
Covid-19 sampai sekarang ini masih menjadi perbincangan hangat di kalangan masyarakat karena dampak negatif yang ditimbulkan. Covid-19 ini merupakan salah satu virus yang sangat mematikan dan telah berdampak terhadap berbagai aspek kehidupan, seperti ekonomi, sosial dan budaya. Dengan kondisi ini membuat para pemimpin berpikir keras untuk mengatasi permasalahan tersebut. Untuk mencapai keberhasilan dalam sebuah organisasi maka seorang pemimpin harus bisa bertahan dalam perubahan lingkungan yang sedang terjadi.
Kualitas pemimpin dapat dilihat dari bagaimana cara pemimpin bertindak dalam keadaan yang genting. Dan tentu pemimpin memiliki gaya kepemimpinan yang berbeda terhadap suatu permasalahan dan kemampuannya akan dinilai berdasarkan hasil capaian yang diraih.
Menurut pandangan Gary Yukl (2013), pemimpin merupakan orang dengan tanggung jawab utama yang memegang peran kepemimpinan sebagai seorang pemimpin. sedangkan kepemimpinan merupakan suatu kemampuan yang dimiliki seseorang untuk mempengaruhi, memotivasi dan mengorganisasikan anggota dalam organisasi untuk bekerja secara efektif demi tercapainya tujuan organisasi.
Dari pengertian tersebut, kita dapat mengambil kesimpulan bahwa, sebagai seorang pemimpin haruslah bisa mempengaruhi masyarakat yang dipimpinnya, agar mau bekerja sesuai dengan yang diperintahkan guna tercapainya tujuan yang sudah ditentukan. Selain itu, seorang pemimpin juga harus memiliki jiwa yang tekun, memiliki intelektualitas, berpandangan ke depan, dan harus berani mengambil resiko, sifat-sifat inilah yang nantinya akan menjadi salah satu faktor pendorong dalam keberhasilan seseorang ketika memimpin.
Salah satu pemimpin yang memiliki cerminan dari sifat-sifat pemimpin diatas adalah Jacinda Ardern. Jacinda Ardern merupakan perdana menteri Selandia Baru yang terbukti berhasil dalam mengatasi kasus covid-19. Bahkan pada tahun 2021 ini Selandia Baru berhasil menduduki peringkat pertama sebagai negara paling berhasil dalam menangani kasus covid-19.
Jacinda Arden merupakan salah satu dari beberapa pemimpin Wanita dunia yang berhasil memperoleh banyak pujian atas pesan efektif dan tindakan tegas yang dilakukan masa pandemic covid-19. Selain tindakan tegas, Jacinda juga dikenal sebagai pemimpin yang cepat tanggap dan telah menjadi bukti bahwa pemimpin wanita mampu mengatasi permasalahan dengan baik.
Untuk mencapai keberhasilan seperti sekarang ini tentu dengan usaha yang tidak mudah, Jacinda Ardern telah berusaha untuk menangani kasus covid-19 ini sejak dini. Ia menggunakan pendekatan eliminasi dalam mengatasi covid-19 yaitu sebuah tindakan intervensi yang dilakukan di awal permasalahan.
Sebagai sebuah kebijakan, strategi eliminasi banyak menuai pro dan kontra. Kelompok yang mendukung menyatakan bahwa kebijakan ini merupakan kebijakan yang paling tepat. Sementara kelompok kontra menyatakan kebijakan tersebut membawa kerugian besar terhadap perekonomian.
Untuk meyakinkan masyarakat terkait kebijakan eliminasi ini, Jacinda Ardern menunjukan beberapa tindakan positif sebagai salah satu upaya untuk menangani kasus covid-19 ini diantaranya adalah selalu mendesak warganya untuk bersatu melawan covid-19 dan mengatakan bahwa negaranya merupakan sebuat tim yaitu tim lima juta orang. Dengan kalimat yang selalu dilontarkan tersebut, Jacinda telah berhasil memenangkan hati penduduk. Disamping itu, Jacinda juga selalu menggandeng para ilmuwan dalam mengatasi covid-19 sebelum mengambil kebijakan, misalnya dalam kebijakan penguncian secara penuh, menutup sekolah, melarang pertemuan sosial, melakukan pembatasan jalan, dan menggunakan masker.
Terdapat beberapa hal penting yang dilakukan Jacinda Ardern untuk mencapai keberhasilan dalam penerapan strategi eliminasi ini diantara seperti kontrol perbatasan yang sangat efektif, melakukan pelacakan kontak, karantina, pengujian dan pengawasan tingkat tinggi, dan penguncian untuk memadamkan penularan virus.
Kemampuan Jacinda Ardern dalam menangani pandemic covid-19 telah banyak menuai pujian dari masyarakat global, ia bahkan disebut sebagai “the Most Effective Leader on the Planet” dan disejajarkan dengan pemimpin Wanita senior lainnya seperti Angela Merkel (Jerman), Mette Frederiksen (Denmark). Apresiasi ini diberikan karena gaya kepemimpinan yang efektif, kepribadian yang selalu konsisten terhadap kebijakan yang diberikan, mampu memberikan rasa empati dalam kondisi kritis, dan kemampuannya dalam menyampaikan pesan yang jelas yang mampu memberikan rasa aman terhadap warganya.
Baca Juga
Artikel Terkait
-
Kepemimpinan yang Visioner, Arsjad Rasjid Mendorong Ekosistem Bisnis yang Inklusif
-
Miliki Kepemimpinan Visioner, Direktur Utama Brantas Abipraya Raih Penghargaan Indonesia Best CEO
-
Kepemimpinan Perempuan yang Menginspirasi: Mendorong Aksi dan Perubahan
-
Dikenal Sebagai Sosok yang Visioner, Ini Rekam Jejak Kepemimpinan Arsjad Rasjid di Kadin Indonesia
-
Efisiensi Anggaran ala Prabowo 'Korbankan' Mimpi Sarjana! Sri Mulyani Batalkan Beasiswa Kemenkeu
Kolom
-
Harga Emas Naik, Alarm Krisis Ekonomi di Depan Mata
-
Ki Hadjar Dewantara Menangis, Pendidikan yang Dulu Dibela, Kini Dijual
-
AI Ghibli: Inovasi atau Ancaman Para Animator?
-
Menelisik Kiprah Ki Hadjar Dewantara dalam Pendidikan dan Politik Indonesia
-
Penurunan Harga BBM: Strategi Pertamina atau Sekadar Pengalihan Isu?
Terkini
-
Ulasan Film Paddington in Peru: Petualangan Seru si Beruang Cokelat!
-
Ada LANY hingga Hearts2Hearts, LaLaLa Festival 2025 Umumkan Daftar Lineup
-
Review Novel 'Makhluk Bumi': Jadi Alien demi Bertahan di Dunia yang Gila
-
Ada Romcom Hingga Fantasi, 8 Drama Korea yang Tayang di Bulan April
-
Novel Larung: Kelanjutan Konflik dan Perjuangan Saman yang Kian Menegangkan