Billie Adrian
Billie Adrian
Tulisan tangan Albert Einstein, rumus E=mc2 dilelang. [RR Auction/AFP]

Dunia terbagi menjadi 2 macam yaitu imajinasi dan realitas. Di dalam kedua dunia ini, kita tahu imajinasi dan realitas adalah 2 hal yang sangat berbeda. Dunia imajinasi dibuat dalam alam pikiran manusia dan manusia dapat mengatur aspek-aspek yang membangun dunia tersebut sedangkan realitas adalah dunia nyata dimana manusia hidup memiliki fisik tersendiri yang membutuhkan makanan, minuman, serta oksigen untuk tetap hidup.

Kashik Ram--seorang spesialis neuroimaging dari Universitas Sydney--pernah menjelaskan bahwa cara otak memproses informasi pada dasarnya berbeda ketika kita menerima informasi dari indera manusia dibandingkan dengan apa yang dihasilkan sendiri dalam otak manusia. Apa yang diterima otak manusia dari indera disebut informasi aferen (informasi yang berjalan menuju otak).

Sebaliknya, otak manusia dapat berimajinasi dan membayangkan sendiri tentang informasi yang sebenarnya berbeda dengan kenyataan sesungguhnya. Informasi yang dihasilkan dari proses otak membayangkan sesuatu disebut salinan efference. Hal unik terjadi ketika informasi aferen bertemu dengan salinan efference.

Pertemuan kedua informasi tersebut ternyata akan menyebabkan efek kaget pada manusia karena informasi yang sebenarnya dibayangkan di dalam otak manusia dan diduga benar ternyata tidak sama dengan kenyataan aslinya. Penjelasan sains ini yang menjelaskan bahwa imajinasi yang diproduksi di dalam otak tidak selalu sama dengan kenyataan yang ada.

Namun, jika kita lihat lihat pemahaman imajinasi dan realitas sebagai sebuah program yang sudah tertanam sejak manusia lahir maka imajinasi dan realitas sangat berpengaruh pada proses pemikiran manusia. Contohnya, seorang ilmuwan jerman pernah berkata, “Imagination is everything.”

Nama ilmuwan tersebut adalah Albert Einstein. Tidak salah jika dia berkata imajinasi adalah segalanya karena berkat imajinasi ia berhasil memenangkan hadiah nobel pada tahun 1921 dengan teori efek fotolistriknya dan menciptakan teori relativitas yang merevolusi pemikiran banyak ilmuwan pada masa itu dan masih diperdebatkan sampai sekarang.

Albert Einstein merupakan salah satu contoh manusia yang diberkati oleh daya imajinasi yang luar biasa dan pemahaman realitas bukan suatu penghalang baginya untuk melakukan sesuatu. Bahkan, tidak lama setelah kematiannya pada 18 April 1955 seorang ahli patologi berani mencuri otaknya untuk meneliti apa membedakan otaknya dengan otak manusia normal.

Walaupun masih banyak lagi cerita tokoh-tokoh yang dapat dijadikan contoh yang sukses menggunakan daya imajinasinya seperti The Wright Brothers yang berhasil membuat dan menerbangkan pesawat pertama di dunia, Thomas Alva Edison yang berhasil menemukan bohlam, Galileo Galilei yang menemukan teleskop untuk melihat keindahan antariksa dan masih banyak lagi.

Kita tahu bahwa setiap manusia terlahir dengan kapabilitas yang berbeda. Bagaimana jika seseorang yang tidak diberkati dengan daya imajinasi seperti orang-orang tersebut mencoba menembus batas realitas dan hidup dalam dunia imajinasi?

Berbeda dengan Albert Einstein yang berhasil hidup dalam dunia imajinasi sekaligus realitas dalam kehidupannya. Seneca the Younger seorang filsuf romawi yang mendalami stoisisme memiliki pendapat lain tentang imajinasi dan realitas. Seneca berkata, “We suffer more often in imagination than in reality.

Seneca berpendapat bahwa jika manusia terus-menerus tenggelam dalam imajinasi maka manusia tersebut tidak akan berkembang karena waktu untuk realitas telah terlupakan. Manusia tersebut hanya bisa menaruh waktunya terhadap imajinasinya dan melupakan dunia realitas. Itulah yang dimaksud oleh Seneca di mana ketika seseorang yang ingin masuk dalam dunia imajinasi akan lebih menderita dibandingkan menjalani dunia realitas.

Lalu, bagaimana caranya untuk menyeimbangkan antara dunia imajinasi dan dunia realitas manusia? Jawaban dari pertanyaan tersebut dapat didapatkan dengan membayangkan sebuah garis. Sebuah garis yang dapat menjadi pemisah sekaligus pencampur antara imajinasi dan realitas. Garis ini dapat dianggap sebuah garis lurus yang membentang diantara dunia imajinasi dan realitas.

Garis ini juga memiliki daerah yang berongga sehingga imajinasi dan realitas dapat masuk di dalamnya. Dengan adanya imajinasi dan realitas yang tercampur di satu daerah maka setiap kombinasi imajinasi dan realitas yang tercampur dengan tepat akan melahirkan suatu invensi. Invensi inilah yang ingin kita cari dalam kehidupan kita sebagai manusia.

Invensi ini dapat berupa segala hal. Mulai dari pemikiran, gaya hidup, komoditas yang tidak pernah terpikirkan oleh siapapun. Tetapi, tetap ingat bahwa garis ini merupakan sebuah pemisah antara imajinasi dan realitas dimana kombinasi yang tidak sesuai antara imajinasi dan realitas di dalam garis tidak akan menghasilkan invensi.

Dengan memahami garis ini dari segi pengertian, fungsi, dan syaratnya, muncul suatu kesimpulan. Kesimpulan tersebut adalah pandangan setiap manusia terhadap garis pemisah dan pencampur imajinasi dan realitas dapat muncul dalam bentuk yang berbeda-beda. Oleh karena itu, kembali lagi kepada proses manusia berimajinasi dan merealisasikan imajinasi tersebut melalui garis tersebut dan akhirnya melalui proses dan usaha serta waktu yang tepat,  garis tersebut dapat menjadi senjata bagi setiap manusia untuk mengubah dunia.

“Imagination will often carry us to worlds that never were. But without it we go nowhere” - Carl Sagan