jerih payah sang pelatih yang sedari awal membentuk tim.
Seperti yang telah disampaikan oleh Evandra Florasta secara langsung kepada FIFA, dua tahun lalu tim ini mulai dibentuk oleh coach Nova dan terus dipoles serta diperbaiki kekurangan yang dimiliki. Hingga pada akhirnya, terbentuk tim yang memiliki permainan cukup atraktif nan memuaskan seperti ini.
Jadi, misalpun pencapaian mereka di Piala Dunia U-17 ini dikatakan gagal, toh hal itu juga tak masalah. Karena jikapun gagal, tim ini gagal bersama dengan sosok yang membangunnya sejak awal.
Tentunya ini sangat berbeda dengan yang terjadi di Timnas Indonesia senior. Karena kemarin, kegagalan melaju ke Piala Dunia dijalani bersama Patrick Kluivert, sosok yang datang di tengah-tengah perjalanan tim, bukan dengan Shin Tae-yong yang sedari awal sudah mengerahkan segala daya dan upayanya untuk membangun tim.
Jadi, sangat wajar kiranya jika sampai saat ini tak ada suara-suara tak jelas yang menginginkan coach Nova untuk dipecat pasca Piala Dunia ini.
Pasalnya, selain karena kinerjanya sangat apik, juga karena Timnas U-17 juga misalpun dikatakan gagal, hal itu dijalaninya dengan sosok yang membangunnya sedari awal.
CEK BERITA DAN ARTIKEL LAINNYA DI GOOGLE NEWS
Baca Juga
-
Maaf Pendukung Timnas Indonesia! Kali Ini Saya Sepakat dengan Komentar Bung Towel
-
Tak Perlu Branding Berlebihan, Kualitas Herdman Terbukti Lebih Baik Ketimbang Kluivert
-
John Herdman, Timnas Indonesia, dan Formasi Laga Debutnya yang Amat Intimidatif
-
Otak-atik Skuad Timnas di FIFA Series Tanpa Gelandang Serang: Apa Siasat John Herdman?
-
John Herdman, FIFA Series 2026 dan Lini Tengah Skuat Final yang Tak Lagi Jadi Dapur Pacu Serangan
Artikel Terkait
-
Jalan Panjang Timnas Indonesia U-17 di Piala Dunia U-17 2025
-
Kiper Thailand Usung Misi Balas Dendam ke Timnas Indonesia U-23 Jelang SEA Games 2025
-
Heimir Hallgrimsson Bawa Irlandia Permalukan Portugal, Justru Jadi Petaka bagi Timnas Indonesia
-
Gaji Timur Kapadze Terungkap, Tak Sampai Separuh dari Kluivert dan Shin Tae-yong
-
FIFA Matchday Bulan November dan Ulangan Masa Kelam Persepakbolaan Indonesia Satu Dekade Lalu
Hobi
-
Max Verstappen Isyaratkan Pensiun, Regulasi F1 2026 Dinilai Rusak Esensi Balap
-
Ducati Superleggera V4 Centenario, Pertama yang Pakai Carbon Ceramic Brakes
-
Menang di F1 GP Jepang 2025, Andrea Kimi Antonelli Pecahkan Rekor Lagi
-
Drama Sprint Race MotoGP Amerika 2026: Jorge Martin Taklukkan Austin, Marquez dan Diggia Tergelincir
-
Menolak Jemawa, Marco Bezzecchi Masih Enggan Bicara Soal Gelar Juara Dunia
Terkini
-
Novel Lebih Senyap dari Bisikan, Jeritan Sunyi Seorang Ibu Pascamelahirkan
-
3 Rekomendasi HP iQOO Murah Terbaru 2026: Performa Ngebut, Harga Mulai Rp2 Jutaan
-
8 Cara Menghidupkan HP yang Mati Total Tanpa Tombol Power dan Volume
-
Fakta Hukum Mengejutkan: Mengapa Menteri Korupsi, Presiden Tetap 'Kebal Hukum'?
-
Menjadi Cantik di Mata Sendiri, Kiat Self Love di Novel Eat Drink Sleep