Bimo Aria Fundrika | Vicka Rumanti
Musikal Perahu Kertas: Mesin Waktu sebagai Tamparan Realita (Instagram/@menjadimanusia.id, @deelestari, @musikalperahukertas)
Vicka Rumanti

Jika membuka media sosial dalam beberapa pekan terakhir, linimasa nyaris tak luput dari potongan panggung megah dengan cahaya gemerlap. Dermaga, perahu kertas yang melayang, hingga wajah-wajah penonton dengan mata sembab namun senyum tak lepas—semuanya menjadi penanda satu hal: Musikal Perahu Kertas.

Pementasan yang diadaptasi dari novel populer karya Dewi “Dee” Lestari ini resmi dibuka akhir Januari lalu dan langsung mencuri perhatian publik. Digelar di Ciputra Artpreneur, musikal ini sukses menghidupkan kembali semesta “Radar Neptunus” milik Kugy—kali ini dalam bahasa panggung yang lebih intim dan emosional.

Masih berlayar hingga 15 Februari 2026, gelombang FOMO (Fear of Missing Out) dari netizen mulai terasa karena belum sempat mengamankan tiket.

Bukan Sekadar Cerita Cinta Biasa

Yang membuat musikal ini berbeda dari film dan novel adalah kedalaman emosinya. Aktor dan aktris menampilkan setiap emosi di setiap babak dengan detail langsung di depan mata! Bukan hanya soal cinta segitiga antara Kugy, Keenan, dan Remi, tapi juga tentang hubungan keluarga yang sangat menyentuh dan menampilkan realita keberanian untuk melepaskan.

Antusiasme ini terlihat jelas di kolom komentar akun Instagram resmi @musikalperahukertas. Bahkan, penontonnya tidak hanya dari Jakarta, tetapi dari berbagai penjuru daerah. Mereka rela menyaksikan magis panggung perahu kertas secara langsung.

Pengguna akun @leaparlin rela menempuh perjalanan jauh dari Palu. “Terima kasih semua... Saya datang dari kota Palu untuk nonton musikal Perahu Kertas,” tulisnya.

Momen-Momen yang Bikin Gagal Move On

Para penonton begitu menyoroti kuatnya akting dan vokal para pemain dalam menyampaikan pesan-pesan haru. @tata_mahesa dalam sebuah komentarnya mengungkapkan kekaguman dinamika seorang ayah dan anak.

"Part bapaknya Keenan akhirnya merestui mimpinya Keenan, hangat sekali. Btw suara bapaknya bagus banget," ungkapnya.

Tak hanya momen haru, dinamika antarkarakter juga menjadi daya tarik utama yang bikin penonton gemas sendiri dan ingin berlayar lagi bersama mereka. Seperti komentar @hi_putria yang seolah merangkum pementasan musikal ini, "Part Remi & Luhde mundur dari Keenan & Kugy, part Keenan dan bapaknya ngomong dari hati ke hati, part eko-noni gemesss bgttt jg."

Naskah yang kuat, tata lampu yang indah, serta aransemen musik yang megah, membuat siapa pun yang menonton seperti ditarik masuk ke dalam dunianya. Akun @rianachali hingga tidak bisa menahan apa yang dia rasakan saking gemasnya.

"Ya ampuuunnnn kalian nih... bisa segemeessss ini yaaa... Ayo ayo ayooooo berlayar bareng mereka yuuukkk!" serunya di balik ponsel layar genggam seusai menonton pertunjukan.

Amankan Keenan & Kugy Segera!

Melihat testimoni yang mengalir deras, tidak heran jika tiket untuk hari-hari terakhir kini semakin menipis. Musikal Perahu Kertas berhasil membuktikan bahwa cerita lama pun bisa terasa sangat baru dan berjiwa saat eksekusinya benar-benar dari hati.

Show-nya tinggal satu minggu lagi loh! Buruan amankan perahumu dan berlayar bersama mereka!