Kurang-lebih tiga bulan setelah diresmikan oleh PSSI sebagai nakhoda utama Timnas Indonesia senior, John Herdman akhirnya mencatatkan pertarungan perdananya di ajang resmi internasional.
Bertempat di depan para pendukung sendiri, John Herdman melakukan debut kepelatihannya bersama Pasukan Garuda di ajang FIFA Series 2026 pada Jumat (27/3/2026).
Hasil yang didapatkan pun sangat memuaskan. Melawan Saint Kitts and Nevis yang notabene bukanlah lawan yang relatif sepadan bagi anak asuhnya, John Herdman sukses mengantarkan Jay Idzes dan kolega menang empat gol tanpa balas.
Bukan perkara kemenangan telak yang saya soroti dalam pertarungan perdana John Herdman bersama Pasukan Garuda kali ini, namun saya justru tertarik dengan gaya bermain yang diusung oleh anak asuhnya di laga tersebut.
Pada pertarungan yang berlangsung di Stadion Utama Gelora Bung Karno tersebut, kemenangan telak yang diraih oleh Jay Idzes dan kolega selain tak terpisah dari perbedaan kualitas kedua kesebelasan, juga tak lepas dari gaya bermain intimidatif yang dikembangkan para penggawa Garuda di laga tersebut.
Dalam pertandingan melawan tim asal zona CONCACAF itu, Jay Idzes dan kolega yang tampil agresif, bukan hanya memberikan tekanan dari segi permainan, namun juga memberikan tekanan terhadap mental para pemain lawan.
Bagaimana tidak, ketika Pasukan Merah Putih mendapatkan penguasaan bola, mereka bukan sekadar menguasai, namun juga melakukan tindakan yang sangat intimidatif, di mana mereka mengurung total pertahanan sang lawan.
Meskipun di laga tersebut John Herdman memainkan trio bek tengah yang diisi oleh Elkan Baggott di kiri, Jay Idzes di tengah dan Rizky Ridho di kanan, namun mereka tak melulu berfokus di pertahanan.
Dalam mode menyerang, tiga pemain ini terus saja melakukan intimidasi terhadap para pemain Saint Kitts and Nevis dengan cara menganeksasi area permainan mereka.
Bukan hanya sekali atau dua kali, namun dalam setiap serangan yang dibangun oleh Anak-Anak Garuda, ketiga pemain yang seharusnya berfokus dalam menjaga pertahanan, justru terlihat berkeliaran di area permainan lawan dan melewati garis tengah lapangan.
Intimidasi-intimidasi yang dilakukan oleh para pemain belakangn Indonesia ini bahkan semakin "diperparah" dengan pergerakan pemain lain, di mana tujuh pemain outfield yang dimainkan oleh Herdman, terus saja memberikan tekanan dengan garis penyerangan yang tinggi, sehingga memaksa seluruh pemain tim lawan untuk bertahan total di sekitaran petak penalti sendiri.
Hasilnya pun cukup positif. Intimidasi garis tinggi dari para pemain Indonesia, membuat para pemain Saint Kitts and Nevis tak bisa berbuat banyak dan membuat inisiasi serangan yang mereka lakukan kerap terpatahkan di garis pertahanan tinggi yang hampir di sepanjang pertandingan diperagakan oleh para penggawa Garuda, meskipun ada satu atau dua serangan yang sempat membahayakan gawang Maarten Paes.
Secara psikologi permainan, sistem bermain intimidatif seperti yang dikembangkan oleh Timnas Indonesia di laga debut John Herdman tersebut memberikan efek yang cukup signifikan untuk menjatuhkan mental pemain lawan.
Meskipun secara matematis kedua tim memiliki jumlah pemain yang sama di lapangan, namun dengan membludaknya jumlah pemain Indonesia yang merangsek ke area pertahanan Saint Kitts and Nevis, hal tersebut menimbulkan kepanikan bagi tim lawan.
Setidaknya, mereka dituntut untuk berpikir cepat guna memberikan perlindungan bagi gawangnya, dan harus memilih akan mengawal pergerakan dari pemain Indonesia secara individual, atau berfokus pada pertahanan kolektif-kolaboratif untuk meminimalkan intimidasi para pemain Indonesia yang terus saja menyerang dengan jumlah yang terkesan lebih besar di area pertarungan mereka sendiri.
Baca Juga
-
Desa Les, Astra dan Pendidikan: Ngupapira Kearifan Lokal hingga Aksi Nyata yang Selangkah Mendahului
-
Viral! Pendaki Rinjani Bawa Sapi Hidup untuk Logistik, Publik Sebut Tindakan Ini Sudah Keterlaluan
-
Dua Sisi Kebijakan Prabowo: Antara Ambisi Ekonomi dan Matinya Perhatian pada Pendidikan
-
Bongkar Tuntas Final Piala Dunia 2026: Kenapa Tudingan Konspirasi Argentina Mengalah Itu Konyol?
-
Surat Terbuka untuk Ketua DPR: Jangankan Ngopi, ASN Guru Mau Liburan Saja Serba Salah!
Artikel Terkait
-
Kata-kata Erick Thohir Usai John Herdman Raih Kemenangan Perdana
-
John Herdman Pasang Target Gila Loloskan Timnas Indonesia ke Piala Dunia 2030
-
Peran Baru Ole Romeny Bikin Herdman Tersenyum, Taktik Timnas Indonesia Makin Variatif
-
Timnas Indonesia Langsung Dapat 'Hadiah' dari FIFA usai Bantai St Kitts, Apa Itu?
-
Analisis John Herdman: 15 Menit Pertama Lawan Bulgaria Krusial untuk Timnas Indonesia
Hobi
-
Bali United Bertekad Dominasi Laga Kandang di BRI Super League 2026/2027
-
Jakarta Mulai Bersiap, 2 Lapangan Disiapkan untuk FIFA ASEAN Cup 2026
-
Pimpin Klasemen, Jorge Martin Tak Mau Ambisi jadi Juara Dunia Lagi?
-
Indonesia Hadapi Peserta Piala Dunia 2026, Cape Verde Jadi Kandidat Kuat?
-
Erick Thohir Tegaskan Komitmen terhadap Sepak Bola Putri, Ada Buktinya?
Terkini
-
Bosan Lari Gitu-Gitu Aja? Coba 5 Spot Jogging di Jogja Ini, Suasananya Asri Banget!
-
Viral Gegara Natalius Pigai, Ini 5 Buku Tipis Wajib Baca untuk Anak Muda yang Malas Baca Buku Tebal
-
4 Rekomendasi Buku dari Hyunjin Stray Kids, Ada 'Vegetarian' hingga 'Almond'!
-
Bye Kulit Kering! 4 Hydrogel Mask Korea Panthenol Kunci Skin Barrier Kuat
-
Dampak Domino AI di Depan Mata: Panduan Cerdas Beli Gadget Sebelum Harga Makin 'Gila'