Pada saat saya iseng melihat Instagram, saya sempat melihat penawaran kartu Pokemon terbaru: Set Ancaman Bayangan. Akun Instagram penjual resmi kartunya, AKG Entertainment, sempat memberitahukan bahwa setiap pembeli hanya dapat membeli maksimal 5 “booster pack” (pak berisi sekitar lima kartu). Mengapa dibatasi? Ternyata, jawabannya adalah adanya sekelompok scalper dan sistemnya sengaja dibuat demikian agar setiap orang kebagian membeli kartunya.
Tetapi, apa yang ingin saya bahas sebenarnya bukan kartu Pokemon. Lebih tepatnya, saya ingin membahas adanya kartu pemain bola dan ancaman scalper di baliknya. Mengingat sekarang sedang musim Piala Dunia 2026 di benua Amerika, beragam barang bertema Pildun dijual di beragam toko.
Ada boneka maskot, boneka beruang berbaju Pildun, baju-baju tim pemain Pildun, syal, dan (yang paling penting dibahas) kartu koleksi pemain bola. Siapa yang tidak mau, misalnya, kartu Erling Haaland? Oh ya, McDonald’s pun sekarang mengiklankan set menu pemain bola gratis satu botol pemain bola dan Lego kadang menaruh iklan set piala Piala Dunia 2026 yang bisa dirakit di Youtube.
Karena sedari tadi saya membahas scalper, mungkin ada baiknya kita tahu terlebih dahulu siapa mereka.
Apa Itu Scalper? (Dan Mengapa Mereka Merugikan?)
Sebelum kita membahas scalper, ada baiknya kita menyadari bahwa pasar bergerak atas asas supply and demand alias “pembelian ditentukan oleh keberadaan barang dan keinginan konsumen”. Terkadang, orang membeli sesuatu karena dua hal: Karena barangnya langka dan berharga dan nilai sosial di balik suatu barang.
Mudahnya, bandingkan saja tas biasa-biasa saja di suatu pasar dengan tas mewah di suatu mal. Tas mewah dalam mal bersifat langka dan dapat mendongkrak nilai sosial pemiliknya seperti “Dianggap kaya oleh orang lain” atau “Demi berpakaian sepantas mungkin”.
Nah, dalam kasus perdagangan kartu seperti kartu koleksi Pokemon atau pemain bola, orang membeli kartu karena alasan yang hampir sama seperti ilustrasi beli tas yang sempat saya sebutkan. Para pembeli kartu Pokemon membeli karena ingin bermain kartu Pokemon atau mencari kartu langka yang nilainya bisa sampai jutaan rupiah jika dijual di toko kartu atau pasar digital layaknya Shopee atau Tokopedia.
Lalu, bagaimana dengan kartu pemain bola? Karena saya belum melihat adanya “pertandingan kartu pemain bola” sama seperti pertandingan kartu Pokemon, tentu kartu-kartu ini dibeli dan dikumpulkan berdasarkan kelangkaan atau minat mengoleksi kartu pemain tertentu.
Dengan semua informasi ini, pernahkah kita membayangkan apa yang terjadi jika seandainya ada sekelompok orang tiba-tiba saja memborong kartu-kartu ini lalu dijual lagi dengan harga yang jauh lebih mahal dari harga pasar? Sekelompok orang yang saya tanyakan inilah yang kita sebut dengan scalper, kerjanya mengambil tumpukan kartu sebanyak mungkin, beli dengan harga semurah mungkin, lalu jual semahal-mahalnya demi keuntungan pribadi.
Dari sini, muncul satu pertanyaan: Apa saja kerugian yang dialami orang lain dari adanya scalper? Untuk menjawab ini, kita mungkin bisa melihat protes sebagian warganet di akun AKG Entertainment mengenai kartu Pokemon.
Masih ingat dengan iklan “maksimal pembelian 5 booster pack” yang sempat saya ceritakan di awal artikel? Nah, saat saya telusuri lebih lanjut, memang ada banyak sekali keluhan mengenai stok kartu Pokemon. Ada yang mengeluhkan stok kartunya tak ada di Indomaret (Saya bahkan sampai tanya sendiri di Indomaret dekat rumah, kasirnya selalu katakan kartunya kosong), sulit ikut pertandingan kartu Pokemon karena sudah “dijarah” para scalper, dan harga yang naik di atas harga pasaran yang wajar.
Ini baru membahas kartu Pokemon, bagaimana kalau yang “dijarah” para scalper adalah barang-barang Piala Dunia yang notabene dilaksanakan empat tahun sekali, harganya berakhir naik gara-gara dijarah dan ada pula yang tak kebagian, serta berakhir menjadi limbah begitu tak laku? Piala Dunia bukan hanya untuk sekelompok orang, dan barang edisi terbatas tidak seharusnya menghasilkan limbah karena sekelompok orang serakah.
