Hayuning Ratri Hapsari | M. Fuad S.T.
Pemain Timnas Yordania, Noor Alrawabdeh saat memperkuat negaranya di laga melawan Argentina pada gelaran Piala Dunia 2026 (dok. FIFA)
M. Fuad S.T.

Seperti yang sudah kita ketahui bersama, mayoritas negara-negara yang menjadi perwakilan benua Asia di pentas Piala Dunia 2026 harus berkemas lebih cepat. Dari sembilan negara yang berangkat ke Kanada, Amerika Serikat, dan Meksiko, kini hanya tersisa dua petarung saja, Jepang dan Australia.

Sementara tujuh sisanya harus terhenti langkahnya di fase penyisihan grup. Bukan hanya tim-tim debutan seperti Yordania dan Uzbekistan, dua tim langganan turnamen Piala Dunia seperti Iran dan Korea Selatan juga harus pulang mengakhiri perjalanan dengan lebih cepat.

Ironisnya, negara-negara yang berasal dari kawasan Timur Tengah, semuanya harus undur diri dari turnamen. Padahal, secara kuantitas, kawasan ini menyumbangkan perwakilan yang paling banyak di antara kawasan-kawasan lain di tubuh konfederasi sepak bola Asia.

Sekarang, coba kita hitung bersama, dari sembilan negara yang dikirimkan oleh AFC, setidaknya ada lima negara yang berasal dari kawasan Arabia dan sekitarnya. Selain Yordania, masih ada Irak, Qatar, Arab Saudi, dan Iran yang masih bertetangga dengan mereka.

Atau jika kita hitung murni negara dari kawasan Arabia saja, maka ada empat negara yang berasal dari kawasan itu. Jika kita hitung Iran adalah negara dari kawasan lain, maka utusan AFC dari daerah ini masih berjumlah empat negara, yakni Irak, Yordania serta duo anak emas AFC, Qatar dan Arab Saudi.

Itu artinya, pada kontestasi Piala Dunia 2026 ini, subkonfederasi Asia Barat menyumbangkan wakil paling banyak yang mana mencapai 44 persen dari keseluruhan tim Benua Kuning yang berangkat. Namun, seperti yang sedikit telah saya singgung di atas, meskipun mereka menyumbangkan perwakilan yang paling banyak, seluruh tim-tim itu harus pulang cepat dari perhelatan.

Kuota Benua Asia Bisa Terancam Jika FIFA Tegas dalam Penilaian

Pulang cepatnya tujuh wakil benua Asia di pentas Piala Dunia, selain mencorengkan rasa malu bagi AFC ternyata juga bisa membuat kuota para wakil Benua Kuning di kontestasi terancam. Meskipun sampai saat ini pihak FIFA sendiri belum melakukan evaluasi penyelenggaraan turnamen karena memang belum selesai, namun saya yakin ke depannya sudah pasti mereka akan melaksanakan hal itu.

Bisa jadi, salah satu aspek yang akan menjadi bahan evaluasi dari FIFA adalah daya saing setiap tim dari tiap-tiap konfederasi. Seperti halnya yang sudah-sudah, FIFA bisa saja akan memberikan apresiasi penambahan kuota bagi konfederasi yang dinilai menghidupkan persaingan, begitu juga sebaliknya.

Asumsinya adalah, apabila FIFA masih mempertahankan format peserta di angka 48 negara, maka penambahan kuota konfederasi yang berjaya di turnamen itu akan diiringi dengan pemangkasan jumlah peserta dari konfederasi yang para wakilnya tampil buruk.

Nah, dari sini tentu sudah bisa kita tebak arahnya ke mana. Dengan jumlah kuota melimpah yang tak diiringi oleh peningkatan daya saing di turnamen, maka bisa jadi Benua Kuning ini akan menjadi sasaran pertama jika FIFA melakukan pemangkasan kuota.

Sekadar mengingatkan, pada format 48 kontestan seperti saat ini, benua Asia sendiri mendapatkan kuota delapan negara yang lolos otomatis. Selain itu, mereka juga masih berkesempatan untuk menambah satu lagi utusan melalui jalur playoff antarkonfederasi. Dan patut untuk diketahui bersama, pada penyelenggaraan kali ini, benua Asia memiliki jatah perwakilan mencapai sembilan negara karena Irak berhasil memanfaatkan jatah kelolosan Asia melalui babak playoff.

Namun jika melihat penampilan yang diperagakan oleh tim-tim Asia, terlebih negara-negara dari kawasan Arab yang semuanya harus pulang cepat dari turnamen, maka bisa jadi kebijakan FIFA ke depannya bakal berubah. Memang, mungkin saja FIFA tidak akan langsung memangkas jumlah delapan kuota yang saat ini dimiliki oleh AFC. Dalam pemikiran saya, mungkin saja nantinya FIFA akan mereduksi jumlah tim-tim dari Asia ini dengan cara tidak memberikan kesempatan mereka untuk bermain di babak playoff antar konfederasi.

Jika hal itu terjadi, maka sudah pasti jatah delapan negara yang diberikan oleh FIFA kepada AFC akan menjadi harga mati dan tak ada lagi kesempatan untuk bertambah seperti di guliran saat ini. Imbasnya adalah, babak kualifikasi Piala Dunia zona Asia yang kemarin harus berlangsung hingga lima putaran plus dua kali pertarungan di babak playoff, bakal berakhir hanya sampai di putaran keempat saja, saat sudah ada delapan negara yang menjadi pengisi slot.

Meskipun terasa sangat dirugikan, namun tentu saja kita tak bisa menyalahkan FIFA begitu saja. Karena dalam prinsipnya, daripada jatah peserta putaran final Piala Dunia diberikan kepada konfederasi berisikan tim-tim yang memiliki daya saing rendah, bukankah lebih baik slot itu mereka berikan kepada konfederasi lain yang para wakilnya mampu menorehkan prestasi yang lebih baik?

Coba saja kita bandingkan. Ketika tujuh dari sembilan negara Asia harus pulang cepat dari gelaran, para utusan dari konfederasi lain justru mayoritas melanjutkan perjalanan mereka ke fase berikutnya. Dalam catatan saya, UEFA yang mengirimkan 16 negara, 12 di antaranya berhasil lolos ke fase gugur. 

Selain itu, ada zona CONMEBOL (Amerika Selatan), yang sukses mengantarkan lima dari enam wakilnya ke 32 besar. Kemudian ada CONCACAF (Amerika Utara dan Tengah) yang mengirimkan tiga dari enam wakilnya, dan zona CAF (benua Afrika), berhasil mengirimkan sembilan negara ke fase gugur, dari sepuluh yang mereka kirimkan ke turnamen.

Jadi, sekali lagi, dalam pandangan FIFA, bukankah akan jauh lebih baik jika jatah AFC yang sedemikian banyak itu dialihkan kepada konfederasi lain yang lebih bisa menghidupkan persaingan? Daripada diberikan kepada negara-negara ampas seperti turnamen kali ini, tentu jauh lebih baik diberikan kepada negara yang membuat peta persaingan di Piala Dunia terangkat, bukan?

Dan sampai hal itu terjadi, dalam benak saya, negara-negara Arablah yang paling harus bertanggung jawab.