Sebagai seorang anak memang dunianya tentu bermain, hal yang tak mungkin dipikirkan sang orang tua, justru bisa dilakukan oleh anaknya. Kebiasaan membongkar barang sana-sini, hal lumrah yang dilakukan oleh seorang anak.
Mungkin kadang kita berpikir, "kok anak tidak capek bermain, dan tingkahnya pun kadang amburadul. Apakah mereka tidak pegal betisnya ke sana sini bolak-balik?" Yah, kalau menurut logika kita, tentu mereka akan capek.
Perilaku anak seperti itu kadang membuat orang tua memberikan batasan kepada anak untuk melakukan apa yang dimau anak. Walaupun, tujuan orang tua melarang anaknya bertingkah seperti itu demi menghindari anak bisa celaka, ataupun berpotensi bisa merusak barang-barang berharga.
Dalam anggapan saya, kondisi seperti itu tentu memberikan batasan kepada anak untuk berekspresi dan melakukan hal-hal baru baginya, ia akan bakalan sulit mengenali benda-benda yang ada di sekitarnya.
Memang tidak bisa dipungkiri, ketika anak melakukan seperti itu bisa saja anak akan merusak barang-barang, seperti halnya yang rentang terjadi piring ataupun alat rumah tangga yang lain.
Agak terlalu fatal juga ketika anak selalu dikurung, tidak diberikan kebebasan bermain dan berekspresi. Problem itu mungkin banyak terjadi dalam lingkungan keluarga yang ada di Indonesia ini, termasuk kepada sepupu saya.
Pada kondisinya, sepupu saya yang baru bisa berjalan dan belum tahu ditegur, selalu diberikan batasan orang tuanya untuk bebas bermain dan berekspresi.
Batasan biasa diperlakukan dengan menempatkan sang anak di tempat yang tidak terlalu luas, alhasil tidak kebebasan bagi si anak untuk pergi sana-sini di dalam lingkungan rumah terjadi, serta sangat dibatasi untuk memegang alat-alat rumah tangga.
Problem ini menurut saya tentu bisa membatasi hak anak untuk berekspresi dan mempelajari setiap benda yang dipegangnya.
Padahal, masa pertumbuhan anak sangat dipengaruhi sejak masih kecil, ketika selalu berada dalam bayangan terbatasi, maka selamanya akan merasakan seperti demikian. Padahal, dunia anak adalah dunia bermain, dunia yang butuh kebebasan untuk belajar dan mengenal lingkungannya secara perlahan.
Makanya sangat penting pengetahuan untuk orang tua dalam mendidik anak, memang tidak salah argumen yang mengatakan bahwa sekolah pertama bagi anak ada di lingkungan keluarga. Orang tua mesti mengetahui karakter anak dengan baik, perlakuan dan pengajaran kepada anak bisa saja selalu berubah sesuai dengan perkembangan si anak.
Dengan begitu, pertumbuhan anak juga akan lebih cepat mengenal kondisi di sekitarnya. Anak yang diberikan kebebasan sejak dini nantinya juga akan sadar, dan lebih mengetahui banyak hal, serta bakalan dapat memilih mana yang baik untuk dilakukan dengan bekal sifat dan perilakunya.
Baca Juga
-
Sampah dan Dosa Kecil yang Dianggap Biasa
-
Dompet Tak Berbunyi, Saldo Diam-Diam Mati: Dilema Hidup Serba Digital
-
Niat Jahat yang Tidak Sampai: Ketika Hukum Tidak Selalu Perlu Ikut Panik
-
Uang Tidak Bisa Membeli Kebahagiaan Adalah Kebohongan Terbesar yang Kita Percaya
-
Menonton Sirkus Kemiskinan: Sisi Gelap Konten Sedekah di Media Sosial
Artikel Terkait
-
Lupa Transfer Uang Bulanan, Armand Maulana Langsung Ditodong Anak: Sekalian Transfer THR
-
Insiden Anak Tabrak Ibunya hingga Tewas di Mojokerto, Polisi Tempuh Restorative Justice
-
Pernikahan Anak Wali Kota Makassar Dihadiri Banyak Pejabat, Mulai Anies Baswedan Hingga Ganjar Pranowo
-
Siti Badriah Bongkar CCTV Kamar, Aksi Suaminya Bikin Heboh
-
5 Artis Rayakan Lebaran Pertama sebagai Orang Tua, Penuh Kebahagiaan
Kolom
-
Membongkar Borok Kerja Kelompok yang Cuma Bikin Jinak Si Pemalas
-
Pertemanan di Era Media Sosial: Dekat Secara Online, Jauh di Dunia Nyata
-
Hustle Culture vs Slow Living: In This Economy, Mana yang Lebih Realistis?
-
Sihir Nobar: Saat Orang Asing Menjadi Kawan Hanya Karena Satu Gol
-
Messi, Haaland, dan Mbappe: Siapa Layak Raih Sepatu Emas Piala Dunia 2026?
Terkini
-
Budget Cuma Rp30 Ribuan? Ini 4 Sunscreen Cica Murah untuk Kulit Berjerawat
-
Harry Kane CS Harus Waspada, RD Kongo Punya Ambisi Lolos Babak 16 Besar
-
About 7 Memories: Sebuah Potret Persaudaraan Toksik yang Menghancurkan Jiwa
-
Bisakah Komedi Menggantikan Buku Sejarah? Ini Pendapat Saya Setelah Menonton Serial Larry David
-
Takluk dari Meksiko, Ekuador Gagal Ulang Sejarah Indah 20 Tahun Silam