Hernawan | Supriyadi Bas
Tradisi Mblowokki (DocPribadi/Pangestu)
Supriyadi Bas

“Segercap kehidupan telah ditanamkan, dengan dukungan doa untuk menaruh sebuah harapan, harapan akan keberlangsungan kehidupan. Tak luput dari ucapan untuk melantunkan permohonan maaf, atas tindakan “menyakiti” terhadap Ibu Pertiwi, dengan tradisi ini upaya menyelaraskan diupayakan.”

Jajaran bibit padi tampak rapi dilihat dari jalan ini. Genangan air menyelimutinya dengan penuh. Ya, lima hari seusai aktivitas tandur (menanam padi) dinunaikan; peristiwa ini dapat disaksikan. Di sudut petak sawah, ibu tani tengah duduk bertimpuh di hadapan jajaran itu.

Di depannya terdapat tenggok yang berisi Jenang (makanan khas Jawa yang terbuat dari tepung beras dan tepung ketan, lalu diberi air gula Jawa), pisang raja, serta berbagai uborampe-nya. Aroma dupa menyebar mengikuti arah angin. Aroma ini membuat atmosfer area ini berbubah drastis. Bibir ibu tani itu melantunkan sebuah doa, doa yang ditujukan kepada Sang Esa.   

Secara parsial, masyarakat Jawa menyebutnya sebagai upacara Mblowokki. Upacara ini merupakan salah satu dari rentetan alur upacara-upacara lain yang terbingkai dalam upacara kehidupan padi. Menurut Ibu Kasiyati (Ibu Tani, 61 tahun), upacara dalam menanam padi hingga memanen padi (secara subyektif, disebut Upacara Kehidupan Padi), dimulai dari Ngluku; membalikan tanah, kemudian Nggaru; meratakan tanah, tandur; menanam padi; mblowokki; upacara sepasaran (lima hari) seuasai menanam padi, wiwit; upacara menjelang panen, Ani-ani; memanen padi, dan diakhiri dengan Upacara Sedekah Bumi.

Upacara Mblowokki

Upacara ini terjadi ketika padi sudah ditanam dengan usia lima hari. Dari hasil wawancara yang didapatkan, upacara ini ditujukan untuk memohon maaf kepada alam karena petani menganggap telah menyakiti alam, mulai dari saat Ngluku, Nggaru, dan berbagai aktivitas lain yang sifatnya menyakiti.

Njaluk ngapuro, Mas. Mergane uwes nglarani lemah to. Ngluku dilarani mergo diblongi awake, nggaru yo podhio-podho nglarani. Ndek ora njaluk ngapuro mengko ndak kedadeyan sek ora dipengini kambi mengko ndak tandurane elek. Sakmono ugo njaluk berkah supoyo tandurane apik, Mas.” ungkap Ibu Kasiyati Meminta maaf, Mas. "Karena, sudah menyakiti tanah (alam) kan? Ngluku menyakiti karena sudah melubangi tubuhnya (alam), Nggaru juga sama-sama menyakiti. Kalau tidak meminta maaf, takutnya nanti terjadi hal yang tidak diinginkan, serta takut nanti tanamannya (padinya) jelek. Selain itu, juga memohon untuk diberikan berkah agar tanaman padinya bagus, Mas."

Upacara ini selain sebagai wujud permintaan maaf juga sebagai sarana permohonan keberkahan dan keberkatan atas padi yang mulai ditanam. Hal ini ditujukan kepada Tuhan Yang Maha Esa, alam, serta danyang yang malenggah di sawah tersebut. Doa ini tersimbolkan melalui jenang dan pisang yang digunakan untuk persembahan beserta pelbagai uborampe-nya. Jenang ditujukan untuk Hyang Tunggal dan alam. Sedangkan pisang ditujukan kepada danyang.   

Dalam konsep kepercayaan Jawa memang meyakini bahwa di setiap tempat terdapat makhluk yang menunggu dan bertempat di situ (disebut danyang). Sehingga, akan melahirkan norma adat untuk menghormati keberadaannya. Dalam Upacara Mblowokki, jenang dan pisang raja ini diletakan di setiap sudut petak tanah, karena dalam kepercayaannya, danyang malenggah di setiap sudut sawah tersebut. Seusai diletakkan di setiap sudut, jenang dan pisang ini dimakan bersama-sama dengan petani lainnya. Aktivitas ini mereka sebut dengan nglorot. Tujuan dari nglorot ini adalah untuk diberikan keselamatan dan keberkahan atas doa-doa yang telah dilantukan.