Ketika Scalper Memengaruhi Harga dan Limbah Masyarakat
Bicara fenomena scalper, saya jadi ingat dengan adanya fenomena BTS Meal McDonald’s sekitar tahun 2021. Ramai sekali di media sosial ribut-ribut warganet dengan para penggemar BTS atau ARMY karena tiga hal. Sudahlah pada masa itu sedang karantina COVID-19, antrean Mekdi mengular, ditambah ada orang-orang sengaja kumpulkan barang-barang BTS lalu dijual lagi dengan harga lebih mahal pula.
Dikutip dari situs BBC Indonesia, gegara bungkus makanan ungu edisi terbatas digasak sekelompok orang, ada tiga hal muncul di saat bersamaan: Ojek daring dapat duit, dengan pelanggaran karantina COVID-19 dan tutupnya sebagian gerai Mekdi gegara kerumunan ARMY beli bungkus BTS. Kita bahkan tidak membahas limbah yang bisa saja muncul gegara penimbunan dari para scalper.
Lebih gilanya lagi, ternyata pikiran saya mengenai limbah di balik praktik scalper betulan terjadi di tahun 2025. Dikutip dari VICE News, Mekdi Jepang sempat membuat promosi kartu Pikachu pada tahun 2025. Tentu Anda bisa tebak ke mana arahnya, bukan? Yap, banyak Happy Meal terbuang hanya demi kartu Pikachu langka.
Lalu, apa hubungannya scalper, Pokemon, dan dunia Pildun? Ganti saja semua contoh Pokemon pada artikel ini dengan “oleh-oleh Pildun”. Gegara sekelompok oknum scalper menggasak kartu pemain bola atau boneka maskot bola, tahu-tahu harga pasar jadi tak stabil. Begitu harga tak stabil, kadang barangnya berakhir menetap di rumah penimbun dan bisa jadi malah berakhir jadi limbah baru.
Sumber Referensi:
https://www.vice.com/en/article/mcdonalds-has-a-plan-to-stop-those-nasty-pokemon-card-scalpers/
https://www.bbc.com/indonesia/majalah-57423148
Baca Juga
-
Di Balik Pesona Jaguar Meksiko: Mengapa Maskot Piala Dunia 2026 Membawa Pesan Konservasi?
-
3 Rekomendasi Resto Sushi Halal di Mall Kelapa Gading, Patut Dicoba!
-
Saat Opini Media Sosial Dianggap Lebih Valid dari Sains: Selamat Datang di Era Matinya Kepakaran
-
Selat Hormuz Ditutup, Laptop Dibuka: Apakah WFH Solusi Penghematan BBM Nasional?
-
Ramadan Masa Kini: Mengapa Semakin Sepi?
Artikel Terkait
-
FIFA Disorot! Seluruh Ofisial Laga Prancis vs Maroko Berasal dari Argentina
-
Kemenangan Argentina Munculkan Tuduhan 'Settingan' dalam Piala Dunia 2026
-
Kylian Mbappe Kecam Komentar Rasis Senator Paraguay usai Laga Piala Dunia
-
Granit Xhaka Tak Takut Hadapi Lionel Messi, Swiss Siap Ukir Sejarah Kontra Argentina
-
Kasusnya Viral, Senator Paraguay Ancam Penjarakan Kylian Mbappe
Hobi
-
Profil Reidel Toiran, Pelatih di Balik Kesuksesan Timnas Voli Indonesia
-
Kemenangan Argentina Munculkan Tuduhan 'Settingan' dalam Piala Dunia 2026
-
Kylian Mbappe Kecam Komentar Rasis Senator Paraguay usai Laga Piala Dunia
-
Hossam Hassan Ngamuk Mesir Dicurangi, Ada Skenario FIFA Untuk Messi?
-
MotoGP Jerman 2026: Kembali ke Sachsenring, Marc Marquez Siap Juara Lagi?
Terkini
-
5 Cara Sat-Set Atasi Chicken Skin di Ketiak, Kuncinya Cuma Konsisten!
-
Overconsumption Core: Ketika Gen Z Mulai Kritik Budaya Belanja Berlebihan
-
Tayang 17 Juli di Netflix, Nam Joo Hyuk Bakal Buru Hantu di The East Palace
-
Menggugat Filter Dysmorphia TikTok dan Instagram yang Merampas Percaya Diri
-
Pinang Merah: Permata Tropis yang Mengubah Halaman Rumah Jadi Eksotis