Banyak hal dalam kehidupan ini yang menjadi obyek perbandingan, termasuk dalam hal pencapaian. Terutama pencapaian yang berhubungan dengan kesejahteraan. Apalagi jika memiliki pekerjaan dengan nilai pendapatan yang sama.
Ada Hendi yang setelah lima tahun bekerja sudah bisa memiliki rumah, mobil dan juga beberapa petak tanah untuk investasi serta sejumlah tabungan. Di lain pihak, ada Wildan kawan seangkatan Hendi yang bergaji sama besar dengan Hendi namun masih mengontrak rumah, memiliki motor dan hanya sedikit uang simpanan.
Apa yang sebenarnya terjadi? Bagaimana pendapatan yang sama bisa menghasilkan situasi yang demikian berbeda? Pikiran pendek biasanya akan dengan mudah memberikan analisa bahwa Wildan tak becus mengelola uang. Bahwa Wildan tak berpikir jauh ke depan seperti Hendi yang sudah memiliki banyak asset dan investasi.
Kamu bisa saja menuding kalau Wildan pasti boros dan tak punya perencanaan matang dengan masa depannya. Hendi adalah contoh pemuda yang cermat dan cerdas. Kamu mungkin segera memberi nilai A untuk Hendi dan nilai D untuk Wildan.
Namun, mari coba kita tengok satu persatu.
Aku perkenalkan kamu kepada Hendi. Anak bungsu dari keluarga mampu. Sampai Hendi bekerja pun, orang tuanya masih rutin memberi uang saku karena mereka bisa. Uang saku yang lebih dari cukup untuk membiayai hidup bahkan sedikit bersenang-senang. Otomatis, gaji Hendi tak terpakai sehingga dapat dipergunakan untuk membeli barang yang diinginkan, termasuk rumah, mobil, tanah bahkan saham.
Sekarang, mari kita menemui Wildan. Anak pertama dari keluarga sederhana yang mungkin terbilang kurang. Ada tiga orang adik yang harus dibantu biaya setiap bulan, karena penghasilan ayahnya tidak mencukupi kebutuhan yang makin membesar seiring pertambahan usia adik-adik Wildan.
Wildan juga masih membantu biaya hidup neneknya yang sudah tua. Pendek kata, Wildan adalah generasi sandwich dengan segala masalahnya. Terbayang kan, bagaimana repotnya cara Wildan mengatur pengeluarannya setiap bulan? Jangankan menabung, sudah cukup saja sudah syukur.
Setelah mengetahui fakta di atas, kamu pasti tak akan berpikir bahwa Hendi lebih hemat dibanding Wildan bukan? Begitulah kehidupan dan orang-orang yang kita temui, sering menampilkan sesuatu yang terlihat seakan jelas di permukaan, tetapi sesungguhnya ada kisah panjang di baliknya. Jadi, lain kali kamu melihat kondisi seseorang, cobalah untuk tak serta-merta menghakimi apalagi melabeli. Ingatlah, setiap orang punya ceritanya masing-masing. Siapalah kita berani menilai tanpa diminta.
Baca Juga
-
3 Kesalahan saat Mengenakan Pakaian Baru di Tempat Kerja
-
3 Kebiasaan Buruk yang Membuat Meja Kerja Kamu Sering Berantakan
-
5 Tips Mengubah Hobi Membuat Buket Bunga Jadi Uang, Berani Coba?
-
3 Ide Hadiah untuk Seorang Backpacker, Pilih yang Praktis!
-
3 Macam Celebrity Worship, Jangan sampai Kebablasan Memuja!
Artikel Terkait
Kolom
-
Menguliti Narasi 'Kuliah Itu Scam': Apa Gelar Masih Menjadi Senjata Utama?
-
Belajar Bahasa Asing Itu Bukan Cuma soal Grammar, tapi soal Rasa
-
Kawasan Tanpa Rokok, Tapi Mengapa Asap Masih Bebas Berkeliaran?
-
Merayakan Small Wins: Strategi Bertahan atau Justru Menidurkan Ambisi?
-
Kepercayaan Publik yang Kian Menjauh dari Pemerintahan
Terkini
-
Tragedi Berdarah di Balik Kelamnya Janur Ireng: Sewu Dino The Prequel
-
5 Ide Outfit ala Bailey Sok ADP, Bikin Penampilanmu Jadi Pusat Perhatian!
-
Mesin Diam, Pelajaran Tak Pernah Usai
-
Menanti Debut John Herdman, Timnas Indonesia Bakal Kembali ke Masa Emas?
-
5 Drama China Tayang Januari 2026 yang Wajib Masuk Watchlist!