Max Verstappen mulai mempertimbangkan masa depannya di Formula 1 seiring meningkatnya kritik terhadap arah regulasi baru yang dinilai mengubah esensi balapan. Max Verstappen menyampaikan hal tersebut setelah rangkaian balapan, termasuk GP China dan GP Jepang yang kembali menyoroti kompleksitas manajemen energi dalam balapan modern.
Melansir Autosport, Verstappen secara tegas menyebut bahwa sebagian penggemar yang menikmati format balapan saat ini tidak memahami esensi racing. Ia menilai aturan baru yang akan diterapkan pada regulasi 2026 tidak benar-benar mencerminkan karakter balapan yang ia kenal.
“Ini sama sekali tidak menyenangkan. Ini seperti bermain Mario Kart. Ini bukan balapan,” ucap Max Verstappen dikutip dari Autosport, pada Senin (30/03/2026).
Ia menggambarkan bahwa pembalap kini harus lebih banyak mengatur energi dibanding benar-benar mendorong mobil secara maksimal sepanjang lap.
Verstappen juga menyoroti bahwa para pembalap seharusnya lebih dilibatkan sejak awal dalam proses penyusunan regulasi. Dalam laporan yang sama, ia mengaku sudah memberi masukan sejak sesi simulator pada 2023, namun perubahan tetap berjalan tanpa banyak penyesuaian dari sisi pembalap.
Di sisi lain, tanggapan datang dari prinsipal Mercedes, Toto Wolff, yang menilai situasi ini tidak sepenuhnya disebabkan oleh regulasi saja. Toto menyebut kondisi performa mobil masing-masing tim juga ikut memengaruhi bagaimana pembalap merasakan balapan di lintasan.
Dalam pernyataannya kepada media, Toto menggambarkan situasi yang dialami Verstappen sebagai sesuatu yang cukup berat secara teknis. Ia menilai perbedaan karakter mobil membuat tidak semua pembalap menghadapi tantangan yang sama di setiap tim.
Toto juga menilai balapan seperti di Shanghai tetap menunjukkan sisi menarik dari Formula 1. Ia menyebut duel antara Ferrari dan Mercedes menghadirkan banyak aksi salip-menyalip yang justru menjadi nilai plus bagi hiburan balapan.
Kritik terhadap regulasi 2026 juga dikaitkan dengan gaya balap Verstappen yang dikenal agresif dan selalu menyerang. Toto menilai karakter tersebut membuat Verstappen lebih sulit beradaptasi dengan konsep lift and coast yang kini menjadi bagian dari strategi balap modern.
“Lift and coast saat kualifikasi… untuk pembalap seperti Max yang terbiasa tampil full attack, itu sulit untuk diterima dan dijalani,” ungkap Toto.
Pernyataan ini menunjukkan bahwa pendekatan balap modern tidak selalu cocok dengan gaya pembalap yang mengandalkan serangan penuh.
Dalam konteks GP Jepang, karakter sirkuit Suzuka yang teknis juga ikut memperjelas pentingnya strategi manajemen energi. Kondisi ini membuat pembalap harus menyesuaikan ritme balapan, terutama dalam menjaga konsistensi performa mobil di lintasan yang panjang dan kompleks. Perdebatan soal regulasi F1 2026 pun masih terus berjalan di paddock.
CEK BERITA DAN ARTIKEL LAINNYA DI GOOGLE NEWS
Baca Juga
-
Ducati Superleggera V4 Centenario, Pertama yang Pakai Carbon Ceramic Brakes
-
Vivo Pad 6 Pro Hadir sebagai Tablet Pertama dengan Layar 4K
-
Makna Daun Palma dalam Minggu Palma, Simbol Iman dan Pengorbanan
-
Hijab Takut Berantakan Saat Naik Motor? Ini 3 Helm yang Cocok Dipakai
-
Moge Matic Rasa Manual, Honda X-ADV Bisa Oper Gigi Pakai Tombol
Artikel Terkait
Hobi
-
Ducati Superleggera V4 Centenario, Pertama yang Pakai Carbon Ceramic Brakes
-
Menang di F1 GP Jepang 2025, Andrea Kimi Antonelli Pecahkan Rekor Lagi
-
Drama Sprint Race MotoGP Amerika 2026: Jorge Martin Taklukkan Austin, Marquez dan Diggia Tergelincir
-
Menolak Jemawa, Marco Bezzecchi Masih Enggan Bicara Soal Gelar Juara Dunia
-
Tak Perlu Branding Berlebihan, Kualitas Herdman Terbukti Lebih Baik Ketimbang Kluivert
Terkini
-
Narasi Kejujuran Musisi Perempuan yang Menguatkan Lewat Karya Musik
-
Unggahan Sheila Dara untuk Ultah Vidi Aldiano Bikin Warganet Mewek
-
4 Pelembab Peptide Lokal Cegah Penuaan di Usia 25 untuk Kulit Lebih Kenyal
-
Banjir Air Mata, NCT Dream Tutup Konser TDS 4 di Seoul Bersama 66 Ribu Fans
-
Kisah Nyata Perjuangan Astronot Perempuan NASA dalam Film Spacewoman