Sebuah tindakan kurang terpuji dipertontonkan oleh penggawa Dewa United sekaligus penyerang andalan Timnas Indonesia era Shin Tae-yong, Rafael Struick. Sepertimana diinformasikan oleh laman Suara.com (6/1/2026), pemain yang dikenal dengan nama julukan "El Klemer" tersebut melakukan aksi "gebok" kepada penyerang senior milik Bhayangkara FC, Ilija Spasojevic.
Dari laman yang sama dikabarkan, imbas perbuatannya yang tak sportif tersebut, pertarungan yang sebelumnya berjalan dengan cukup apik itu menjadi ricuh. Bukan hanya itu, karena dinilai memicu keributan kedua kubu yang tengah bertarung, Rafael Struick pun pada akhirnya mendapatkan kartu merah langsung dari wasit Efendi di menit ke-90+10 pertandingan.
Sebagai penggemar sepak bola nasional, tentu saja kita cukup kaget dengan aksi yang dilakukan oleh Struick pada pertandingan tersebut. Pasalnya, semenjak menjadi bagian dari persepakbolaan Indonesia, penyerang berusia 22 tahun tersebut dikenal sebagai pemain yang cukup kalem dan dewasa.
Bahkan, dalam berbagai momen bertarung bersama Skuat Garuda, Struick masih saja terlihat adem dan tak bereaksi berlebihan meskipun dirinya mendapatkan provokasi tingkat tinggi dari lawan yang dihadapi.
Namun semua itu berubah 180 derajat pada Senin (5/1/2026) ketika dirinya bermain melawan Bhayangkara. Tindakannya yang sangat di luar kebiasaan tersebut, membuat siapapun yang mengikuti perjalanan karier sepak bola Struick akan terperangah.
Besar kemungkinan, apa yang dilakukan oleh Struick di laga tersebut, adalah luapan dari kegundahan hatinya selama ini, yang mana angan-angannya untuk menjalani musim ideal di tanah leluhur hingga sejauh ini masih berlabel jauh panggang daripada api.
Iya, ketika memutuskan untuk menerima pinangan dari Dewa United di awal musim ini, Struick bertekad untuk menjadikan Liga Indonesia sebagai batu pijakan untuk bisa berkarier di liga yang lebih kompetitif.
Planningnya cukup sederhana, Struick bermain dengan baik di Indonesia, menjadi salah satu penampil terbaik dan memantik lirikan dari klub-klub luar negeri untuk meminangnya.
Namun sayangnya, hal itu tak terjadi. Alih-alih menjadi pemain bintang di kompetisi, Struick bahkan masih kesulitan untuk bersaing di internal klubnya sekarang. Bayangkan saja, dari 16 pertandingan yang telah dijalani oleh Dewa United, pemain sekelas dirinya baru bermain sebanyak 10 kali dengan durasi total di angka 325 menit.
Itu artinya, jika dirata-rata, Struick yang berlabel pemain Timnas Indonesia itu hanya bermain tak lebih dari 35 menit saja per pertandingan yang dijalani! Sebuah capaian yang sangat tidak ideal bukan bagi pemain yang selalu menjadi andalan di Timnas Indonesia pada era pelatih sebelumnya?
Emosi yang Memuncak karena Mendapatkan Beban Berat
Momen-momen minor seperti di atas, besar kemungkinan turut memupuk rasa gundah dan frustrasi yang kini dirasakan oleh Struick. Terlebih lagi, rasa frustrasi itu kian memuncak ketika dirinya mendapatkan beban berat untuk bisa menyelamatkan timnya di laga melawan Bhayangkara FC kemarin.
Struick yang masuk di menit ke-61 dengan menggantikan Theo Numberi, dihadapkan dengan dua hal milik Bhayangkara yang tak saling melengkapi. Di satu sisi, Bhayangkara sudah unggul 0-1 melalui gol dari Fareed Sadat, di sisi lain ketika Struick masuk, Bhayangkara juga bermain dengan 10 pemain imbas dua kartu kuning yang didapatkan oleh Wahyu Subo Seto di menit ke-51.
Sehingga, ketika pelatih Jan Olde Riekerink memasukkan Struick ke arena pertandingan, tujuannya hanya satu, yakni setidaknya mengejar ketertinggalan.
Namun sayangnya, kenyataan di lapangan mempertontonkan hal yang berbeda. Meskipun unggul dalam jumlah pemain, namun pada kenyataannya masuknya Struick ke gelanggang tak merubah hasil.
Meskipun terus menyerang, dan memiliki waktu yang cukup panjang, Struick dan para penggawa Dewa United tetap kesulitan untuk menciptakan gol penyama kedudukan. Bahkan mereka dibuat frustrasi oleh aksi-aksi para pemain lawan, termasuk apa yang dipertontonkan oleh Ilija Spasojevic di menit-menit akhir pertandingan yang membuat emosi seorang Struick terpancing hingga titik puncaknya.
CEK BERITA DAN ARTIKEL LAINNYA DI GOOGLE NEWS
Baca Juga
-
Piala Dunia 2026: Juara Bertahan Terus Bersinar, tapi Dihantui Segudang PR Besar
-
Akhiri Perjalanan Panjang di Piala Dunia, Ronaldo Penggendong Prestasi Sepak Bola Portugal
-
Piala Dunia 2026: Sukses Curi Perhatian, Vozinha Bakal Jadi The Next El-Hadji Diouf?
-
Piala Dunia 2026: Kepulangan Portugal dan Legacy Ronaldo yang Butuh Puluhan Tahun untuk Menyamai
-
Portugal vs Spanyol: Seharusnya, Beban Ronaldo Tak Seberat Pertemuan-Pertemuan Sebelumnya
Artikel Terkait
-
Statistik Rafael Struick Melempem di Dewa United, Posisi di Era Baru Timnas Indonesia Terancam?
-
De Javu di Timnas Indonesia, John Herdman Punya Satu Kesamaan dengan Patrick Kluivert
-
6 Assist, 5 Gol! John Herdman Layak Panggil Ezra Walian ke Timnas Indonesia
-
Ajax Amsterdam Dikabarkan Incar Bek Kiri Timnas Indonesia, Rekomendasi Denny Landzaat?
-
Prediksi Pelatih Lokal yang Dampingi John Herdman Sebagai Asisten Pelatih Timnas Indonesia
Hobi
-
Argentina Lolos Dramatis ke Perempat Final, Messi Raih Player of the Match
-
Bukan Cuma Kartu Pokemon, Fenomena Scalper Kini Mengancam Pernak-pernik Piala Dunia
-
Profil Reidel Toiran, Pelatih di Balik Kesuksesan Timnas Voli Indonesia
-
Kemenangan Argentina Munculkan Tuduhan 'Settingan' dalam Piala Dunia 2026
-
Kylian Mbappe Kecam Komentar Rasis Senator Paraguay usai Laga Piala Dunia
Terkini
-
Di Balik Bullying Mahasiswi Populer: Teror Bangkawarah yang Menjemput Nyawa
-
Piala Dunia 2026 Hampir Berakhir, Saatnya Cari Hiburan Lain?
-
Wajah Lembap dan Sehat! 4 Cleanser Probiotic Jaga Mikrobioma Skin Barrier
-
Nasi Goreng di Restoran Jepang? Mencicipi Chicken Tokio Goulash Zenbu
-
Kartelisasi Politik dan Urgensi Gerakan Massa Melawan Dominasi Kekuasaan