Dunia bulu tangkis nasional kembali melakukan terobosan bari lewat langkah berani PBSI yang mengambil keputusan tak biasa untuk Apriyani Rahayu dan Lanny Tria Mayasari. Di ajang China Masters 2026 level Super 100, Apri/Lanny tampil rangkap di sektor berbeda.
Turnamen yang berlangsung di Ruichang Sports Park Gym pada 10–15 Maret mendatang ini bukan sekadar kompetisi biasa. Bagi PBSI, ajang tersebut seolah menjadi panggung “eksperimen” taktik untuk menguji fleksibilitas, ketahanan fisik, dan potensi tersembunyi atletnya.
Langkah ini dinilai sebagai strategi segar dalam pembinaan prestasi sekaligus uji coba yang berani. Di tengah persaingan bulu tangkis global yang semakin cepat dan dinamis, pemain dituntut tak hanya kuat secara teknik, tetapi juga adaptif.
Main Rangkap: Bukan Asal Coba-Coba
Apri dan Lanny tak hanya tampil sebagai pasangan ganda putri, tetapi juga menjajal sektor ganda campuran. Apri akan berduet dengan Taufik Aderya, sementara Lanny dipasangkan dengan Daniel Edgar Marvino.
Menariknya, Taufik dan Daniel juga turun di nomor ganda putra. Artinya, kombinasi ini membuka peluang terjadinya pertukaran pengalaman lintas sektor, sekaligus memperkaya jam terbang atlet muda bersama senior.
Bagi Apri, yang dikenal sebagai pemain dengan pengalaman di panggung besar, bermain rangkap bisa menjadi tantangan baru untuk mengasah insting permainan. Sementara bagi Lanny, kesempatan ini memberi ruang eksplorasi gaya main yang lebih variatif.
Format rangkap memang menuntut stamina ekstra. Jadwal pertandingan bisa padat, recovery lebih singkat, dan fokus mental harus terbagi. Namun, justru di situlah nilai latihannya untuk membangun daya tahan kompetitif.
Strategi Maksimalkan Potensi Atlet
Kebijakan ini tampaknya bukan tanpa alasan. Kepala Bidang Pembinaan Prestasi, Eng Hian, menegaskan bahwa PBSI tak ingin membatasi atlet pada satu spesialisasi terlalu cepat dan mengabaikan kemungkinan berkembang di sektor berbeda.
“Tujuannya adalah kami akan memaksimalkan potensi atlet. Kami tidak mau mengotak-ngotakkan. Mungkin mereka mencapai prestasi di level tertentu yang membutuhkan spesifikasi khusus, baru nanti kami akan putuskan spesifikasinya,” ungkap Eng Hian.
Pendekatan ini sejalan dengan tren pembinaan modern, di mana atlet didorong multi-skill sebelum akhirnya difokuskan pada spesialisasi terbaik. Dengan kata lain, PBSI ingin melihat dulu “bakat alami” yang paling menonjol lewat pengalaman bertanding langsung.
Strategi ini juga membuka peluang regenerasi. Pemain muda seperti Taufik yang baru menembus Pelatnas lewat Seleknas 2025 bisa belajar langsung dari senior berpengalaman. Chemistry, komunikasi, dan mental bertanding diharapkan bisa terbentuk lebih cepat.
Dampak Positif untuk Ganda Putri dan Campuran
Bagi sektor ganda putri Indonesia, eksperimen ini memberi dua keuntungan sekaligus, yaitu memperkaya variasi taktik dan meningkatkan ketahanan fisik pemain. Pengalaman ini secara tidak langsung akan meningkatkan kecerdasan bermain saat kembali ke sektor utama.
Bermain di dua nomor berbeda memaksa atlet membaca pola permainan lawan lebih luas. Gaya main di ganda campuran tentu berbeda dengan ganda putri. Ritmenya lebih cepat, rotasi posisi lebih dinamis, dan strategi penempatan bola lebih kompleks.
Selain itu, sektor ganda campuran juga diuntungkan. Kehadiran pemain putri berpengalaman dapat menstabilkan permainan pasangan muda. Kepercayaan diri mereka pun meningkat karena didampingi sosok senior.
Risiko Tetap Ada, Tapi Terukur
Tentu saja, keputusan main rangkap bukan tanpa risiko. Cedera, kelelahan, hingga penurunan performa bisa saja terjadi jika manajemen energi tidak tepat. Namun, karena turnamen ini level Super 100, tekanan kompetisinya relatif lebih ringan dibanding Super 500 atau Super 1000. Artinya, ajang ini memang ideal dijadikan tempat eksperimen tanpa beban berlebihan.
Pendekatan bertahap seperti ini menunjukkan kalau PBSI cukup realistis. Mereka tidak langsung menerapkan strategi serupa di turnamen besar, melainkan menguji efektivitasnya terlebih dahulu. Langkah berani ini sekaligus memberi pesan kuat jika pembinaan bulu tangkis Indonesia terus berkembang. Tidak lagi terpaku pada pola lama, tetapi berani mencoba metode baru.
Di era persaingan global, inovasi adalah kunci. Negara-negara kuat seperti Jepang, China, hingga Korea Selatan juga sering bereksperimen dengan kombinasi pasangan. Kini Indonesia mulai melakukan hal serupa dengan pendekatan sistematis.
Jika eksperimen ini berhasil, bukan tidak mungkin pola main rangkap menjadi opsi reguler dalam program Pelatnas. Pada akhirnya, tujuan utamanya tetap sama, yaitu mencetak atlet yang tangguh, fleksibel, dan siap bersaing di level dunia.
Baca Juga
-
Valentine Kelabu: Mengenali Gejala Mati Rasa atau Emotional Numbness dalam Hubungan
-
Jodoh Tidak Harus Selamanya: Pelajaran di Balik Pernikahan dan Perceraian
-
PBSI Beberkan Revolusi Baru BWF: Transformasi Besar Bulu Tangkis Global
-
Fenomena Cut Off Orang Tua: Self-Love atau Batasan yang Terlambat Dibuat?
-
Apa Itu DARVO? Memahami Cara Pelaku Pelecehan Memutarbalikkan Fakta
Artikel Terkait
-
PBSI Beberkan Revolusi Baru BWF: Transformasi Besar Bulu Tangkis Global
-
BWF Ubah Format Indonesia Open Jadi 11 Hari, PBSI: Kesempatan Emas untuk Pebulu Tangkis
-
PBSI Berharap Gelar Thailand Masters 2026 Jadi Awal Kebangkitan Leo/Bagas
-
Dua Kali Kalah Beruntun di Final, PBSI Beberkan Kekurangan Raymond/Joaquin
-
Juara Thailand Masters, Fadia/Tiwi Masih Punya PR Besar dari Eng Hian
Hobi
-
Nova Arianto Sanjung Peningkatan Mental Timnas Indonesia U-17 di Laga Uji Coba Kedua
-
11 Tim Formula 1 Rilis Tampilan Baru Mobil 2026, Mana yang Paling Keren?
-
Marc Marquez Isyaratkan Pensiun dari MotoGP Tahun Depan, Akhir Sebuah Masa?
-
Pertajam Lini Depan, Timnas Indonesia Incar 2 Penyerang Keturunan Baru!
-
Latih Timnas U-17, Kurniawan Dwi Yulianto Dapat Wewenang Pilih Staf Sendiri