Penyelarasan

Pertanian memang sudah mendarah daging di tanah ini, tak khayal jika iklim kehidupan agraris sudah melekat di masyarakat. Berbagai macam aktivitas sudah dilakukan ribuan tahun silam. Salah satunya adalah kepercayaan akan unsur lain di luar manusia yang sifatnya tidak nampak. Menurut Van Seten (1979:33), nagi masyarakat pendukung kebudayaan agraris, kekuatan tersebut dapat mempengaruhi hasil panen para petani. Oleh karena itulah diadakan pemujaan dengan maksud menambah hasil panen dan menjaga keselarasan hidup di dunia. Upacara Mblowoki menjadi salah satu bentuk dari wujud penyelarasan ini. Tidak hanya wujud kebahagiaan yang dirasa saat panen karena sudah diberikan padi untuk kebertahanan hidup.

Dalam proses hidupnya padi, terdapat perlakuan yang dianggap “menyakiti” bumi. Hal ini dirasa merugikan alam, sehingga permohonan maaf juga patut untuk dilantunkan. Di samping itu, terdapat danyang yang terugikan juga karena “rumahnya” dijajahi untuk keperluan pribadi manusia.

awakdewe wes diwenehi panenan sek okeh, kui disedekahke. Seko kui ono Sedekah Bumi sak banjur panen mas. Awakdewe nyukuri berkahing gusti, nanging ugo njaluk ngapuro mergo wes nglarani, kui nang mblowokki. Mosok nerimo ming pas senenging panen tok, ndek ora ilok, Mas," Lanjut Ibu Kasiyati. (Kita sudah diberikan hasil panen yang banyak, dari berkah itu lalu disedekahkan. Dari hal tersebut, ada Upacara Sedekah Bumi setelah panen, Mas. Kita mensyukuri berkah dari Tuhan Yang Maha Esa, tetapi juga meminta maaf karena sudah menyakiti (tanah/alam), itu ada pada Mblowokki. Masa menerima hanya pada saat senangnya panen saja, itu tidak baik, Mas)

Upacara Mblowokki menjadi ekspresi kerendahan atas pemberian, menjadi wujud penyelarasan atas keberkahan. Tidak hanya sekedar merayakan hasil panen, melainkan mengungkapkan kesalahannya karena perlakuan yang “menyakiti” untuk keperluan kehidupan petani. 

Telaah

Upacara Mblowokki dapat dijadikan cermin untuk kita dalam hal penyelarasan. Manusia diberikan berbagai macam anugerah atas hidupnya, namun juga diberi keserakahan. Seringkali kita lupa bahwa kita hidup dengan topangan unsur lain, seperti oksigen, air, matahari, dan lain sebagainya. Acapkali kita menikmatinya, tetapi lupa untuk mensyukurinya. Acapkali kita menggunakannya, tetapi lupa tak mengucapkan terimakasih atas keberkahan itu. Bahkan mengucapkan terimakasih, mengucapkan permohonan maaf atas kerepotan unsur-unsur itupun seringkali lupa, bahkan tidak.

Kita dihadirkan pohon yang memberikan oksigen, yang tentu saja untuk menopang hidup kita. Pohon yang memberikan dukungan penyaringan air untuk menopang kita hidup, memberikan kerimbunan untuk melindungi dari teriknya matahari. Pohon yang nampak, serta dampak yang berangsur-angsur kita nikmati saja, sebagian dari kita (manusia) memperlakukannya semacam tidak ada keberadaannya. Belum lagi saat kita menggunakan pohon untuk keperluan pribadi. Sudahkah memohon maaf karena telah membunuh makhluk lain? Sudahkah beterimakasih atas pemberian kayu dari pohon? Tentu hal ini ironi dengan peristiwa Mblowokki.

Sebagian dari kita sangat mementingkan keperluan pribadi, namun mengorbankan kehidupan dari unsur lain tanpa berucap sedikitpun, seperti mantan saja. Sedangkan, banyak peristiwa banjir karena tidak adanya resapan (dimana itu tugas pohon), longsor karena tidak terikat oleh akar-akar pohon (tugas pohon), namun kita mengeluhkannya. Secara subyektif, banjir dan tanah longsor tersebut merupakan penyelarasan oleh alam dan dari alam.

Patut untuk disadari bahwa manusia harus menyelaraskan diri terhadap unsur lain, sebagai wujud ikatan karena saban hari kita berinteraksi dengan unsur tersebut. Penyelarasan ini terdapat dalam Mblowokki, dan kita dapat menarik makna dari dalamnya. Masih sangat harus belajar untuk kita, masih banyak harus belajar untuk menghargai unsur lain. Semoga semua makhluk berbahagia. Amin!